Minggu, Januari 17, 2021

Keadilan Untuk Papua, Untuk Kita Semua

Miangas

Meski usinya telah 78 tahun, Samuel Namere masih sehat. Masih kuat pula ingatannya akan sejarah Miangas, pulau tempat dia lahir dan kini masih ditinggalinya. “Saya senang,...

Achmad Zaky, Jokowi, dan Riset untuk Publik

CEO Bukalapak, memang ngawur. Pertama, dia memakai data usang. Kedua, dia usil nyentil soal pilpres. Tapi, esensi yang dikatakannya benar: perhatian pemerintah terhadap riset...

Jokowi dan Ilusi Jalan Tol

Ada yang absurd dari negeri ini, dan terus berulang dari tahun ke tahun: pemerintah berjanji memperbaiki infrastruktur transportasi menjelang Idul Fitri dan berharap para...

Taman Nasional: Ada Tuhan di Pepohonan

Burung pekaka emas, dengan bulu biru mengkilat di punggungnya, bertengger di dahan kering pinggir sungai lebar itu. Beberapa monyet ekor panjang bercengkrama di dekat...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Pada 28 Juni 1914, sebuah pembunuhan di Sarajevo telah memicu rangkaian peristiwa yang bermuara pada Perang Dunia I. Pada 1992, saya berdiri di tempat bersejarah pembunuhan itu, di tengah kecamuk perang saudara Bosnia. Satu hal yang saya pelajari: perang kata, label, cap (etnis, agama, ideologi) hanya membutuhkan sedikit picu untuk menjadi malapetaka besar. Semoga negeri kita dihindarkan dari malapetaka seperti itu.

Harapan saya bisa jadi getir. Melihat apa yang terjadi di Papua sekarang sebenarnya sudah seperti perang saudara. Kita harus bersimpati kepada semua korban, baik itu di kalangan pendatang maupun orang Papua asli. Saya takut untuk membayangkan Sarajevo, tapi saya punya keyakinan, modal sosial kita lebih baik.

Beberapa teman wartawan yang bertugas di Papua mengkonfirmasi bahwa memang ada banyak orang pendatang (Minang, Bugis) tewas di Wamena. Sebagian terbakar di rumah/restoran mereka.

Siapa pelakunya? Apakah penduduk asli? Apakah OPM?

Di sinilah kita harus berhati-hati. Jangan juga terlalu mudah menyudutkan penduduk asli. Korban di kalangan orang Papua tidak kalah jauh, dan sudah berlangsung lama, menahun.

Bagaimana konflik baru ini meledak? Jawabannya tidak mudah.

Dari pengalaman saya meliput konflik (dari Bosnia hingga Aceh), kita harus seksama menelisik semua informasi yang kita terima.

Ada adagium populer di kalangan wartawan: “korban pertama dari perang adalah KEBENARAN”.

Tidak semua informasi di media sosial bisa kita terima mentah. Bahkan berita dari media mainstream tidak selalu benar. Apalagi dalam situasi perang.

Perang membutuhkan propaganda, dari sisi manapun. Tapi, yang mengendalikan informasi lah yang memenangkan propaganda.

Saya sudah risau sejak awal ketika Jakarta mengirimkan tentara/polisi dalam jumlah sangat banyak. Jakarta melihat ini sebagai perang. Banyak orang non-Papua mengelu-elukan tentara yang dikirim ke Papua sebagai calon pahlawan, membunuh atau dibunuh.

Jakarta memberi sinyal keliru bahwa pemerintah sedang memerangi, bukan membujuk dan menenangkan, saudara sebangsa.

Pemerintah (TNI/Polri) juga memblokir internet di sana untuk memastikan informasi resmi pemerintah saja yang bisa beredar. Pemerintah membatasi akses wartawan.

Jika kita benar-benar ingin KEBENARAN di Papua, kita harus menuntut pemerintah untuk membuka akses informasi seluas-luasnya di Papua, termasuk mengundang wartawan dan pemantau internasional.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.