Rabu, Oktober 21, 2020

Setahun Jokowi-JK, Kebebasan Berekspresi Terancam

Setya Novanto di Pusaran Korupsi: 7 Kasus, 5 Peran

Setya Novanto (SN) akhirnya menjadi tersangka skandal besar korupsi pengadaan e-KTP. Seperti “God Father”, SN diduga mengatur perencanaan hingga siapa saja yang ikut dalam...

Koalisi Nelayan Pertanyakan Munculnya Raperda Reklamasi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta tengah memproses Rancangan Peraturan Daerah guna memuluskan pembangunan reklamasi di Teluk Jakarta. Dua...

Cara Kemenpan-RB Antisipasi Kecurangan Penerimaan CPNS

Mataram, 3/8 - Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menggandeng Lembaga Sandi Negara guna mengantisipasi segala bentuk kecurangan yang mungkin terjadi dalam proses...

Menag dan Bupati Purwakarta Kunjungi Keluarga Korban Pembakaran di Bekasi

Cikarang Bekasi, 7/8 - Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudd bersama Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mendatangi rumah korban pembakaran yang diduga pencuri pengeras suara untuk...
Avatar
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.

Ilustrasi. Dugaan pencemaran nama baik, Aktivis ICW diperiksa bareskrim. ANTARA FOTO
Ilustrasi. Dugaan pencemaran nama baik, dua aktivis ICW diperiksa Bareskrim. ANTARA FOTO

Direktur Eksekutif Yayasan SatuDunia Firdaus Cahyadi mengatakan, kebebasan berekspresi di internet masih menjadi ancaman dalam satu tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla. Hal itu disebabkan pemerintah belum sepenuhnya melindungi kebebasan berekspresi di internet.

Kasus kebebasan berekspresi di internet yang terakhir, lanjut Firdaus Cahyadi, menimpa Fiqri Rahmadhani yang mengunggah video dugaan pelanggaran hukum oleh oknum polisi Ternate di situs youtube. “Kasus itu  adalah salah satu contoh penggunaan pasal karet, pencemaran nama baik di UU Informasi dan Transasksi Elektronik (UU ITE) yang digunakan secara ugal-ugalan,” kata Firdaus di Jakarta, Kamis (22/10). “Sebelumnya sudah banyak korban berjatuhan korban dari pasal karet.”

Sepanjang tahun 2014, misalnya, sekitar 41 orang terjerat pasal karet pencemaran nama baik UU ITE. Firdaus mengatakan korban pasal karet UU ITE pun beragam, dari masyarakat awam, aktivis, hingga artis. Ini menandakan bahwa pasal karet di UU ITE harus segera dicabut jika tidak ingin lebih banyak lagi korban berjatuhan.

Selain itu, SatuDunia juga mencatat, selama pemerintahan Jokowi juga terjadi pemblokiran situs tanpa melalui proses hukum. Pemblokiran situs tanpa proses hukum itu jelas membahayakan kebebasan berekspresi, ungkapnya. Kalau dibiarkan seperti itu, Indonesia akan kembali ke era kegelapan Orde Baru yang mengekang kebebasan berekspresi.

Menurut Firdaus, ancaman kebebasan berekspresi, baik berupa ancaman pencemaran nama baik hingga pemblokiran, menunjukkan bahwa UU ITE ini mendesak direvisi. Di sisi lain, lanjut dia, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pernah berjanji akan merevisi UU ITE di tahun ini. “Namun, tahun 2015 segera berakhir, tanda-tanda revisi UU ITE juga belum nampak,” katanya.

Karena itu, SatuDunia sebagai organisasi yang peduli pada penguatan informasi, komunikasi, dan teknologi di kalangan masyarakat sipil mendesak revisi UU ITE segera dilaksanakan. “Dalam revisi UU ITE itu pasal karet pencemaran nama baik harus dicabut dan pengaturan pemblokiran situs internet harus di atur di UU. Bukan dengan keputusan menteri atau rekomendasi tim panel bentukan pemerintah,” tegasnya.

Sebelumnya, Rabu (11/3), Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, pihaknya akan melakukan revisi UU ITE, khususnya pasal yang dinilai kontroversional. Revisi Pasal 27 ayat (3) itu akan diupayakan sesuai dengan kesepakatan dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

“Kita sepakat dengan DPR, Pasal 27 ayat (3) UU ITE akan direvisi pada tahun 2015. Kita berharap juga orang yang berada di sistem peradilan dapat mendengar suara kita.” kata Rudiantara.

Seperti diketahui, UU ITE yang terbit pada 25 Maret 2008 ini dinilai memiliki sejumlah pasal karet. Salah satu pasal yang dianggap kontroversial adalah Pasal 27 ayat (1) dan (3), Pasal 28 ayat (2), dan Pasal 31 ayat (3). Pasal itu membahas penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media massa. Pasal ini kerap dipakai menuntut pidana pengguna media sosial yang melayangkan kritik lewat dunia maya.

Avatar
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.