Kamis, Januari 21, 2021

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Al Biruni dan Toleransi

Serangan brutal sekelompok orang, yang mengatasnamakan Islam, terhadap kelompok Syiah di Solo harus dikutuk. Tak hanya itu perbuatan kriminal; tapi juga menodai ajaran Islam...

Sendang Bunder, Kapitalisme dan Pemiskinan

Airnya sangat jernih. Merembes dari sela-sela pasir dan kerikil. Mata air itu menghidupi telaga kecil desa kami. Batu-batu alam tertata melingkarinya. Itu mengapa kami...

PKS dan Masa Depan Politik Indonesia

Dulu keberadaan Partai keadilan Sejahtera (PKS) membawa pemikiran segar, bahwa pemerintahan di Barat perlu menanggalkan pandangan stereotip tentang partai Islam jika ingin membangun kesepahaman...

Hagia Sophia Menjadi Masjid atau Pembangunan Kembali Bait al-Hikmah?

Jika saya disuruh memilih antara dua hal; mana peradaban masa lalu yang kita butuhkan untuk hadir bagi dunia Islam masa sekarang, antara alih status...
Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang bisnis. Tapi, sayang, sang anak tidak segera mendapat pekerjaan.

“Mas, bisa nggak cariin pekerjaan buat anakku?”
“Ijazah S2 masa tidak laku untuk cari kerjaan?”
“Sudah setahun dia masih menganggur,” katanya. “Cariin kerja apa saja, deh. Jadi sekretaris atau bagian tata usaha.”
“Saya nggak punya pekerjaan di kota yang bisa diisi,” kata saya. “Mau nggak dia kerja di pertanian?”
“Bertani? Di desa? Mas ini gimana! Masa lulusan S2 jadi petani di desa?”

Singkat kata, sang anak masih menganggur, dan berusaha cari kerja di Yogyakarta atau Jakarta.

Perbincangan itu mungkin mencerminkan fenomena yang lebih luas. Sektor pertanian membiayai pendidikan untuk memasok tenaga kerja di kota; sementara desa dan pertanian sendiri ditinggalkan. Kini, bahkan untuk mencari pekerja kasar (buruh) pertanian pun sudah makin sulit.

Citra petani begitu buruk, dianggap sebagai profesi rendahan, dan pertanian dianggap sebagai simbol kemiskinan. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru. Pada kenyataannya, penghasilan petani memang cenderung rendah dan ekonomi pertanian kita secara nasional terus merosot.

Pertanian kita, khususnya di Jawa, ditandai dengan lahan yang kian sempit dan kepemilikan lahan yang kecil serta terpecah-pecah. Ini membuat ongkos produksi pertanian naik dan laba usaha tani mengecil.

Belum lagi ancaman hama yang makin ganas dan perubahan iklim yang kian tak menentu. Lalu ditimpa lagi dengan liberalisasi perdagangan dunia yang tidak bersahabat dan kebijakan impor pemerintah yang kian agresif.

Tanpa ada perubahan cukup radikal, sektor pertanian kita akan makin terpuruk. Itu akan memicu pemiskininan baik di desa maupun di kota sekaligus. Desa makin miskin karena ditinggalkan. Kota miskin karena pengangguran, bahkan di kalangan tenaga kerja terdidik.

Soal lain: ketahanan pangan yang makin rawan di tingkat nasional. Ketergantungan pada impor pangan dan hasil pertanian makin besar, sementara harga pangan dunia terus merangsek naik.

Meski merosot, pertanian kita masih bisa diperbaiki dengan sejumlah syarat. Salah satunya mengembalikan minat orang-orang terdidik untuk menengok sektor pertanian sebagai sektor yang keren dan menguntungkan.

Sektor pertanian kita yang masih sangat tradisional, membutuhkan input sains dan teknologi sederhana, input manajemen/bisnis, input teknik pemasaran dan sejenisnya. Petani desa sekarang sangat miskin dengan input-input tadi, hal-hal yang bisa disumbangkan oleh “orang-orang sekolahan” yang berkumpul di kota-kota besar.

Penghasilan di sektor pertanian mungkin kecil, tapi jika kita mau hidup di desa dan kota kecil, penghasilan kecil itu bisa dikompensasi oleh pengeluaran yang kecil. Biaya hidup di pedesaan lebih jauh lebih rendah.

Bagi orang yang lama tinggal di kota dengan segala kemacetan dan kesumpekannya, alam kehidupan desa adalah bonus: air dan udara bersih, pemandangan yang segar.

Profesi di pertanian dan pedesaan hampir sama beragamnya dan sama kerennya dengan jenis-jenis pekerjaan di kota dan sektor lain:

Social Worker/Educator

Tak hanya lahan kian sempit, para petani desa umumnya makin terindividualisasi: bekerja sendiri-sendiri dan bersaing satu sama lain. Hanya dengan kemauan bekerjasama, membentuk kelompok tani atau koperasi, mereka bisa mencapai skala ekonomi usaha tani yang menguntungkan. Dengan cara itu pula mereka bisa bersama-sama menyewa mahal para profesional, termasuk manajer usaha pertanian sekalipun. Dalam membangun organisasi/koperasi, para pekerja sosial yang dibekali ilmu komunikasi, sosiologi dan antropologi bisa berperan. Peran mereka juga penting dalam penyebarluasakan praktek pertanian sehat (good agricultural practices).

Manager/Business Consultant

Banyak usaha tani sebetulnya tidak bisa dikatakan sebagai usaha/bisnis. Di tengah kemiskinan dan keterbatasan, jarang ada dari mereka yang punya hitung-hitungan angkos produksi dan pendapatan dari penjualan. Hampir tidak ada yang membuat rencana bisnis (business plan): strategi produksi, permodalan, memilih jenis komiditi, manajemen produksi, pengolahan, pemasaran serta menghitung risiko bisnis. Manajer usaha tani atau konsultan bisnis pertanian bisa berperan di sini. Mereka bisa mendapat gaji lumayan jika bisa memberikan jasa pada kelompok tani/koperasi.

Marketers

Bisnis usaha tani membutuhkan keahlian pemasaran. Menghubungkan produsen dengan konsumen. Membuka pasar baru. Termasuk memanfaatkan internet dan media sosial dalam pemasaran produk pertanian.

Food Innovator

Banyak petani hanya menjual produk mentah yang murah. Padahal mereka bisa mendapat keuntungan lebih baik jika menjual produk pangan olahan. Di sini bisa berperan inovator-inovator pangan dalam menciptakan keragaman produk pangan. Para ahli bio-kimia juga bisa berperan dalam proses-proses penyulingan, pengawetan pangan yang sehat, fermentasi dan sejenisnya.

Microbiologist

Sebagian besar ilmu pertanian berkaitan dengan mikroba, dari pemupukan, pestisida/insektisida hingga pengolahan pangan dan pengolahan limbah pertanian. Pengetahuan mikrobiologi salah satu yang paling penting di pertanian/pedesaan.

Biochemist

Di tengah trend “green lifestyle”, para ahli mikrobiologi dan biokimia bisa menciptakan produk-produk baru ramah lingkungan dari sumberdaya desa yang selama ini terbengkalai, suatu hal yang ditunjukkan oleh riset-riset universitas terkemuka di dunia belakangan ini.

Botanist

Di samping terlalu tergantung pada pupuk kimia pabrik yang kian mahal, para petani juga tergantung pada benih/bibit yang mahal dan seringkali harus diimpor. Para ahli tanaman (botanist) bisa berperan dalam penyediaan benih yang berkualitas namun terjangkau, termasuk mengeksplorasi serta melestarikan keragaman hayati negeri kita yang sangat kaya.

Art/Product Designer

Pemasaran membutuhkan art-designer untuk merancang materi promosi dan packaging yang berselera tinggi. Banyak produk pangan dikemas seadanya yang memberikan kesan murahan. Desiner produk bisa mengeksplorasi bahan-bahan alam pedesaan untuk produk bernilai: ukiran kayu, patung batik pewarna alami, anyaman dan kerajinan tangan.

Computer and Information Technology

Pengelolaan rumah kaca, desain produk dan manajemen keuangan membutuhkan komputer dan jasa ahli komputer. Informasi teknologi makin dibutuhkan belakangan ini untuk perdagangan/penjualan online.

Mechanics/Engineer

Jika usaha tani membaik, mereka pada akhirnya akan membutuhkan mesin-mesin pertanian dan pengolahan pangan. Tidak perlu canggih, cukup yang teknologi sederhana saja. Perancang, produsen dan pemelihara mesin akan makin dibutuhkan.

Profesi di desa/pertanian hampir sama beragamnya dengan profesi di perkotaan. Para profesional di atas selama ini banyak berkumpul di kota dan terutama bekerja pada perusahaan besar. Para pelaku profesi ini hanya akan bisa hidup di pedesaan jika usaha tani menguntungkan. Dan jika petani mau berkelompok/berkoperasi untuk bisa bersama-sama menggaji mahal profesional-profesional tadi.***

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.