Minggu, November 1, 2020

Soal Blok Masela, Jokowi Harus Kembali ke Nawa Cita

Yulianis: Mantan Komisioner KPK Tolak Panggil Ibas Karena Alasan Teman

Jakarta, 24/7 - Saksi kunci kasus korupsi wisma atlet Yulianis mengungkapkan dua mantan komisioner KPK Abraham Samad dan Bambang Widjojanto menolak memanggil Edhie Baskoro...

Uni Emirat Arab Minati Sektor Penerbangan Indonesia

Jakarta, 17/7 - Uni Emirat Arab (UEA) meminati berinvestasi pada sektor penerbangan di Indonesia atau berencana menambahkan jadwal penerbangan menuju UEA maupun sebaliknya. "Indonesia negara...

Menteri Luhut Klaim Investor Amerika Tertarik Biayai Proyek LRT Jabodetabek

Jakarta, 4/8 - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan struktur pendanaan kereta ringan Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi yang minim menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara...

BUMN Tak Punya Sistem Transparansi dan Akuntabilitas

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menyatakan 141 badan usaha milik negara memiliki laba yang tertahan sebesar Rp 656 triliun hingga 31 November 2014....
Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.

Pekerja melakukan pemeriksaan rutin saat gerhana matahari di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap dan Gas (PLTGU) Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (9/3). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama/16
Pekerja melakukan pemeriksaan rutin saat gerhana matahari di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap dan Gas (PLTGU) Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (9/3). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Pengembangan Blok Masela hingga kini masih menuai pro dan kontra. Penyebabnya, perdebatan antara Menteri Koordinator Maritim Rizal Ramli dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said. Keduanya menginginkan pola pengembangan yang berbeda terhadap Blok Masela. Rizal Ramli menginginkan pembangunannya melalui  onshore (darat). Sementara Sudirman Said lebih memilih offshore atau terapung di laut.

Ketua Bidang Energi Sekretariat Nasional Jokowi, Tumpak Sitorus, mengatakan dalam persoalan Blok Masela, ada hal-hal penting yang tidak bisa dikesampingkan. Pasalnya, persoalan ini tidak serta merta hanya menyangkut persoalan politik atau ekonomi. Artinya, bukan hanya persoalan onshore atau offshore. Tetapi lebih dari itu, ini terkait dengan ideologi bangsa yang tujuannya untuk menciptakan kesejahteraan umum.

“Aroma politik, apalagi kepentingan, sangat jelas tercium dalam persoalan pengembangan Blok Masela ini. Karena itu, dalam memutuskan masalah ini, Presiden Joko Widodo perlu berhati-hati dan harus kembali pada koridor Tri Sakti dan Nawa Cita,” kata Tumpak ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (16/3).

Dia mengingatkan, Joko Widodo pada masa kampanyenya dulu berjanji bakal menerapkan pola pembangunan pemerintahannya sesuai dengan Nawa Cita. Yakni, membangun Indonesia dari kawasan pinggiran. Adapun wilayah yang bakal menjadi fokus pembangunan pada pemerintahannya adalah kawasan timur Indonesia.

“Perubahan struktural pada masyarakat yang diagendakan Jokowi itu sudah benar. Jadi, jangan sampai dirusak oleh kepentingan-kepentingan tertentu,” tuturnya.

Presiden Joko Widodo, kata Tumpak, perlu berkaca pada persoalan serupa yang lebih dulu ada. Jangan sampai mengulang kesalahan seperti yang terjadi pada pertambangan PT Freeport Indonesia di Papua. Sebab, dari kesalahan itu, Tumpak menyebut banyak masyarakat Papua akhirnya sengsara. Mereka sebagian besar tidak merasakan dampak ekonomi yang dihasilkan dari tambang Freeport.

Menurut Tumpak, dalam mengembangan Blok Masela, pemerintah semestinya mulai mempersiapkan diri membangun berbagai sektor di berbagai lini. Salah satunya adalah  membangun sumber daya manusia, terutama yang berasal dari Maluku, untuk memiliki sertifikasi, sehingga layak ditempatkan untuk mengelola Blok Masela. Terlebih pada kondisi saat ini, ketika Indonesia mengikuti Masyarakat Ekonomi Asean.

“Yang dikhawatirkan terjadi kalau ini tidak dilakukan, yang siap untuk menjadi tenaga kerja di sana adalah Filipina dan Vietnam. Sebab, mereka banyak memiliki tenaga kerja di sektor migas yang sudah tersertifikasi,” katanya.

“Sementara Indonesia, dalam hal ini masyarakat Maluku, nantinya hanya bisa jadi penonton. Tak menutup kemungkinan nasib mereka bakal sama seperti yang dirasakan masyarakat Papua.”

Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.