Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Golkarisasi Jokowi dan Ironi Reformasi

Setelah Heboh Terjemahan Awliyā’ sebagai ‘Teman Setia’

Di antara lebih dari enam ribu ayat al-Qur'an, al-Ma’idah ayat 51-lah yang dalam dua pekan terakhir menjadi primadona di Indonesia. Adalah Gubernur Jakarta Basuki...

Dunia Terancam Sampah Plastik*

Salah seorang anggota kelompok swadaya masyarakat (KSM) Selayar memilah sampah plastik di Tempat Pengelolaan Sampah 3R (reduce reuse recycle) di Kelurahan Pulubala, Kota Gorontalo,...

Moratorium Ujian Nasional, Kenapa Tidak?

Desakan agar pemerintah menghapus pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang dinilai membebani peserta didik dan melahirkan berbagai praktik curang, sesungguhnya sudah jauh-jauh hari pernah dilontarkan...

Membumikan Bunyi Pancasila (2)

Belum lagi bicara tentang kapitalisme dunia pendidikan, ketidakadilan hukum dan politik yang masih menjadi fakta di negeri ini. Pancasila juga tampak tak berdaya untuk...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Menyusul PROJO (Pro-Jokowi) kini ada GOJO (Golkar-Jokowi) yang akan ikut meramaikan tahun politik 2019.

Pada 2019, persaingan ketat tak hanya memperebutkan kursi presiden tapi juga wakil presiden. Diperkuat oleh konsultan politik Denny JA, GOJO adalah kendaraan Airlangga Hartarto untuk merebut kursi wakil presiden. Atau setidaknya untuk melestarikan kursi menterinya sekarang.

Airlangga tidak sendirian. Beberapa ketua umum partai lain juga ngarep: Muhaimin Iskandar (PKB), Muhammad Romahurmuziy (PPP), Hary Tanoesoedibjo (Perindo).

Tapi, Airlangga Hartarto sedikit di atas angin. Menyalahi janjinya, Presiden Joko Widodo membiarkan Airlangga merangkap jabatan menteri dan ketua partai.

Ini memperlihatkan kian menguatnya pengaruh Partai Golkar dalam Pemerintahan Joko Widodo. Padahal, Partai Golkar adalah pendukung Prabowo Subianto, musuh Jokowi pada pemilihan presiden 2014. Bahkan sebelum Airlangga masuk kabinet, pengaruh Golkar dalam Pemerintahan Jokowi sudah cukup besar, lewat Jusuf Kalla dan Luhut Pandjaitan (The Super Minister).

Lebih dari itu, warna Golkar dalam Pemerintahan Joko Widodo diperkuat oleh dukungan politisi eks-Golkar yang kini berpartai lain: Wiranto dan Surya Paloh, pendiri Partai Hanura dan Partai Nasdem. Pada 2004, Wiranto dan Surya Paloh ikut dalam Konvensi Partai Golkar, bersaing dengan Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie.

Dalam lima tahun terakhir, kita melihat prestasi luar biasa Partai Golkar: dari oposisi menjadi pilar terkuat Pemerintahan Jokowi.

Dengan sepintas melihat komposisi kabinet, kita bisa melihat Golkar lebih kuat pengaruhnya pada kebijakan publik Joko Widodo dibanding PDI Perjuangan, partai utama pendukung Jokowi pada 2014.

Elemen pendukung Jokowi di luar partai, seperti PROJO, tidak tampak punya gigi. Pada 2019, PROJO mendapat saingan yang kemungkinan lebih powerfull: GOJO di bawah Airlangga Hartarto.

Pengaruh Golkar kian besar di sekeliling Joko Widodo, dan kemungkinan besar akan semakin membesar.

Di seberang itu, Prabowo Subianto juga politisi yang besar dalam tradisi Golkar, meski kini punya partai baru, Partai Gerindra.

Walhasil, pertarungan 2019 adalah pertarungan Golkar vs Golkar. Apa pun hasilnya, pemenangnya adalah Golkar. Ironi terbesar 20 tahun reformasi.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.