Rabu, Oktober 28, 2020

Bom Bernama Bendungan

Anggaran Bimbel Anggaran Salah Arah

Gubernur Jakarta terpilih Anis Baswedan menambah anggaran program pendidikan secara signifikan, sebesar Rp 46 miliar. Dia ingin siswa sekolah menengah kurang mampu yang selama...

PKS dan Masa Depan Politik Indonesia

Dulu keberadaan Partai keadilan Sejahtera (PKS) membawa pemikiran segar, bahwa pemerintahan di Barat perlu menanggalkan pandangan stereotip tentang partai Islam jika ingin membangun kesepahaman...

Revolusi Mental atau Fisik?

  Joko Widodo memenangi kursi kepresidenan antara lain lewat kampanye yang memukau tentang “Revolusi Mental”. Itu merupakan versi ringkas dari Nawacita, atau sembilan program, yang...

Jokowi dan Ilusi Jalan Tol

Ada yang absurd dari negeri ini, dan terus berulang dari tahun ke tahun: pemerintah berjanji memperbaiki infrastruktur transportasi menjelang Idul Fitri dan berharap para...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Warga melihat Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, yang akan menggenangi 11.000 bidang tanah termasuk perkampungan, sekolah dan situs bersejarah. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Warga melihat Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, yang akan menggenangi 11.000 bidang tanah termasuk perkampungan, sekolah dan situs bersejarah. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

 

Tubuh telanjang itu mengambang tak bernyawa, terdampar di teluk sebuah bendungan baru. Para tetangga desa menduga lelaki itu tewas akibat terpeleset ke air dan tenggelam. Atau bunuh diri.

Peristiwa itu sudah lama, 30 tahun lalu. Berkunjung ke Bendungan Saguling, Jawa Barat, yang baru diisi air, saya meliput perubahan sosial dan ekonomi masyarakat yang terkena dampak pembangunan waduk
besar. Lelaki itu hanya satu dari belasan orang yang tewas setelah waduk diresmikan.

Saya mengingat kembali peristiwa itu ketika dua pekan lalu Presiden Joko Widodo menyetujui penuntasan pembangunan Waduk Jatigede, juga di Jawa Barat. Ini momen bersejarah. Setelah tertunda hampir 50 tahun, waduk itu akan benar-benar terwujud dan menjadi waduk kedua terbesar di Indonesia.

Tak hanya itu. Pemerintahan Jokowi juga berencana membangun 49 bendungan besar serupa di seluruh Indonesia selama lima tahun ke depan. Haruskah kita bangga?

Bendungan dibangun dengan tujuan bagus: mengendalikan banjir, mengairi sawah demi swasembada pangan, dan membangkitkan listrik. Tapi, dalam praktik, tujuan baik tidak sepenuhnya tercapai, sementara ongkos sosial dan lingkungannya sangat mahal.

Umur Waduk Saguling lebih pendek dari perkiraan awal 50 tahun akibat pelumpuran, sampah, dan pencemaran ganas Sungai Citarum yang dibendungnya. Waduk Gajah Mungkur di Jawa Tengah juga hampir serupa nasibnya.

Di sisi lain, pembangunan waduk memicu gegar budaya bagi masyarakat sekitar. Petani yang tergusur harus mencari tempat tinggal baru dan jenis pekerjaan baru. Terjadi perubahan besar dari budaya darat ke budaya air. Sebagian mereka gamang, frustrasi dan berakhir bunuh diri.

Bendungan menggusur petani dan menenggelamkan lahan pertanian subur yang sering berlawanan dengan motif swasembada pangan itu sendiri. Petani yang kehilangan lahan membabat bukit dan gunung, memperbesar ancaman longsor serta mempercepat pelumpuran waduk.

Lalu ada aspek politik. Waduk besar menggusur puluhan ribu warga di  puluhan desa. Dengan alasan kepentingan publik, warga kurang berdaya ini sering tergusur dengan ganti rugi tak memadai atau mengalami teror serta intimidasi jika menolak.

Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah menenggelamkan hampir 40 desa yang warganya digusur dengan teror, 30 tahun lalu. Sangat mahal ongkos politiknya, sementara kini diketahui usia waduk hanya separo dari 100 tahun yang direncanakan. Protes Kedung Ombo merupakan salah satu tonggak besar perlawanan politik terbuka terhadap pemerintah Orde Baru.

Pembangunan bendungan menjadi tren kuat secara internasional pada 1980-an, tapi surut sepuluh tahun kemudian. Bendungan besar akhirnya dinilai lebih merupakan problem ketimbang solusi.

Tak heran jika pengalaman seperti Kedung Ombo dan Dam Narmada di India mengilhami gerakan menolakk bendungan di seluruh dunia. Arundhati Roy, penulis dan feminis India, salah satu tokoh di garda depan gerakan itu. Bendungan, kata Arundhati, punya daya rusak seperti bom nuklir. Makin besar, kian merusak.

Jika bendungan ditolak, bagaimana nasib pelestarian sumber air, swasembada pangan dan energi?

Pelestarian sumber air dan pengendalian banjir tak bisa lain kecuali merawat aliran sungai alami serta menjaga keutuhan hutan di gunung dan perbukitan. Bendungan besar tak hanya mengubah sungai alami, tapi juga mendorong orang merusak hutan.

Kita masih memiliki banyak sumber energi lain untuk listrik, bahkan jika minyak dan batu bara bisa diabaikan karena dianggap terlalu kotor: gas, geotermal, angin, matahari. Bahkan pembangunan bendungan kecil mikro-hidro masih bisa ditoleransi.

Dalam konteks ini, kita bicara skala. Konsep “kecil itu indah” yang diusung ekonom EF Schumacher 40 tahun lalu masih relevan. Dalam konteks bendungan, membuat jaringan waduk-waduk kecil yang dirancang secara matang dengan mempertimbangkan berbagai aspek akan lebih bermanfaat ketimbang bendungan raksasa. Risikonya juga lebih mudah diantisipasi.

Bendungan besar cenderung merangsang pertanian skala besar yang menggusur petani. Swasembada pangan yang berkelanjutan mustahil dicapai tanpa pemberdayaan dan penguatan petani baik dalam aspek manajemen maupun pemanfaatan sains dan teknologi.

Jika kita berpikir membangun pertanian membutuhkan banyak air, sebaiknya belajar dari petani Israel yang bertani di gurun pasir menggunakan sistem irigasi tetes atau drip-system. Mereka berhasil mengekspor bunga dan buah ke Eropa.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.