Jumat, Oktober 30, 2020

Krisis

Pak Jokowi, KPK Menjemput Maut

192 orang lulus seleksi administrasi calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. Seluruh perwira dan pensiunan polisi lulus seleksi tersebut. Kelulusan itu kian mendekati dugaan bahwa...

Jokowi, Kemiskinan, dan Imbauan

Memasuki awal tahun ini, Senin (4/1/2016), Badan Pusat Statistik kembali melansir persentase penduduk miskin. Pada September 2015, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita...

Menata Kota dari Kampung-Kampung

Pagi itu amarah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tak dapat dibendung lagi. Mukanya merah padam. Matanya tajam menatap seakan ingin melahap orang-orang di sekitarnya....

Menolak “Kitab Belajar” dari Dwi Koendoro

Kuingat benar saat pertama kali menitikkan airmata karena terlarut dalam suasana yang disajikan oleh sebuah komik. Ya, hanya karena komik aku menangis. Adegan mengharukan...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Dolar sudah di atas Rp 14.000. Harga minyak di atas 80 US$ per barel, diramalkan merangkak menuju 85 US$ per barel. Apakah kita sedang di tepi krisis ekonomi?

Mudah-mudahan tidak. Tapi, jika krisis kembali datang, semoga kali ini benar-benar kita manfaatkan untuk refleksi yang lebih mendalam dan fundamental.

Kita berpikir tentang ekonomi yang benar-benar fundamental.

Ketika krisis menyergap, banyak ekonom menawarkan solusi. Salah satunya adalah bailout sektor keuangan dan bantuan untuk bisnis besar. Kita ditakut-takuti dengan ancaman bahwa negara akan bangkrut jika bank tidak di-bailout, jika konglomerat tidak ditolong.

Itu pendekatan elitis dan egois khas kelas menengah.

Ekonomi kita ditopang oleh sektor usaha kecil dan informal, yang lebih tahan banting. Bukan oleh usaha besar yang pada dasarnya rapuh.

Bagi kita yang hidup di desa, negara tidak pernah bangkrut sepanjang ada makanan di kebun: singkong, sayur, buah.

Dalam situasi krisis, desa lebih tahan banting ketimbang kota.

Jika krisis datang, mudah-mudahan ada ekonom yang lebih lantang bilang bahwa kita tidak perlu mengemis ke World Bank dan IMF. Tidak perlu pula memberi subsidi kepada para bankir dan konglomerat seperti dulu (yang bebannya, ratusan triliun rupiah, masih kita tanggung sampai sekarang).

Jika krisis datang, kita serukan untuk kembali ke dasar (back to basic); hidup sulit bersama-sama; menengok apa yang kita punya tapi tak kita sadari: alam yang demikian kaya.

Memperkuat pertanian, kehutanan, perikanan secara substansial. Membangun desa dan pinggiran (tanpa lips service).

Kekayaan terbesar Kalimantan bukanlah sawit dan batubara, tapi keragaman hayati yang tertinggi di dunia setelah Amazon. Yang bisa kita manfaatkan dengan lebih bijaksana.

Ada puluhan jenis tanaman yang bisa diolah jadi atsiri, kebutuhan esensial dalam industri pangan, obat dan kosmetik dunia.

Kekayaan Papua bukanlah emas Freeport, tapi hutan bakau yang terpadat dan terluas di dunia.

Jika krisis tiba, jangan kuatir bahwa sebenarnya kita bisa membangun puluhan Maldives di Maluku saja, hanya dengan melestarikan terumbu karangnya.

Kita punya laut 2/3 dari luas daratan. Di samping punya stok tangkapan ikan yang kaya, Indonesia adalah jantung terumbu karang dunia. Punya coral terluas di dunia dengan keragaman biota terkaya di dunia tapi tak pernah kita tahu manfaatnya.

Yang punya nilai ekonomi tinggi (lewat wisata) bahkan hanya dengan tidak merusaknya.

Jika krisis tiba, berhentilah mengadopsi egoisme kelompok kelas menengah kota. Perluas cakrawala. Di antara semua krisis, krisis terburuk adalah krisis cara berpikir.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.