Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Miskin Energi

Rumah Pantai

Desa Pulau Tiga di Natuna, Kepulauan Riau, bukan desa yang terlalu istimewa. Namun, saya senang mengunjunginya. Desa itu berada di pinggir pantai sebuah selat. Dari...

Bung Hatta Menangis

Ada Jaya Suprana, ahli kelirumologi dari Museum Rekor Indonesia; Menteri Koperasi Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga; dan pakar pemasaran Hermawan Kartajaya. Tapi, yang terutama,...

Sekolah dan Pendidikan Intoleransi di Indonesia

Belakangan banyak muncul sekolah swasta berbasis agama. Tak cuma Islam. Muridnya datang dari satu agama, bahkan satu mazhab. Mereka hampir tak mengenal agama atau...

Malborough dan Malaria

Menjadi benteng terbesar kedua di Asia setelah Benteng Madras di India, Marlborough mewa­kili kekuasaan kolonial Inggris, salah satu impe­rium terbesar di dunia sepanjang sejarah....
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

ANTREAN PANJANG-Antrean kendaraan yang panjang di pintu tol Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (6/10). ANTARA FOTO
ANTREAN PANJANG-Antrean kendaraan yang panjang di pintu tol Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (6/10). ANTARA FOTO

Harga bahan bakar yang rendah cenderung membuat orang boros energi. Ini salah satu argumen populer untuk membenarkan pengurangan atau penghapusan subsidi energi.

Subsidi bahan bakar dipandang memberatkan keuangan negara. Akibatnya negara, katanya, tak bisa menyisihkan cukup dana untuk pembangunan infrastruktur serta belanja kesejahteraan sosial, khususnya bagi orang miskin.

Lebih dari itu, harga bahan bakar rendah dianggap memicu pemborosan energi minyak (fosil) yang tak ramah lingkungan, sehingga memicu polusi dan pemanasan global.

Argumen itu mengandung beberapa kelemahan, atau cenderung tidak tepat diterapkan untuk situasi Indonesia.

Pertama, energi bukanlah komoditas yang elastis, yang tingkat konsumsinya turun drastis ketika harganya naik. Energi adalah kebutuhan dasar semua aktivitas ekonomi, sosial, bahkan budaya. Pergi ke laut mencari ikan, menengok kerabat yang sakit, atau belajar menari serta menonton pertunjukan musik memerlukan energi.

Pertumbuhan ekonomi dan aktivitas sosial-budaya ditopang oleh peningkatan konsumsi energi. Negeri-negeri yang makmur adalah negeri dengan tingkat konsumsi energi yang tinggi.

Konsumsi energi per kapita Indonesia masih sangat rendah, salah satu yang terendah di ASEAN. Pada 2011 konsumsi energi rata-rata orang Indonesia hanya separo Thailand, sepertiga Malaysia, dan hampir sepersepuluh Singapura. Konsumsi listrik rata-rata orang Indonesia hanya 0,68 Megawatt jam per tahun, lebih rendah dari rata-rata Asia.

Menurut Badan Energi Internasional pada 2009, kayu bakar masih menjadi sumber utama energi di Indonesia, menyumbang 30 persen konsumsi energi. Sekitar 150 juta lebih rakyat, terutama di pedesaan, bertumpu pada kayu bakar sebagai sumber energi.

Rakyat Indonesia secara keseluruhan masih menderita kemiskinan energi.

Memang, ada kesenjangan besar dalam pemakaian bahan bakar minyak, antara Jawa dan luar Jawa, antara pedesaan dan perkotaan. Meski per kapita nasional rendah, konsumsi per kapita bahan bakar minyak di perkotaan cenderung sangat tinggi, dan 25 persen lebih darinya untuk transportasi.

Itulah yang sebenarnya patut dikhawatirkan. Pemakaian energi di perkotaan cenderung tidak efisien karena dipakai untuk transportasi, bukan untuk kegiatan produktif seperti industri.

Namun, itu pun bukan kesalahan semata-mata masyarakat. Pemborosan energi di perkotaan dan Jawa pada umumnya terjadi terutama karena buruknya atau bahkan tiadanya sistem transportasi publik.

Terbukti, meski dalam 10 tahun terakhir pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono telah beberapa kali menaikkan harga bahan bakar, pertumbuhan mobil pribadi (di luar bus dan truk) melonjak dari sekitar 4 juta menjadi 11 juta.

Solusi yang tepat dalam soal energi ini adalah meningkatkan konsumsi energi di pedesaan dan luar Jawa (dengan memelihara harganya tetap murah) seraya mengerem pemborosan energi di perkotaan lewat pembangunan transportasi publik massal.

Pengurangan subsidi bahan bakar, artinya kenaikan harga solar dan bensin, akan memperparah kemiskinan. Akses orang miskin atas energi berkurang, misalnya nelayan yang tak bisa ke laut karena mahalnya harga solar. Pada saat yang sama, mereka terkepung oleh kenaikan harga-harga kebutuhan pokok akibat naiknya harga solar dan bensin. Bantuan tunai langsung tak banyak menolong.

Orang miskin terpukul lebih keras ketimbang orang kaya ketika harga kebutuhan naik akibat pengurangan subsidi bahan bakar.

Itu tak terlalu jadi soal jika anggaran publik sosial seperti pendidikan dan kesehatan cukup tinggi untuk menopang kesejahteraan warga negara.

Sialnya, anggaran publik kesehatan Indonesia salah satu yang paling kecil di dunia. Menurut WHO, anggaran publik kesehatan minimal harus 5 persen dari GDP. Pada 2011 anggaran kesehatan Indonesia hanya 1,3 persen dari GDP. Lebih rendah dari Laos, Kamboja, Nigeria, atau Timor Leste.

Padahal, salah satu faktor penting dalam meningkatkan mutu manusia adalah kesehatan. Variabel kesehatan dominan dalam menyebabkan kemiskinan.

Indeks Kesejahteraan Manusia (Human Development Index) Indonesia di peringkat 121, di bawah negeri-negeri yang sering kita ejek: Bostwana (119), Palestina (110), Mongolia (108), Suriname (105), Tonga (95), atau bahkan Srilanka (92).

Siapa pun presidennya, pemerintah baru perlu mengubah haluan: jangan lagi menghukum orang miskin untuk ketidakmampuan pemerintah membangun sistem transportasi publik serta meningkatkan ketahanan energi.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.