Minggu, Oktober 25, 2020

Dagelan Freeport

Modal Asing, Jokowi, dan Kolesterol

Tubuh membutuhkan kolesterol. Tanpa lemak ini kita bisa kehilangan gairah seks, misalnya, karena rendahnya hormon kelamin. Kolesterol juga memelihara keseimbangan kimiawi dalam tubuh, serta...

Mari Kembali ke Zaman Batu

Di Amerika dan Eropa, orang kembali mempertanyakan apa yang disebut modern dan maju. Mempertanyakan dampak industrialisasi dan kemajuan ekonomi pada kehidupan sehari-hari, dari gaya...

Kota yang Fasis

Empat tahun lalu Andre Vltcek menulis artikel menyengat tentang Jakarta: "The Perfect Fascist City". Jurnalis yang pernah meliput banyak konflik di dunia dan pernah...

Cinta Indonesia Gaya Soe Hok Gie

Di puncak Gunung Semeru, dikepung dingin dan kabut yang magis, tubuhnya tergelatak. Tak bernyawa. Soe Hok Gie tewas menghirup gas beracun di ketinggian sunyi...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Sebuah mobil melintas di kawasan Grasberg Mine milik PT. Freeport Indonesia (PTFI ) di Tembagapura, Mimika, Timika, Papua, Minggu (15/2). SVP Geoscience & Technical Services Division PT Freeport Indonesia (PTFI) Wahyu Sunyoto menyatakan, dari ketiga tambang bawah tanah yang sedang dibangun Freeport Indonesia, Grasberg Block Cave merupakan tambang yang paling besar menghasilkan produksi cadangan, yakni sebanyak 999,6 juta ton. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/15.
Sebuah mobil melintas di kawasan Grasberg Mine milik PT. Freeport Indonesia (PTFI ) di Tembagapura, Mimika, Timika, Papua, Minggu (15/2). SVP Geoscience & Technical Services Division PT Freeport Indonesia (PTFI) Wahyu Sunyoto menyatakan, dari ketiga tambang bawah tanah yang sedang dibangun Freeport Indonesia, Grasberg Block Cave merupakan tambang yang paling besar menghasilkan produksi cadangan, yakni sebanyak 999,6 juta ton. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/15.

Sebuah pagi, lima tahun lalu. Kapal yang saya tumpangi bersandar di Pelabuhan Amamapare, Papua. Ini pelabuhan kecil pada sebuah selat dengan air laut yang teduh. Pelabuhan itu milik PT Freeport Indonesia dan berjarak hanya 30 kilometer dari Timika, lokasi tambang emas terkenal itu.

Di kejauhan tampak hutan bakau yang hijau dan rimbun. Perahu-perahu kecil lalu-lalang membawa penumpang dari dan ke seberang selat. Tiga anak kecil, salah satunya telanjang, mendayung sampan kayu di dekat dermaga.

Di pantai yang tengah surut tampak deretan rumah panggung. Tiang dan dindingnya dari kayu, atapnya rumbia. Rapuh dan kumuh. Seorang perempuan dan anak kecil membawa ember mengambil air laut yang kotor untuk mencuci baju dan barang pecah belah.

Kondisi sosial ekonomi warga Papua di sekitar Amamapare sama sekali berkebalikan dengan fakta bahwa mereka hidup tak jauh dari salah satu tambang emas terkaya di dunia.

Saya mengingat mereka ketika mendengar diskusi yang gaduh di Jakarta tentang Freeport. Saya juga mengingat orang-orang di Boven Digoel, dekat Merauke, tempat pengasingan para pejuang kemerdekaan, yang listriknya bisa mati beberapa hari, biaya hidupnya lebih mahal dari Jawa akibat jalanan yang mirip sungai berlumpur.

Sidang majelis etik parlemen (Mahkamah Kehormatan Dewan), yang membahas rekaman kasak-kusuk negosiasi perpanjangan kontrak karya Freeport, punya aspek bagus sebagai bahan renungan mendalam. Sidang terbuka itu membongkar borok ketamakan, kerakusan, dan inkompetensi para elite politik kita, baik di lembaga eksekutif maupun legislatif.

Sidang itu membuka mata kita bahwa selama ini, meski ada pemilihan umum yang rutin, Indonesia sebenarnya dikuasai oleh segelintir elite oligarki yang mengaveling kekayaan alam negeri ini untuk kepentingan egoistis mereka. Dalam memenuhi hasrat ketamakan pribadi, mereka rela menjual negeri ini ke tangan orang asing. Dan, rakyat tak berdaya. Khususnya rakyat Papua, yang tak berdaya dan diabaikan.

Rekaman kasak-kusuk Freeport hanya menunjukkan betapa egois elite nasional dan wakil perusahaan multinasional itu. Reaksi umum orang Indonesia juga sama egoisnya. Mereka peduli Papua hanya emasnya. Bukan kesejahteraan manusianya.

Rekaman itu mempertontonkan bagaimana elite Jakarta, baik menteri, pengusaha, maupun mantan pejabat intelijen yang mewakili kepentingan asing Freeport, tak ubahnya seperti kompeni (VOC) dulu mengaveling dan menjarah kekayaan alam Hindia Belanda.

Kita akan terkecoh jika cuma sibuk menuding dan memaki siapa setan dalam kasus ini; atau sebaliknya, memuja siapa pahlawan di situ. Kita akan gigit jari juga jika hanya sibuk mendiskusikan hal remeh-temeh tentang sikap, kelakuan, dan kekonyolan dewan etik parlemen.

Semua pihak yang terlibat, termasuk Freeport, punya kepentingan untuk membuat publik hanya melihat kabut asap. Tapi, bukan menemukan pertanyaan-pertanyaan terpenting dari kasus ini.

Baik Sudirman Said, Setya Novanto, Luhut Panjaitan, maupun Maroef Sjamsoeddin hanya aktor. Kita perlu tahu persis jalan cerita yang sedang dimainkan. Mereka hanya penyanyi. Kita perlu tahu persis apa musik dan syair terselubung yang mereka nyanyikan.

Semua kontroversi itu bermula dari satu pertanyaan terpenting: apakah Indonesia akan memperpanjang kontrak karya dengan Freeport yang habis pada 2021?

Rekaman kasak-kusuk saham Freeport hanya menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia, baik eksekutif maupun legislatif, masih membuka peluang kemungkinan perpanjangan kontrak. Atau membuka peluang jual-beli saham Freeport yang akan mereka tinggalkan.

Itu patut disayangkan. Jika Presiden dan parlemen tegas memberi sinyal tidak memperpanjang kontrak karya, kasak-kusuk seperti itu tidak perlu terjadi. Tambang akan otomatis kembali menjadi milik negara dan saham Freeport tak lagi relevan dibicarakan.

Kontroversi di parlemen, meski positif dalam membongkar topeng kerakusan elite Indonesia, memberi Freeport argumen kuat untuk meneruskan kontrak atau menegosiasikan saham: “Lihat, betapa korup pejabat Indonesia dan betapa inkompeten penyelenggara negeri Indonesia? Jika begitu, bukankah sebaiknya tambang emas ini tetap dikelola perusahaan asing dan/atau perusahaan swasta kroni lokal?”

Saya tak mau menelan kabut kontroversi. Saya hanya akan menunggu akhir (ending) drama komedi ini. Apakah kontrak Freeport akhirnya diperpanjang? Semoga tidak. Apakah ada mekanisme rakyat Papua, termasuk warga Amamapare, bisa lebih berdaulat memanfaatkan kekayaan alam mereka secara berkelanjutan? Semoga ada.***

 

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.