Senin, Oktober 26, 2020

Apa yang Romo Magnis Salah Pahami Tentang Golput

Beyonce dan Kemiskinan

Mata orang seluruh dunia akan tertuju ke Central Park, New York, pekan depan, ketika sejumlah pesohor seperti Beyonce, One Direction, Pearl Jam, dan Coldplay manggung....

Pengkhianatan Kaum Intelektual

Tempo hari, alumni beberapa perguruan tinggi mendeklarasikan dukungan kepada calon presiden Jokowi. Belakangan mucul pesaing mereka mendeklarasikan dukungan pada Prabowo Subianto. Fenomena dukung-mendukung dari alumni...

Krisis

Dolar sudah di atas Rp 14.000. Harga minyak di atas 80 US$ per barel, diramalkan merangkak menuju 85 US$ per barel. Apakah kita sedang...

Terorisme dan Tindakan Main Hakim Sendiri

Mari kita mulai tulisan ini dengan ucapan turut berduka cita atas kematian anggota polisi di Mako Brimob. Mereka bagaimanapun juga adalah pegawai negara yang...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Beberapa teman yang mengaku pendukung Jokowi dan Prabowo mengatakan akan golput pada pilihan legislatif. Mereka tidak memilih partai.

Sebagian mereka mengecam keras golput sebagai pengecut dan parasit padahal mereka sendiri golput (pileg). Lho apakah pemilu nanti hanya soal memilih presiden? Bukankah pemilihan siapa anggota DPR juga penting dibahas, atau perisakan dan penghinaan terhadap golput ini tentang presiden belaka?

Golput pileg pada dasarnya menunjukkan rendahnya tingkat kepercayaan publik kepada partai politik. Ini fenomena yang sudah lama berlangsung. Sejak Orde Baru dan berlanjut pada era Reformasi, sebagian besar kita tidak punya ikatan kuat dengan partai politik. Kita semua adalah anak-cucu “massa mengambang” Orde Baru.

Ketidakpercayaan kepada partai politik bisa dipahami, salah satunya karena partai politik sendiri tidak demokratis dan cenderung dikuasai elit oligarki. Sebagian besar partai sekarang tidak menjalankan prinsip-prinsip demokrasi dalam dirinya, ketika memilih ketua dan pengurus maupun ketika menjalankan operasi politik sehari-hari. Mereka bertumpu pada tokoh-tokoh, yang pada dasarnya diktator di dalam partai.

PDI-Perjuangan adalah partainya Megawati Soekarnoputri. Gerindra milik Prabowo Subianto. Demokrat sulit dibedakan dari partai dinasti Susilo Bambang Yudhoyono. PKB disetir Muhaimin Iskandar. Hanura milik Wiranto. Perindo dibentuk dan dikuasi Harry Tanoe. PAN hampir identik dengan Amien Rais. Nasdem punya Surya Paloh.

Karena wataknya yang tidak demokratis, sebagian partai lain rawan konflik perebutan ketua, seperti Golkar atau PPP, yang pada dasarnya cuma perebutan kekuasan di kalangan elit partai.

Tidak hanya loyalitas publik pada partai sangat rendah. Loyalitas politisi terhadap partainya juga lemah. Politisi bisa berpindah-pindah partai dengan santainya. Partai kehilangan ideologi dan beroperasi sesuai kepentingan transaksional belaka (sebagian diwarnai kepentingan primitif uang, dengan ketua umum partai bertindak seperti CEO perusahaan).

Bagaimana mereka bisa mengajak dan mengajari demokrasi jika mereka sendiri tidak percaya demokrasi dan tidak menjalankan demokrasi dalam internal partai?

Sialnya, partai-partai politik yang ada kini menguasai parlemen, dan menjadi penyeleksi awal kandidat presiden, gubernur maupun walikota (meski kandidat ini belakangan dipilih secara langsung).

Partai-partai tidak cuma menguasai parlemen, tapi juga ikut menyetir jalannya pemerintahan eksekutif. Mereka mendikte presiden dan menguasai kementrian.

Lewat usulan parlimantary dan presidential threshold, partai-partai mempersempit peluang munculnya partai dan kandidat alternatif. Meski bersaing satu sama lain, partai-partai di DPR berlaku seperti kartel bisnis yang meniadakan pesaing.

Pilpres itu derivat (turunan) dari pemilihan legislatif dan kritik Romo Magnis jadi kecut karena mereduksi pemilu hanya soal tidak memilih (presiden) saja. Apakah ini bisa diterima? Bahwa dalam dua pemilihan presiden kita hanya menemukan Jokowi dan Prabowo, menunjukkan sistem politik kita yang makin elitis dan tidak demokratis.

Buat saya, agak mencengangkan bahwa tokoh dan intelektual cum filosof seperti Romo Franz Magnis Soeseno tidak membuat ulasan fundamental tentang rusaknya sistem politik dan bangunan demokrasi kita ketika mengecam golput sebagai parasit, pemalas dan sakit jiwa.*

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.