Senin, Januari 25, 2021

Bom Bernama Bendungan

Musik Merdeka Cara Ivan Hadar

  Pendidikan harus bisa membangun kesadaran untuk memanusiakan manusia. Tutur katanya lembut. Tapi analisisnya tajam. Begitulah saya mengenal Ivan Hadar, seorang teman dan sosiolog, yang meninggal...

Miangas

Meski usinya telah 78 tahun, Samuel Namere masih sehat. Masih kuat pula ingatannya akan sejarah Miangas, pulau tempat dia lahir dan kini masih ditinggalinya. “Saya senang,...

Miskin Energi

Harga bahan bakar yang rendah cenderung membuat orang boros energi. Ini salah satu argumen populer untuk membenarkan pengurangan atau penghapusan subsidi energi. Subsidi bahan bakar...

Pala, Run dan Manhattan

Manhattan, New York, adalah ibukota politik dan keuangan dunia. Di sinilah tempat Perserikatan Bangsa-Bangsa bermarkas dan WallStreet berada. Inilah kota terkaya dan terpadat di...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Warga melihat Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, yang akan menggenangi 11.000 bidang tanah termasuk perkampungan, sekolah dan situs bersejarah. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Warga melihat Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, yang akan menggenangi 11.000 bidang tanah termasuk perkampungan, sekolah dan situs bersejarah. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

 

Tubuh telanjang itu mengambang tak bernyawa, terdampar di teluk sebuah bendungan baru. Para tetangga desa menduga lelaki itu tewas akibat terpeleset ke air dan tenggelam. Atau bunuh diri.

Peristiwa itu sudah lama, 30 tahun lalu. Berkunjung ke Bendungan Saguling, Jawa Barat, yang baru diisi air, saya meliput perubahan sosial dan ekonomi masyarakat yang terkena dampak pembangunan waduk
besar. Lelaki itu hanya satu dari belasan orang yang tewas setelah waduk diresmikan.

Saya mengingat kembali peristiwa itu ketika dua pekan lalu Presiden Joko Widodo menyetujui penuntasan pembangunan Waduk Jatigede, juga di Jawa Barat. Ini momen bersejarah. Setelah tertunda hampir 50 tahun, waduk itu akan benar-benar terwujud dan menjadi waduk kedua terbesar di Indonesia.

Tak hanya itu. Pemerintahan Jokowi juga berencana membangun 49 bendungan besar serupa di seluruh Indonesia selama lima tahun ke depan. Haruskah kita bangga?

Bendungan dibangun dengan tujuan bagus: mengendalikan banjir, mengairi sawah demi swasembada pangan, dan membangkitkan listrik. Tapi, dalam praktik, tujuan baik tidak sepenuhnya tercapai, sementara ongkos sosial dan lingkungannya sangat mahal.

Umur Waduk Saguling lebih pendek dari perkiraan awal 50 tahun akibat pelumpuran, sampah, dan pencemaran ganas Sungai Citarum yang dibendungnya. Waduk Gajah Mungkur di Jawa Tengah juga hampir serupa nasibnya.

Di sisi lain, pembangunan waduk memicu gegar budaya bagi masyarakat sekitar. Petani yang tergusur harus mencari tempat tinggal baru dan jenis pekerjaan baru. Terjadi perubahan besar dari budaya darat ke budaya air. Sebagian mereka gamang, frustrasi dan berakhir bunuh diri.

Bendungan menggusur petani dan menenggelamkan lahan pertanian subur yang sering berlawanan dengan motif swasembada pangan itu sendiri. Petani yang kehilangan lahan membabat bukit dan gunung, memperbesar ancaman longsor serta mempercepat pelumpuran waduk.

Lalu ada aspek politik. Waduk besar menggusur puluhan ribu warga di  puluhan desa. Dengan alasan kepentingan publik, warga kurang berdaya ini sering tergusur dengan ganti rugi tak memadai atau mengalami teror serta intimidasi jika menolak.

Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah menenggelamkan hampir 40 desa yang warganya digusur dengan teror, 30 tahun lalu. Sangat mahal ongkos politiknya, sementara kini diketahui usia waduk hanya separo dari 100 tahun yang direncanakan. Protes Kedung Ombo merupakan salah satu tonggak besar perlawanan politik terbuka terhadap pemerintah Orde Baru.

Pembangunan bendungan menjadi tren kuat secara internasional pada 1980-an, tapi surut sepuluh tahun kemudian. Bendungan besar akhirnya dinilai lebih merupakan problem ketimbang solusi.

Tak heran jika pengalaman seperti Kedung Ombo dan Dam Narmada di India mengilhami gerakan menolakk bendungan di seluruh dunia. Arundhati Roy, penulis dan feminis India, salah satu tokoh di garda depan gerakan itu. Bendungan, kata Arundhati, punya daya rusak seperti bom nuklir. Makin besar, kian merusak.

Jika bendungan ditolak, bagaimana nasib pelestarian sumber air, swasembada pangan dan energi?

Pelestarian sumber air dan pengendalian banjir tak bisa lain kecuali merawat aliran sungai alami serta menjaga keutuhan hutan di gunung dan perbukitan. Bendungan besar tak hanya mengubah sungai alami, tapi juga mendorong orang merusak hutan.

Kita masih memiliki banyak sumber energi lain untuk listrik, bahkan jika minyak dan batu bara bisa diabaikan karena dianggap terlalu kotor: gas, geotermal, angin, matahari. Bahkan pembangunan bendungan kecil mikro-hidro masih bisa ditoleransi.

Dalam konteks ini, kita bicara skala. Konsep “kecil itu indah” yang diusung ekonom EF Schumacher 40 tahun lalu masih relevan. Dalam konteks bendungan, membuat jaringan waduk-waduk kecil yang dirancang secara matang dengan mempertimbangkan berbagai aspek akan lebih bermanfaat ketimbang bendungan raksasa. Risikonya juga lebih mudah diantisipasi.

Bendungan besar cenderung merangsang pertanian skala besar yang menggusur petani. Swasembada pangan yang berkelanjutan mustahil dicapai tanpa pemberdayaan dan penguatan petani baik dalam aspek manajemen maupun pemanfaatan sains dan teknologi.

Jika kita berpikir membangun pertanian membutuhkan banyak air, sebaiknya belajar dari petani Israel yang bertani di gurun pasir menggunakan sistem irigasi tetes atau drip-system. Mereka berhasil mengekspor bunga dan buah ke Eropa.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.