Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Al Biruni dan Toleransi

Hagia Sophia Menjadi Masjid atau Pembangunan Kembali Bait al-Hikmah?

Jika saya disuruh memilih antara dua hal; mana peradaban masa lalu yang kita butuhkan untuk hadir bagi dunia Islam masa sekarang, antara alih status...

Achmad Zaky, Jokowi, dan Riset untuk Publik

CEO Bukalapak, memang ngawur. Pertama, dia memakai data usang. Kedua, dia usil nyentil soal pilpres. Tapi, esensi yang dikatakannya benar: perhatian pemerintah terhadap riset...

Membangun Desa, Menagih Nawa Cita Jokowi

Pemerintahan Presiden Joko Widodo menyediakan dana lebih banyak untuk pembangunan daerah dan membangun desa. Ini sesuai dengan janji Nawa Cita yang antara lain “membangun...

Kepulauan Seribu

Orang mengenalnya sebagai Pulau Onrust, bahasa Belanda untuk unrest atau “tidak pernah beristirahat”. Terletak di Teluk Bata­via, ini memang pulau yang sibuk pada zaman...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Serangan brutal sekelompok orang, yang mengatasnamakan Islam, terhadap kelompok Syiah di Solo harus dikutuk. Tak hanya itu perbuatan kriminal; tapi juga menodai ajaran Islam sendiri.

Ada banyak tafsir, aliran dan mazhab dalam Islam. Dan itu justru menunjukkan kekayaan dan keagungan Islam. Satu Islam adalah mitos.

Obsesi satu Islam (sama seperti obsesi satu Indonesia/NKRI Harga Mati atau obsesi satu dunia atas nama globalisasi) cenderung hegemonik dan menindas.

Satu Islam dengan Islam yang mana, menurut siapa?

Kita tak harus setuju dengan tafsir orang lain. Cukup menoleransinya, membiarkan tetap ada, berdampingan dengan tafsir kita, yang menurut orang lain bisa juga dianggap keliru.

Itu tak hanya berlaku dalam soal mazhab/aliran di dalam Islam sendiri; tapi juga ketika orang Islam berhubungan dengan penganut agama lain.

Menolak kehadiran/eksistensi orang lain yang berbeda (mazhab atau agama) menunjukkan kelemahan iman seseorang, mencerminkan rendahnya keyakinan diri akan kebenaran iman yang dimiliki.

Mungkin kita harus belajar dari Al Biruni, cendekiawan Muslim abad ke-11. Biruni menulis ratusan buku dalam bahasa Arab. Dia belajar matematika, fisika dan astronomi. Namanya diabadikan sebagai nama salah satu kawah di Bulan. Tapi, Biruni lebih dikenal sebagai seorang pionir kajian antropologi serta perbandingan bangsa dan agama.

Piawai berbahasa Sansekerta, Persia dan Ibrani (Yahudi), dia mengkaji bangsa dan agama di luar Islam. Salah satu buku terkenalnya berjudul Al Hind, tentang bangsa dan agama orang India (Hindu). Dia juga menerjemahkan beberapa karya dari Sansekerta ke Arab.

Kepada audiens Muslim dan Arab, Biruni memaparkan Hindu sebagai apa adanya, seperti yang diyakini pemuka dan penganut Hindu sendiri; bukan dengan judgement dan label egosentris, dengan sebutan kafir misalnya.

Biruni mencerminkan ciri seorang Muslim yang sangat percaya diri: bergaul dengan bangsa dan penganut agama berbeda, mengkaji keyakinan orang lain, menerima apa adanya, tanpa kuatir akan mencemari keyakinannya.

Bandingkan itu dengan orang-orang di Solo yang menyerang brutal penganut mazhab lain. Orang-orang Islam di Solo ini justru merendahkan agamanya, tidak yakin akan kekuatan agama dan keyakinannya.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.