OUR NETWORK

Tiga Kolom “Maut” Setelah Setya Novanto Tersangka

Setelah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), begitu ramai perbincangan media, juga ramai publik mencerca. Selain mencerca juga ada kolom-kolom yang menarik mengupas soal Setya.

Pertama, kolom “Setya Novanto dan Ketidakabsahan DPR” yang ditulis oleh Iding Rosyidin, Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga penggila sepakbola.

Menurut Iding, DPR kian terdeligitimasikan dengan penetapan elite pimpinannya sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP. Besar kemungkinan anggota-anggotanya yang lain pun, yang sudah disebut-sebut dalam kasus ini, statusnya akan segera menyusul seperti disandang Setya. Maka, Pansus Angket tentu akan semakin sulit untuk melangkah lebih jauh, kecuali mereka ingin terus dihujat publik.

Kedua, kolom “Setelah Setya Novanto Jadi Tersangka” ditulis oleh pengamat hukum dan peneliti di Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Hifdzil Alim.

Alim menilai, selain yang sudah disediakan oleh peraturan perundang-undangan untuk pengamanan aparat penegak hukum dan penegakan hukum itu sendiri, KPK wajib tetap konsisten dalam jalan hukum. Tidak hanya untuk kasus korupsi E-KTP, tetapi juga untuk semua kasus korupsi yang sedang ditangani oleh KPK. Setelah Setya Novanto, KPK harus menetapkan tersangka lainnya dari unsur eksekutif, legislatif, dan korporasi.

Ketiga, kolom yang ditulis Antoni Putra. Antoni adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang dan peneliti di Lembaga Antikorupsi Integritas. Kolomnya yang berjudul, KPK vs Koruptor: Kisah Tom & Jerry di Dunia Nyata dengan cantik “mencubit” DPR.

Dalam satu paragraf kolomnya, Antoni menulis, bila kita belajar dari kisah Tom & Jerry, mustahil DPR akan berhenti menyerang KPK, kecuali memang para koleganya (koruptor, mafia, dan lain sebagainya) tidak lagi terusik oleh KPK.

Dalam kisah Tom & Jerry, tikus akan selalu lebih pintar daripada kucing. Sepintar apa pun kucing berinovasi, tikus akan jauh lebih pintar berinovasi. Demikian tiga kolom “maut” yang barangkali membuat kita berang, geram, atau termenung setelah membacanya. Semoga bermanfaat.

Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…