Banner Uhamka
Jumat, September 18, 2020
Banner Uhamka

Reklamasi Akan Hancurkan Keanekaragaman Hayati Indonesia

Golkar Susul PKB Usung Gus Ipul di Pilkada Jatim

Surabaya, 19/8 - Sejumlah pengurus Dewan Pimpinan Daerah I Partai Golkar Jawa Timur menegaskan partainya akan menyusul PKB mengusung Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai...

Gubernur Anies Baswedan Apresiasi Jakarta Fair Kemayoran 2018

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan kembali mengunjungi Jakarta Fair Kemayoran 2018  pada   Minggu (1/7) malam kemarin di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat. Kedatangannya tersebut...

Pansus Hak Angket Temukan Empat Poin Terkait Kinerja KPK

Jakarta, 21/8 - Panitia Khusus Hak Angket DPR terkait Tugas dan Wewenang KPK menemukan empat poin krusial mengenai kinerja lembaga pemberantasan korupsi tersebut tata...

Industri Pengolahan Perikanan Asing Harus Dibatasi

Usulan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ihwal pembukaan 100% industri pengolahan perikanan untuk asing harus dilihat dari segi konsesi dan dampaknya. Pasalnya, banyak...
Avatar
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.

Alat berat memindahkan batu untuk reklamasi pantai, di Pariaman, Sumatera Barat, Kamis (15/10). ANTARA
Alat berat memindahkan batu untuk reklamasi pantai di Pariaman, Sumatera Barat, Kamis (15/10). ANTARA

Pembangunan reklamasi pantai dan laut secara masif di seluruh Indonesia tidak hanya menghancurkan kehidupan masyarakat pesisir, terutama nelayan, tetapi juga akan menyebabkan hancurnya keanekaragaman hayati di Indonesia.

“Reklamasi adalah contoh buruk pembangunan. Kalau semua wilayah di Indonesia terjadi reklamasi, maka akan menghancurkan keanekaragaman hayati. Sebab, reklamasi akan mengeruk  pasir di pantai dan penimbunan pasir di laut. Ingat, pasir daratan tidak bisa dipakai karena senyawanya berbeda,” kata pakar oseanografi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Alan Frendy Koropitan di kantor LBH Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, laut Indonesia sangat unik sehingga setiap tahun ada penemuan tumbuhan terbaru. Di dunia, lanjutnya, hanya dua negara yang memiliki keanekaragaman hayati, yakni Indonesia dan Karibia. Dua negara ini ke depan menjadi sumber atau bahan dasar pembuatan obat di dunia.

“Produk obat-obatan di Indonesia sangat besar, 70% di antaranya berasal dari laut,” ujar Alan. Hal itu juga disebutkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), bahwa potensi laut Indonesia sebagai sumber baku produk obat. Bahkan berbagai ilmuwan dunia datang ke Indonesia untuk meneliti keanekaragaman hayati.

Di dunia, terdapat 40 ribu spesies tanaman dan sekitar 30 ribu spesies berada di Indonesia. Karel Heyne, peneliti asal Belanda, menyebutkan 1.306 jenis tumbuhan tinggi untuk obat Indonesia. Itu belum termasuk tumbuhan rendah. Sedangkan PT Essai Indonesia melaporkan 3.689 jenis tumbuhan obat.

Alan juga menyebut pembanguan reklamasi Teluk Jakarta yang terus dilakukan. Ini akan menjadi preseden buruk untuk daerah lain. Daerah lain di Indonesia bukan tidak mungkin akan mencontoh pembangunan reklamasi di Jakarta. “Jika itu terjadi, selesai sudah keanekaragaman hayati di laut Indonesia,” ungkapnya.

Selain itu, dia juga menyoroti perbandingan reklamasi di Belanda, Korea Selatan, dan Singapura oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kalau Korea Selatan sudah tiga kali reklamasi, tapi sekarang dihentikan karena memiliki masalah yang tidak dijelaskan. Belanda membangun reklamasi dan tanggul karena ada badai tropis. Sedangkan Indonesia tidak ada badai tersebut karena masuk dalam wilayah perairan ekuator.

Berdasarkan hukum fisika, lanjut Alan, badai tropis tercipta dari kesetimbangan dua gaya. Pertama, gaya koriolis yang muncul karena perputaran bumi, dan kedua karena tekanan di permukaan laut. “Di wilayah ekuator, tidak ada gaya koriolis. Semakin menuju ke daerah ekuator, maka gaya koriolis semakin mati,” ungkapnya.

Sedangkan reklamasi di Singapura, Alan memberitahu Ahok, Singapura itu mengambil material reklamasinya dari Indonesia. “Jadi, yang menghancurkan atau merusak ekosistem kita juga mereka.”

 

Avatar
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

Pers Masa Pergerakan: Sinar Djawa dan Sinar Hindia

Surat kabar Bumiputera pertama adalah Soenda Berita yang didirikan oleh R.M Tirtoadisuryo tahun 1903. Namun, surat kabar ini tak bertahan lama. Pada 1905-1906, Soenda...

Hukum Adat, Kewajiban atau Hak?

Mengenai definisi hukum adat dan proporsi hak dan kewajiban dalam hukum adat, Daud Ali dalam Buku Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum...

Tulisan Muhidin M Dahlan Soal Minang itu Tidak Lucu Sama Sekali

Sejak kanak-kanak sampai menjelang dewasa, saya sangat dekat dengan nenek. Sementara ibu dan bapak yang bekerja sebagi pegawai negeri sudah berangkat kerja setiap pagi....

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.