Senin, Maret 1, 2021

Al Biruni dan Toleransi

Membangun dari Pinggiran

  Pemerintahan Presiden Joko Widodo menyediakan dana lebih banyak untuk pembangunan daerah dan desa. Ini sesuai dengan janji Nawa Cita yang antara lain “membangun Indonesia...

Malapateka 15 Januari

Hari ini 46 tahun lalu Jakarta membara. Mahasiswa berdemonstrasi turun ke jalan, yang berakhir menjadi kerusuhan. Kejadian sebenarnya masih menjadi kontroversi. (Mahasiswa menuduh, aparat...

Jokowi, Amien Rais, dan Tuduhan Komunis Itu

Saya sedih sekaligus ingin ketawa mendengar tuduhan komunis dialamatkan kepada Presiden Jokowi. Sedih karena propaganda murahan dipakai untuk mengkritik presiden secara keblinger. Ketawa karena...

Krisis Rupiah dan Sesat Pikir Ekonomi

"Mau uang dibakar di jalanan; atau mau uang dipakai untuk pengentasan kemiskinan dan pembangunan infrastruktur?" Saya masih ingat kata-kata 15 tahun lalu itu, yang datang...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Serangan brutal sekelompok orang, yang mengatasnamakan Islam, terhadap kelompok Syiah di Solo harus dikutuk. Tak hanya itu perbuatan kriminal; tapi juga menodai ajaran Islam sendiri.

Ada banyak tafsir, aliran dan mazhab dalam Islam. Dan itu justru menunjukkan kekayaan dan keagungan Islam. Satu Islam adalah mitos.

Obsesi satu Islam (sama seperti obsesi satu Indonesia/NKRI Harga Mati atau obsesi satu dunia atas nama globalisasi) cenderung hegemonik dan menindas.

Satu Islam dengan Islam yang mana, menurut siapa?

Kita tak harus setuju dengan tafsir orang lain. Cukup menoleransinya, membiarkan tetap ada, berdampingan dengan tafsir kita, yang menurut orang lain bisa juga dianggap keliru.

Itu tak hanya berlaku dalam soal mazhab/aliran di dalam Islam sendiri; tapi juga ketika orang Islam berhubungan dengan penganut agama lain.

Menolak kehadiran/eksistensi orang lain yang berbeda (mazhab atau agama) menunjukkan kelemahan iman seseorang, mencerminkan rendahnya keyakinan diri akan kebenaran iman yang dimiliki.

Mungkin kita harus belajar dari Al Biruni, cendekiawan Muslim abad ke-11. Biruni menulis ratusan buku dalam bahasa Arab. Dia belajar matematika, fisika dan astronomi. Namanya diabadikan sebagai nama salah satu kawah di Bulan. Tapi, Biruni lebih dikenal sebagai seorang pionir kajian antropologi serta perbandingan bangsa dan agama.

Piawai berbahasa Sansekerta, Persia dan Ibrani (Yahudi), dia mengkaji bangsa dan agama di luar Islam. Salah satu buku terkenalnya berjudul Al Hind, tentang bangsa dan agama orang India (Hindu). Dia juga menerjemahkan beberapa karya dari Sansekerta ke Arab.

Kepada audiens Muslim dan Arab, Biruni memaparkan Hindu sebagai apa adanya, seperti yang diyakini pemuka dan penganut Hindu sendiri; bukan dengan judgement dan label egosentris, dengan sebutan kafir misalnya.

Biruni mencerminkan ciri seorang Muslim yang sangat percaya diri: bergaul dengan bangsa dan penganut agama berbeda, mengkaji keyakinan orang lain, menerima apa adanya, tanpa kuatir akan mencemari keyakinannya.

Bandingkan itu dengan orang-orang di Solo yang menyerang brutal penganut mazhab lain. Orang-orang Islam di Solo ini justru merendahkan agamanya, tidak yakin akan kekuatan agama dan keyakinannya.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.