in

Kepulauan Seribu


foto dokumentasi thousandisland.co.id
foto dokumentasi thousandisland.co.id

Orang mengenalnya sebagai Pulau Onrust, bahasa Belanda untuk unrest atau “tidak pernah beristirahat”. Terletak di Teluk Bata­via, ini memang pulau yang sibuk pada zaman dahulu. Kolonial Belanda punya galangan kapal di situ, tempat kapal datang, singgah dan pergi.

Onrust punya makna penting dalam sejarah kota Jakarta. Sebelum kolonialisme, Onrust adalah salah satu pulau surga peristirahatan para raja dan pangeran Kesultanan Banten. Merupakan bagian dari gugusan pulau kecil Kepulauan Seribu, nama beberapa pulau dekat Onrust mengisyaratkan keindahannya: Pulau Bidadari, Pulau Kahyangan, atau Pulau Putri.

Belanda datang empat abad lalu, menjadikan­ nya pulau singgah untuk armada kapal mereka di Asia Tenggara. Tapi, VOC mau lebih dari itu. Mereka menjadikan Onrust sebagai pangkalan militer untuk menyerbu lalu menguasai Batavia dan Hindia Belanda keseluruhan.


Sejak itu Onrust jatuh­-bangun menjadi saksi perebutan kekuasan Belanda – Inggris; serta Perang Asia­-Pasifik yang melibatkan Jepang versus Amerika. Pada awal kemerdekaan, pulau ini sempat menjadi karantina jemaah haji yang akan berangkat ke Mekkah; pengasingan bagi penderita penyakit menular; serta menjadi tempat pembuangan pengemis dan gelandangan ibu kota.

Belakangan ini Onrust adalah pulau kecil yang sekarat. Meski sejak 1970­-an ditetapkan sebagai cagar budaya, museum dan warisan sejarahnya tak terawat. Tidak menarik kunjungan wisata.

Kondisi mungkin akan berubah di masa datang. Akhir tahun ini Pemerintah Provinsi Jakarta menca­ nangkan upaya serius pengembangan pariwisata Kepulauan Seribu. Kementrian Pariwisata menjadi­ kannya satu dari 10 destinasi wisata unggulan Indonesia.

Baca Juga :   Risma dan Surabaya: Mencari Kota yang Ramah

Kepulauan Seribu tidak punya seribu pulau. Hanya 105 pulau dan hanya 11 di antaranya berpenghuni. Dilihat dari ketinggian, pulau­pulau di situ tampak punya pantai yang indah. Sebagian lautnya masih jernih. Ratusan noktah gelap menunjukkan kebera­ daan terumbu karang yang masih lestari.

Tak hanya wisata budaya dan sejarah. Orang juga jarang mengetahui Kepulauan Seribu adalah bagian taman nasional (national park) dan cagar alam Indonesia. Sekitar 45 pulau di situ dilindungi sebagai warisan khazanah alam yang unik. Salah satunya Pulau Rambut yang dikenal pula sebagai Pulau Kerajaan Burung, karena merupakan habitat dan tempat singgah burung migran antarbenua.

Pengembangan wisata alam Taman Nasional Kepulauan Seribu punya makna penting. Ini mungkin juga akan menginspirasi hal serupa di taman nasio­nal lain, dengan satu syarat: wisata itu tidak boleh merusak alam, justru merupakan bagian terpadu dari pelestarian alam.

Pengembangan ekowisata diyakini merupakan jalan tengah membangun ekonomi tanpa merusak alam. Itu sesuai konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable-development) yang tahun ini dicanang­kan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Indonesia memiliki 51 taman nasional. Tak hanya mengandung keragaman hayati negeri ini, taman­-taman nasional itu memiliki bentang alam khas: hutan, gunung, danau, rawa, dan laut. Juga kandung­an arkeologi serta budaya yang mencengangkan.

Dari semua taman nasional tersebut, 16 di antara­nya memperoleh pengakuan internasional sebagai Cagar Ramsar sebagai etalase ekosistem; Cagar Bios­fer yang memadukan keserasian alam dan manusia; serta hutan warisan dunia (world heritage).

Baca Juga :   Reklamasi Teluk Jakarta: Belajar dari Reklamasi Kapuk

Tak terlalu mengherankan sebenarnya. Indonesia memiliki ekosistem hutan mangrove terbesar di dunia, terumbu karang dan padang lamun terluas, hutan tropis yang hanya kalah dari Amazon di Brasil serta bentang alam khas mengingat posisinya sebagai negeri vulkanik terbesar di dunia.

Taman­-taman nasional Indonesia adalah buku terbuka sejarah alam kita; alam yang mendefinisikan jati diri manusia Indonesia. Namun sayang, sebagi­an darinya mulai rusak dan potensial punah tanpa pernah anak­-anak Indonesia mengenalnya.

Ketidakpedulian terhadap taman nasional mencer­minkan pengabaian kita terhadap lingkungan alam, yang antara lain dipertontonkan lewat tragedi mema­lukan kabut asap kebakaran hutan setiap tahun. Tapi, yang lebih penting, pengabaian pada identitas diri kita sebagai bangsa.

Memperkenalkan dan mendorong kecintaan pada taman nasional diharapkan memperkuat kepedulian kita pada pelestarian alam secara luas. Dengan begitu, kampanye “hidup ramah lingkungan” tak ber­henti menjadi slogan belaka.

Di Kepulauan Seribu, tekad melestarikan alam dan mengembangkan wisata alam, juga hanya akan jadi slogan belaka jika pengurukan Teluk Jakarta berlanjut meru­sak ekosistem dan meminggirkan masyarakatnya.


Written by Farid Gaban

Farid Gaban

Editor in Chief The Geo TIMES.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR