Jumat, Desember 4, 2020

Modal Asing, Jokowi, dan Kolesterol

Dua Derajat Celcius

Mengunjungi pulau-pulau kecil Indonesia selalu menyenangkan. Air lautnya masih jernih. Terumbu karangnya relatif terjaga. Dan, udaranya bersih. Berkunjung ke Pulau Natuna, Kepulauan Riau, pekan lalu, saya berharap...

Ojek Unicorn

Gambar di bawah ini banyak beredar di media sosial (saya berterima kasih kepada rekan Paksi Dewandaru yang bikin). Pesan gambar itu jelas: memprotes kecenderungan instansi...

Mari Kembali ke Zaman Batu

Di Amerika dan Eropa, orang kembali mempertanyakan apa yang disebut modern dan maju. Mempertanyakan dampak industrialisasi dan kemajuan ekonomi pada kehidupan sehari-hari, dari gaya...

Taman Nasional: Ada Tuhan di Pepohonan

Burung pekaka emas, dengan bulu biru mengkilat di punggungnya, bertengger di dahan kering pinggir sungai lebar itu. Beberapa monyet ekor panjang bercengkrama di dekat...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Tubuh membutuhkan kolesterol. Tanpa lemak ini kita bisa kehilangan gairah seks, misalnya, karena rendahnya hormon kelamin. Kolesterol juga memelihara keseimbangan kimiawi dalam tubuh, serta merangsang pertumbuhan jaringan otak dan saraf. Sudah lama para ekonom mengibaratkan investasi atau modal asing sebagai kolesterol. Sebuah negara membutuhkan modal asing untuk menumbuhkan ekonomi, membesarkan kue, yang kemudian (diharapkan) bisa menyejahterakan seluruh rakyatnya.

Pandangan lazim seperti itulah yang tampaknya lekat dalam pikiran pemerintahan Joko Widodo kini. Dalam hitungan pekan, baik presiden maupun para menteri sibuk menjajakan Indonesia kepada investor asing melalui berbagai forum. Pemerintah menjanjikan kemudahan berinvestasi.

“Indonesia membutuhkan modal asing untuk membangun infrastruktur,” kata Presiden. Pembangunan pelabuhan dan industri kapal untuk mendukung sektor maritim yang menjadi tonggak besar ambisi Pemerintahan Jokowi, misalnya, membutuhkan ratusan triliun rupiah.

Seperti gayung bersambut, para investor Jepang, China dan Korea Selatan menyambut baik undangan presiden. Bahkan, kalangan bisnis Amerika Serikat, yang investasinya di Indonesia melemah, diberitakan kembali tertarik untuk menanam modal ke Indonesia.

Modal asing adalah isu yang peka terutama di kalangan kaum nasionalis. Tapi, Presiden Jokowi menjanjikan, investasi asing itu tidak akan merobohkan kedaulatan negeri dan justru mempercepat laju pertumbuhkan ekonomi yang mensejahterakan rakyat.

Tekad seperti itu tidak baru. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjanjikan hal serupa di awal pemerintahannya: pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, disertai pemerataan pendapatan. Pemerintah percaya modal asing tak cuma mendatangkan uang, tapi juga membuka lapangan kerja, memicu alih teknologi, dan meningkatkan profesionalisme serta keterampilan manajemen.

Semasa Yudhoyono, modal asing dalam bentuk investasi langsung (foreign direct investment) mengalami lonjakan hebat. Tak cuma mencapai level seperti pada akhir era Soeharto, tapi bahkan membukukan rekor baru.

Tapi, kita tahu, pertumbuhan ekonomi itu tidak mendorong pemerataan, justru sebaliknya. Indeks Gini, salah satu ukuran ketimpangan pendapatan, menunjukkan lonjakan besar pula, tertinggi dalam sejarah. Ekonomi kita makin timpang, suatu hal yang rawan secara sosial dan politik.

Kita juga menyaksikan kerusakan hutan yang parah akibat investasi perkebunan sawit dan penambangan, dibarengi konflik sosial tinggi akibat perebutan lahan. Pada saat yang sama nasib petani dan nelayan makin parah, melemahkan sektor pertanian dan kelautan secara sistemik. Berbagai indikator sosial-ekonomi menunjukkan kita masih tetap setara dengan banyak negeri Afrika yang kita ejek.

Menjanjikan pertumbuhan ekonomi sekaligus kesejahteraan dan keadilan sosial tak semudah dikatakan.

Lebih dari itu, meski dibutuhkan, investasi asing juga bersifat racun. Seperti serangan jantung dan stroke akibat kelebihan kolesterol, investasi asing juga bisa membunuh sebuah negeri.

Sebuah studi oleh ekonom Ricardo Hausmann dan Eduardo Fernández-Arias di Amerika Latin menunjukkan, investasi asing lebih besar mengalir justru ke negara yang lembek secara hukum, institusi keuangannya lemah, birokrasinya buruk dan korup. Berkebalikan dengan pandangan lazim, tingginya daya tarik untuk investasi asing justru menunjukkan kelemahan, bukan kekuatan sebuah negeri.

Sebagian besar investasi asing di Indonesia ada di sektor pertambangan, pertanian, dan perkebunan, serta barang konsumsi. Sumber daya alam murah serta “kelas menengah baru” yang potensial menjadi pasar menjadikan Indonesia surga investasi.

Investasi dalam perkebunan sawit, yang merusak hutan, melonjak drastis setelah pemerintah membolehkan kepemilikan perkebunan hingga hampir separuh. Liberalisasi ritel telah mendorong ekspansi agresif hingga pedesaan. Gerai pasar modern di Indonesia mengusai hampir 40 persen (India cuma 4 persen). Meski industri otomotif mulai mengekspor, sebagian besar produk (80 persen) tetap mengarah pada pasar domestik. Alih teknologi otomotif tak terjadi.

Pengalaman Amerika Latin menunjukkan keuntungan yang didapat perusahaan multinasional hampir sama besar dengan arus investasi yang masuk. Artinya modal asing tak membuat negeri bisa mandiri dan berkelit dari kutukan defisit perdagangan.

Seperti kolesterol, investasi asing bisa menjadi alat yang berguna, tapi itu bukanlah fondasi tempat ekonomi sebuah negara bisa disandarkan. Yudhoyono gagal memahami itu. Mudah-mudahan Jokowi tidak.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.