Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Kepulauan Seribu

Museum Sastra Andrea Hirata

Rumah itu sederhana dan beratap seng. Dindingnya dari kayu dengan cat yang kusam dan sebagian dibiarkan mengelupas. Dari penampakannya itu, rumah itu sama seperti...

Merawat Sungai

Di lereng Pegunungan Dieng, tak jauh dari rumah kami, ada sebuah mata air terkenal: Tuk Bima Lukar. Ini mata air purba yang legenda­nya masih...

Sentarum dan Neraka Asap

Orang bilang, Danau Sentarum surga bumi yang diabaikan. Terletak dekat perbatasan Kalimantan-Serawak, inilah danau musiman, gentong air raksasa, yang terluas dan paling unik di...

Krisis Rupiah dan Sesat Pikir Ekonomi

"Mau uang dibakar di jalanan; atau mau uang dipakai untuk pengentasan kemiskinan dan pembangunan infrastruktur?" Saya masih ingat kata-kata 15 tahun lalu itu, yang datang...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

foto dokumentasi thousandisland.co.id
foto dokumentasi thousandisland.co.id

Orang mengenalnya sebagai Pulau Onrust, bahasa Belanda untuk unrest atau “tidak pernah beristirahat”. Terletak di Teluk Bata­via, ini memang pulau yang sibuk pada zaman dahulu. Kolonial Belanda punya galangan kapal di situ, tempat kapal datang, singgah dan pergi.

Onrust punya makna penting dalam sejarah kota Jakarta. Sebelum kolonialisme, Onrust adalah salah satu pulau surga peristirahatan para raja dan pangeran Kesultanan Banten. Merupakan bagian dari gugusan pulau kecil Kepulauan Seribu, nama beberapa pulau dekat Onrust mengisyaratkan keindahannya: Pulau Bidadari, Pulau Kahyangan, atau Pulau Putri.

Belanda datang empat abad lalu, menjadikan­ nya pulau singgah untuk armada kapal mereka di Asia Tenggara. Tapi, VOC mau lebih dari itu. Mereka menjadikan Onrust sebagai pangkalan militer untuk menyerbu lalu menguasai Batavia dan Hindia Belanda keseluruhan.

Sejak itu Onrust jatuh­-bangun menjadi saksi perebutan kekuasan Belanda – Inggris; serta Perang Asia­-Pasifik yang melibatkan Jepang versus Amerika. Pada awal kemerdekaan, pulau ini sempat menjadi karantina jemaah haji yang akan berangkat ke Mekkah; pengasingan bagi penderita penyakit menular; serta menjadi tempat pembuangan pengemis dan gelandangan ibu kota.

Belakangan ini Onrust adalah pulau kecil yang sekarat. Meski sejak 1970­-an ditetapkan sebagai cagar budaya, museum dan warisan sejarahnya tak terawat. Tidak menarik kunjungan wisata.

Kondisi mungkin akan berubah di masa datang. Akhir tahun ini Pemerintah Provinsi Jakarta menca­ nangkan upaya serius pengembangan pariwisata Kepulauan Seribu. Kementrian Pariwisata menjadi­ kannya satu dari 10 destinasi wisata unggulan Indonesia.

Kepulauan Seribu tidak punya seribu pulau. Hanya 105 pulau dan hanya 11 di antaranya berpenghuni. Dilihat dari ketinggian, pulau­pulau di situ tampak punya pantai yang indah. Sebagian lautnya masih jernih. Ratusan noktah gelap menunjukkan kebera­ daan terumbu karang yang masih lestari.

Tak hanya wisata budaya dan sejarah. Orang juga jarang mengetahui Kepulauan Seribu adalah bagian taman nasional (national park) dan cagar alam Indonesia. Sekitar 45 pulau di situ dilindungi sebagai warisan khazanah alam yang unik. Salah satunya Pulau Rambut yang dikenal pula sebagai Pulau Kerajaan Burung, karena merupakan habitat dan tempat singgah burung migran antarbenua.

Pengembangan wisata alam Taman Nasional Kepulauan Seribu punya makna penting. Ini mungkin juga akan menginspirasi hal serupa di taman nasio­nal lain, dengan satu syarat: wisata itu tidak boleh merusak alam, justru merupakan bagian terpadu dari pelestarian alam.

Pengembangan ekowisata diyakini merupakan jalan tengah membangun ekonomi tanpa merusak alam. Itu sesuai konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable-development) yang tahun ini dicanang­kan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Indonesia memiliki 51 taman nasional. Tak hanya mengandung keragaman hayati negeri ini, taman­-taman nasional itu memiliki bentang alam khas: hutan, gunung, danau, rawa, dan laut. Juga kandung­an arkeologi serta budaya yang mencengangkan.

Dari semua taman nasional tersebut, 16 di antara­nya memperoleh pengakuan internasional sebagai Cagar Ramsar sebagai etalase ekosistem; Cagar Bios­fer yang memadukan keserasian alam dan manusia; serta hutan warisan dunia (world heritage).

Tak terlalu mengherankan sebenarnya. Indonesia memiliki ekosistem hutan mangrove terbesar di dunia, terumbu karang dan padang lamun terluas, hutan tropis yang hanya kalah dari Amazon di Brasil serta bentang alam khas mengingat posisinya sebagai negeri vulkanik terbesar di dunia.

Taman­-taman nasional Indonesia adalah buku terbuka sejarah alam kita; alam yang mendefinisikan jati diri manusia Indonesia. Namun sayang, sebagi­an darinya mulai rusak dan potensial punah tanpa pernah anak­-anak Indonesia mengenalnya.

Ketidakpedulian terhadap taman nasional mencer­minkan pengabaian kita terhadap lingkungan alam, yang antara lain dipertontonkan lewat tragedi mema­lukan kabut asap kebakaran hutan setiap tahun. Tapi, yang lebih penting, pengabaian pada identitas diri kita sebagai bangsa.

Memperkenalkan dan mendorong kecintaan pada taman nasional diharapkan memperkuat kepedulian kita pada pelestarian alam secara luas. Dengan begitu, kampanye “hidup ramah lingkungan” tak ber­henti menjadi slogan belaka.

Di Kepulauan Seribu, tekad melestarikan alam dan mengembangkan wisata alam, juga hanya akan jadi slogan belaka jika pengurukan Teluk Jakarta berlanjut meru­sak ekosistem dan meminggirkan masyarakatnya.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.