Senin, Januari 25, 2021

Apa yang Romo Magnis Salah Pahami Tentang Golput

Sentarum dan Neraka Asap

Orang bilang, Danau Sentarum surga bumi yang diabaikan. Terletak dekat perbatasan Kalimantan-Serawak, inilah danau musiman, gentong air raksasa, yang terluas dan paling unik di...

Pengkhianatan Kaum Intelektual

Tempo hari, alumni beberapa perguruan tinggi mendeklarasikan dukungan kepada calon presiden Jokowi. Belakangan mucul pesaing mereka mendeklarasikan dukungan pada Prabowo Subianto. Fenomena dukung-mendukung dari alumni...

Risma dan Surabaya: Mencari Kota yang Ramah

Surabaya mungkin bukan kota yang sempurna. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pelancong yang datang memuji wajah tata kota ini yang makin ramah, lebih hijau...

Mengapa Saya Berkampanye untuk Golput

Pemilihan Kepala Daerah Jakarta sudah berakhir lama. Gubernur baru sudah dilantik. Tapi, atmosfir pro dan anti Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama (atau Anies Baswedan) masih...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Beberapa teman yang mengaku pendukung Jokowi dan Prabowo mengatakan akan golput pada pilihan legislatif. Mereka tidak memilih partai.

Sebagian mereka mengecam keras golput sebagai pengecut dan parasit padahal mereka sendiri golput (pileg). Lho apakah pemilu nanti hanya soal memilih presiden? Bukankah pemilihan siapa anggota DPR juga penting dibahas, atau perisakan dan penghinaan terhadap golput ini tentang presiden belaka?

Golput pileg pada dasarnya menunjukkan rendahnya tingkat kepercayaan publik kepada partai politik. Ini fenomena yang sudah lama berlangsung. Sejak Orde Baru dan berlanjut pada era Reformasi, sebagian besar kita tidak punya ikatan kuat dengan partai politik. Kita semua adalah anak-cucu “massa mengambang” Orde Baru.

Ketidakpercayaan kepada partai politik bisa dipahami, salah satunya karena partai politik sendiri tidak demokratis dan cenderung dikuasai elit oligarki. Sebagian besar partai sekarang tidak menjalankan prinsip-prinsip demokrasi dalam dirinya, ketika memilih ketua dan pengurus maupun ketika menjalankan operasi politik sehari-hari. Mereka bertumpu pada tokoh-tokoh, yang pada dasarnya diktator di dalam partai.

PDI-Perjuangan adalah partainya Megawati Soekarnoputri. Gerindra milik Prabowo Subianto. Demokrat sulit dibedakan dari partai dinasti Susilo Bambang Yudhoyono. PKB disetir Muhaimin Iskandar. Hanura milik Wiranto. Perindo dibentuk dan dikuasi Harry Tanoe. PAN hampir identik dengan Amien Rais. Nasdem punya Surya Paloh.

Karena wataknya yang tidak demokratis, sebagian partai lain rawan konflik perebutan ketua, seperti Golkar atau PPP, yang pada dasarnya cuma perebutan kekuasan di kalangan elit partai.

Tidak hanya loyalitas publik pada partai sangat rendah. Loyalitas politisi terhadap partainya juga lemah. Politisi bisa berpindah-pindah partai dengan santainya. Partai kehilangan ideologi dan beroperasi sesuai kepentingan transaksional belaka (sebagian diwarnai kepentingan primitif uang, dengan ketua umum partai bertindak seperti CEO perusahaan).

Bagaimana mereka bisa mengajak dan mengajari demokrasi jika mereka sendiri tidak percaya demokrasi dan tidak menjalankan demokrasi dalam internal partai?

Sialnya, partai-partai politik yang ada kini menguasai parlemen, dan menjadi penyeleksi awal kandidat presiden, gubernur maupun walikota (meski kandidat ini belakangan dipilih secara langsung).

Partai-partai tidak cuma menguasai parlemen, tapi juga ikut menyetir jalannya pemerintahan eksekutif. Mereka mendikte presiden dan menguasai kementrian.

Lewat usulan parlimantary dan presidential threshold, partai-partai mempersempit peluang munculnya partai dan kandidat alternatif. Meski bersaing satu sama lain, partai-partai di DPR berlaku seperti kartel bisnis yang meniadakan pesaing.

Pilpres itu derivat (turunan) dari pemilihan legislatif dan kritik Romo Magnis jadi kecut karena mereduksi pemilu hanya soal tidak memilih (presiden) saja. Apakah ini bisa diterima? Bahwa dalam dua pemilihan presiden kita hanya menemukan Jokowi dan Prabowo, menunjukkan sistem politik kita yang makin elitis dan tidak demokratis.

Buat saya, agak mencengangkan bahwa tokoh dan intelektual cum filosof seperti Romo Franz Magnis Soeseno tidak membuat ulasan fundamental tentang rusaknya sistem politik dan bangunan demokrasi kita ketika mengecam golput sebagai parasit, pemalas dan sakit jiwa.*

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.