Senin, Januari 18, 2021

Ojek Unicorn

Miangas

Meski usinya telah 78 tahun, Samuel Namere masih sehat. Masih kuat pula ingatannya akan sejarah Miangas, pulau tempat dia lahir dan kini masih ditinggalinya. “Saya senang,...

Hagia Sophia Menjadi Masjid atau Pembangunan Kembali Bait al-Hikmah?

Jika saya disuruh memilih antara dua hal; mana peradaban masa lalu yang kita butuhkan untuk hadir bagi dunia Islam masa sekarang, antara alih status...

Revolusi Mental

Ada tanda-tanda Revolusi Mental, salah satu janji kampanye terpenting Jokowi, akan gagal menghadapi ujian krisis yang di depan mata. Waktu satu tahun mungkin terlalu pendek...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Gambar di bawah ini banyak beredar di media sosial (saya berterima kasih kepada rekan Paksi Dewandaru yang bikin).

Pesan gambar itu jelas: memprotes kecenderungan instansi pemerintah yang cenderung cuma peduli pada sopir/tukang ojek online di musim corona.

Dampak ekonomi corona dirasakan oleh semua sektor informal. Tapi mengapa cuma ojol yang diperhatikan? Mengapa pekerja lain di sektor informal lupa dipedulikan?

Menurutku, naiknya pamor tukang ojek online tak lepas dari promosi besar-besaran unicorn (Grab, Uber, Gojek) yang merekrut mereka. Itu mencerminkan cerita sukses sebuah promosi dan iklan (baca: propaganda).

Sebelum ada unicorn/decacorn, para tukang ojek pangkalan dipandang sebelah mata. Profesi ini cenderung dilecehkan, meski mempekerjakan banyak orang yang tidak cukup beruntung bisa bekerja di sektor formal.

Dulu tukang ojek dinilai dekil, jasa transportasinya dianggap tidak aman dan tidak nyaman. Unicorn/decacorn mengubah persepsi: tukang ojek online adalah profesi keren. Mereka punya seragam yang bikin gagah dan tidak nampak dekil; setia melayani, aman dan nyaman.

Tak hanya kelas menengah belakangan tidak segan naik ojek. Bahkan banyak dari mereka juga bergabung jadi tukang ojek online, untuk menambah pengasilan sampingan.

Persepsi yang berubah itu telah meningkatkan “demand” terhadap layanan ojek online. Pada saat yang sama memperluas potensi “supply”: pekerja kantoran dan sarjana pengangguran pun tak malu masuk ke sektor informal ini, yang tadinya hanya diisi oleh pengojek pangkalan.

Lonjakan kredit mobil/motor dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan antusiasme besar orang untuk masuk ke sektor informal yang tadinya dianggap kumuh ini.

Persaingan makin ketat di sektor informal itu. Di banyak kota konflik terjadi antara ojek pangkalan yang sudah lebih dulu ada dengan ojek keren unicorn. Dan kita tahu, dalam banyak kasus, ojek unicorn lah yang menang.

Kehadiran ojek unicorn memberikan kesan semu tentang “penyerapan tenaga kerja”; citra semu yang dipromosikan tak kurang oleh Presiden Jokowi sejak awal kemunculnnya dan antara lain berjasa mengantar Nadiem Makarim duduk di kursi menteri pendidikan.

Tukang ojek online bukanlah karyawan unicorn. Mereka bekerja dengan sumberdaya sendiri: motor, tenaga, waktu dan kesehatan tubuhnya.

Tukang ojek online pada dasarnya mempekerjakan diri-sendiri. Mereka hanya bisa mendapat uang jika turun ke jalanan. Tapi, bagaimana jika mereka sakit?

Wabah corona membuka kenyataan pahit itu: unicorn/decacorn Grab dan Gojek, yang valuasi usahanya ratusan trilyun itu, tidak bertanggungjawab atas nasib “mitra” yang tidak bisa bekerja akibat sakit atau surutnya ekonomi akibat karantina.

Tukang ojek unicorn diberi citra formal dengan seragam keren, tapi mereka sejatinya tetap bekerja di sektor informal yang mengandalkan diri sendiri.

Mereka tidak beda dari pedagang kaki lima, tukang tambal ban, atau pedagang kopi keliling, meski perusahaan yang mereka hidupi punya valuasi ratusan trilyun rupiah.

Sebagian dari uang trilyunan rupiah dipakai untuk promosi mengubah persepsi tentang tukang ojek, tapi nasib mereka tidak pernah benar-benar berubah.

Kasihan, sih, mereka. Korban fatamorgana menjadi bagian keren usaha unicorn. Tapi, ada banyak pekerja lain sektor informal yang juga lebih kasihan. Tak layak untuk didiskriminasi.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.