Kamis, Oktober 22, 2020

Ojek Unicorn

Jokowi dan Ilusi Jalan Tol

Ada yang absurd dari negeri ini, dan terus berulang dari tahun ke tahun: pemerintah berjanji memperbaiki infrastruktur transportasi menjelang Idul Fitri dan berharap para...

Beyonce dan Kemiskinan

Mata orang seluruh dunia akan tertuju ke Central Park, New York, pekan depan, ketika sejumlah pesohor seperti Beyonce, One Direction, Pearl Jam, dan Coldplay manggung....

Dagelan Freeport

Sebuah pagi, lima tahun lalu. Kapal yang saya tumpangi bersandar di Pelabuhan Amamapare, Papua. Ini pelabuhan kecil pada sebuah selat dengan air laut yang...

Saat Jokowi Makin Pro Investasi dan Anti Rakyat

Di samping pembangunan infrastruktur fisik, Pemerintahan Jokowi nampak benar terobsesi menggenjot investasi, baik domestik maupun asing. Pemerintahan ini percaya bahwa kedua hal itu akan mendorong...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Gambar di bawah ini banyak beredar di media sosial (saya berterima kasih kepada rekan Paksi Dewandaru yang bikin).

Pesan gambar itu jelas: memprotes kecenderungan instansi pemerintah yang cenderung cuma peduli pada sopir/tukang ojek online di musim corona.

Dampak ekonomi corona dirasakan oleh semua sektor informal. Tapi mengapa cuma ojol yang diperhatikan? Mengapa pekerja lain di sektor informal lupa dipedulikan?

Menurutku, naiknya pamor tukang ojek online tak lepas dari promosi besar-besaran unicorn (Grab, Uber, Gojek) yang merekrut mereka. Itu mencerminkan cerita sukses sebuah promosi dan iklan (baca: propaganda).

Sebelum ada unicorn/decacorn, para tukang ojek pangkalan dipandang sebelah mata. Profesi ini cenderung dilecehkan, meski mempekerjakan banyak orang yang tidak cukup beruntung bisa bekerja di sektor formal.

Dulu tukang ojek dinilai dekil, jasa transportasinya dianggap tidak aman dan tidak nyaman. Unicorn/decacorn mengubah persepsi: tukang ojek online adalah profesi keren. Mereka punya seragam yang bikin gagah dan tidak nampak dekil; setia melayani, aman dan nyaman.

Tak hanya kelas menengah belakangan tidak segan naik ojek. Bahkan banyak dari mereka juga bergabung jadi tukang ojek online, untuk menambah pengasilan sampingan.

Persepsi yang berubah itu telah meningkatkan “demand” terhadap layanan ojek online. Pada saat yang sama memperluas potensi “supply”: pekerja kantoran dan sarjana pengangguran pun tak malu masuk ke sektor informal ini, yang tadinya hanya diisi oleh pengojek pangkalan.

Lonjakan kredit mobil/motor dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan antusiasme besar orang untuk masuk ke sektor informal yang tadinya dianggap kumuh ini.

Persaingan makin ketat di sektor informal itu. Di banyak kota konflik terjadi antara ojek pangkalan yang sudah lebih dulu ada dengan ojek keren unicorn. Dan kita tahu, dalam banyak kasus, ojek unicorn lah yang menang.

Kehadiran ojek unicorn memberikan kesan semu tentang “penyerapan tenaga kerja”; citra semu yang dipromosikan tak kurang oleh Presiden Jokowi sejak awal kemunculnnya dan antara lain berjasa mengantar Nadiem Makarim duduk di kursi menteri pendidikan.

Tukang ojek online bukanlah karyawan unicorn. Mereka bekerja dengan sumberdaya sendiri: motor, tenaga, waktu dan kesehatan tubuhnya.

Tukang ojek online pada dasarnya mempekerjakan diri-sendiri. Mereka hanya bisa mendapat uang jika turun ke jalanan. Tapi, bagaimana jika mereka sakit?

Wabah corona membuka kenyataan pahit itu: unicorn/decacorn Grab dan Gojek, yang valuasi usahanya ratusan trilyun itu, tidak bertanggungjawab atas nasib “mitra” yang tidak bisa bekerja akibat sakit atau surutnya ekonomi akibat karantina.

Tukang ojek unicorn diberi citra formal dengan seragam keren, tapi mereka sejatinya tetap bekerja di sektor informal yang mengandalkan diri sendiri.

Mereka tidak beda dari pedagang kaki lima, tukang tambal ban, atau pedagang kopi keliling, meski perusahaan yang mereka hidupi punya valuasi ratusan trilyun rupiah.

Sebagian dari uang trilyunan rupiah dipakai untuk promosi mengubah persepsi tentang tukang ojek, tapi nasib mereka tidak pernah benar-benar berubah.

Kasihan, sih, mereka. Korban fatamorgana menjadi bagian keren usaha unicorn. Tapi, ada banyak pekerja lain sektor informal yang juga lebih kasihan. Tak layak untuk didiskriminasi.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Vaksin Demi Kesehatan Rakyat

Pemerintah berjuang penuh demi kesehatan rakyat. Keseriusan untuk menemukan vaksin Covid-19 adalah langkah yang sangat tepat. Karena vaksin merupakan solusi yang menjadi harapan rakyat...

Wabah, Membela Eksistensi Tuhan di Hadapan Ateisme (Habis)

Covid-19 Sebagai Fakta Kehidupan  Terlepas dari apakah Covid-19 adalah akibat dari ulah manusia, dan karena itu sebagai bagian dari kehendak bebas manusia, penderitaan kita hari ini pada...

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.