Bertanya pada Si Parasit Lajang yang Tak Lajang Lagi

728

Ayu Utami dalam sebuah acara “Meet & Greet” pada Maret 2013. [Sumber: www.vienwie.blogspot.co.id]
“Kita memang tak pernah bisa tahu bagaimana pikiran perempuan bekerja. (Apakah memang benar-benar ada pikiran di sana, ataukah hanya dengungan seperti lebah yang terperangkap dalam stoples?)”

 

Ekspresi seorang pramuniaga dalam cerpen “Supermarket A & P” karya John Updike tersebut mewakili stereotip yang dipelihara masyarakat partriarkal. Perempuan seolah tidak termasuk ke dalam jenis makhluk rasional seperti manusia. Padahal, nalar dan kesadaran politis saling mengandaikan. Feminis liberal menekankan nalar sebagai ciri utama manusia, tak terkecuali perempuan.

Kesadaran politis bukan hanya menyadari bahwa perempuan tak seharusnya lebih rendah dari laki-laki, tetapi juga menuntut keputusan yang mencerminkan kesadaran tersebut. Terlalu banyak hal yang perlu disadari perempuan, perlakuan seksis dan kondisi lainnya yang menempatkan perempuan dalam kedaan tak menguntungkan. Kali ini, saya hendak membahas satu hal saja yang membelit perempuan dalam kultur mana pun, yaitu pernikahan.

Keberanian Menghadapi Konsep Pernikahan

Tak seperti lelaki, kadang pernikahan bagi perempuan lebih runyam. Simon de Beauvoir dalam sebuah kuliah di Jepang pada 1966 (Toety Herati, 2000) memaparkan beberapa kasus perempuan yang terhambat prestasinya karena konstruksi tentang pernikahan. Ada mahasiswi yang menghasilkan karya biasa-biasa saja, ada sutradara perempuan yang merasa cukup dengan film-film kecil besutannya, ada pula seorang istri yang rela tidak lulus ujian filsafat. Mereka semua khawatir mempunyai ambisi hebat berarti hampir tidak ada kesempatan untuk memiliki pernikahan yang berhasil.

Sulit bagi perempuan untuk menyeimbangkan aktualisasi diri dan membangun rumah tangga. Mengapa hampir tidak ada pertimbangan seperti itu bagi laki-laki? Simon de Beauvoir menegaskan, perlu keberanian untuk perempuan menjalani kehidupan yang mengizinkannya berkarya dan menikah. Perempuan pun sedari awal seharusnya berani menghadapi konsep pernikahan dengan penuh kesadaran.

Berangkat dari realitas ini, saya hendak mengajukan beberapa pertanyaan pada si parasit lajang yang tak lajang lagi.

Bagaimana dengan Perempuan yang Tak Memiliki Kesadaran?

Keberanian mendeklarasikan pernikahan bukan sebagai tujuan utama pernah dilakukan Ayu Utami. Melalui trilogi Si Parasit Lajang (2013), Cerita Cinta Enrico (2012), dan Pengakuan Eks Parasit Lajang (2013), ia memaparkan alasannya tak menikah dan akhirnya menikah. Ayu Utami mengklaim dirinya sebagai Si Parasit Lajang, ia merasa tak perlu menikah. Catat, tak perlu. Kesadaran ini ia dapatkan dari kenyataan yang ia temukan pada keluarganya sendiri.

Dua orang bibinya tak kunjung menikah hingga usia menggerus kemolekan tubuh. Bukan tak ingin, tapi tak kunjung ada yang mempersunting. Mereka begitu mendambakan pernikahan hingga menjadi perempuan yang dipenuhi rasa dengki.

Betapa dua perempuan tersebut dibentuk oleh masyarakat yang mengagungkan pernikahan. Di benak kemenakan mereka yang bernama Ayu itu mungkin begini: mengapa perempuan begitu terkungkung dengan konsep pernikahan? Mengapa tak membuat pernikahan sebagai pilihan saja, bukan keharusan? Lagi pula pernikahan tidak selalu menjamin kebahagiaan, terutama bagi perempuan yang dalam hukum pernikahan Indonesia seharusnya inferior.

Ayu Utami mudah mengumumkan dirinya tak ingin menikah dengan berbagai alasan ideologis, namun bagaimana sikap Ayu terhadap perempuan lain yang tak mempunyai kesadaran dan keberanian seperti dirinya? Kesadaran yang dimiliki Ayu Utami sulit ditemukan di lingkungan sekolah di negara ini.

Sebagian besar perempuan Indonesia masih mengimani pernikahan sebagai syarat sempurnanya hidup dan agama. Seperti wudhu untuk salat. Ketidaksetaraan dalam pernikahan adalah bentuk pengabdian kepada keimanan tersebut. Memberitahu para perempuan itu? Sebagaimana dikatakan Ayu Utami, bukankah pengetahuan adalah hal yang menyakitkan?

Bagaimana Bila Calon Suami Tidak Sadar Gender?

Si Parasit Lajang akhirnya memutuskan untuk menikah, ia harus membuat sesuatu untuk melegitimasi keputusannya itu. Cerita Cinta Enrico memperkenalkan Rik, lelaki yang lahir di tengah pemberontakan PRRI itu, sedikit banyak mempunyai prinsip yang sama dengan Ayu.

Perkara pernikahan, Rik dan Ayu Utami satu suara. Rik tak pernah merasa harus menikah, Rik tak mewajibkan dirinya sebagai kepala keluarga, tentu demikian menurut Ayu. Senada soal pernikahan dan tidak adanya kesalahan ontologis membuat Ayu ingin memperbaiki dirinya yang selama ini  berkutat dalam lingkaran setan. Berpacaran dengan seorang lelaki, lalu meninggalkannya secara perlahan ketika ada lelaki lain, begitu seterusnya.

Lingkaran setan itu menunjukkan lelaki sebelum Rik, yaitu Nik. Nik seorang lelaki istimewa karena tetap teguh beribadah sembari berdosa. Unik, tapi  tentang pernikahan, Nik sama dengan lelaki pada umumnya yang memandang pernikahan adalah wajib dengan ia sebagai imamnya. Nik merasa tak masalah, normal saja sesuai kehendak masyarakat.

Persoalannya, lebih banyak lelaki seperti Nik ketimbang seperti Rik. Ayu dapat lega karena Rik memungkinkan untuk terciptanya pernikahan yang egaliter. Perempuan yang memiliki kesadaran akan pernikahan setara tak ada gunanya tanpa lelaki yang berpikir serupa. Jadi, bukan hanya perempuan seperti A yang too good to be true tapi Rik juga, bukan begitu Mbak Ayu?

Bagaimana Bila Tak Menikah Bukan Pilihan Sadar?

Perlu diketahui bahwa ada jenis lain dari perempuan yang tidak menikah. Berbeda dari dua bibi Ayu Utami, perempuan jenis ini tak menikah karena korban tuntutan menjadi manusia sukses versi masyarakat. Tidak menikah, tak mempunyai kesadaran akan keadannya, dan akhirnya dicibir pula.

Tuntutan masyarakat memang membuat pening. Ayu Utami, walau bagaimanapun, menyerah pada tuntutan ini, sehingga ia bukan lagi merasa tak perlu tapi tak mampu menikah. Apalagi kalau bukan agar tuntutan masyarakat terdamaikan ketika ia akhirnya memutuskan menikah?

Pengakuan Eks Parasit Lajang menjadi tempat berhamburnya pandangan Ayu Utami tentang pernikahan, agama, dan kontradiksi pada pendapat masyarakat umum. Ayu Utami harus repot-repot menjelaskan bahwa buku tersebut dibuat bukan untuk mengisahkan pencarian cinta sejati, melainkan tentang sebuah perjalanan kesadaran. Mengapa? Apakah sulit sekali memastikan pesan kesadaran itu sampai?

Lalu, dari mana datangnya kesadaran politis untuk menikah atau tidak? Tidak setiap orang mempunyai kemampuan untuk memahami realitas dan kesadaran politis seperti Ayu Utami ataupun Rik.

Atau, jangan-jangan semua pertanyaan ini sepatutnya diajukan kepada kita semua yang mengagungkan pernikahan?

Komentar anda