Rabu, April 14, 2021

Pencabutan Izin Usaha Perusahaan Pembakar Lahan Amat Terlambat

Demokrat Pastikan Khofifah Daftar Bakal Cagub Jawa Timur

Surabaya, 26/7 - Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Jawa Timur mengakui Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa akan mendaftar sebagai bakal calon gubernur pada hari...

Fraksi-Fraksi Gelar Pleno Jelang Rapat Paripurna RUU Pemilu

Jakarta, 20/7 - Beberapa fraksi di DPR, seperti Fraksi Partai Golkar, PKS, dan PKB melakukan rapat pleno internal menjelang sidang paripurna dengan agenda pengambilan...

Pemilik Kapal Pencuri Ikan Tak Boleh Ikuti Lelang

Koalisi Rakyat untuk Perikanan (Kiara) mengusulkan pelelangan kapal pencuri ikan harus diperketat. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya pembelian kapal oleh pemilik kapal melalui...

BI Minta Presiden Jokowi Keluarkan Amanat Redenominasi

Jakarta, 21/7 - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menginginkan pemerintah mengeluarkan amanat presiden seandainya memang mendukung redenominasi atau penyederhanaan mata uang dibahas lebih lanjut...
Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.

Jarak pandang semakin pendeka akibat kabut asap/Antara Foto
Jarak pandang semakin pendek di Sumatera akibat kabut asap/Antara Foto

Pemerintah berencana akan mencabut izin usaha perusahaan yang terbukti membakar hutan atau lahan pada tahun depan. Rencana pencabutan izin tersebut dinilai sangat terlambat. Sebab, audit investigasi yang dilakukan pemerintah terhadap sejumlah perusahaan pembakar lahan sudah dilakukan sejak 2014.

Pius Ginting dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengatakan, audit investigatif pada 2014 dilakukan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Tujuannya untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap tahunnya. Dari audit tersebut, beberapa perusahaan sudah terbukti melakukan pelanggaran. Karena itu, pemerintahan saat ini seharusnya tinggal menindaklanjuti dan segera mengeksekusi temuan tersebut.

“Kali ini pemerintahan Joko Widodo menjanjikan ada perbaikan, namun pada tahun depan. Padahal, pemerintah semestinya mencabut izin usaha perusahaan pembakar lahan saat ini juga. Tidak ada lagi kompromi. Apalagi sudah terbukti tahun 2015 ini dampak asap sangat parah dan lebih banyak memakan korban jiwa, terutama anak-anak,” kata Pius ketika di temui di Jakarta.

Menurut dia, jika pemerintah serius merespons bencana kabut asap yang terjadi di Kalimantan, Sumatera bahkan Papua, seharusnya ada upaya penindakan lebih lanjut terhadap perusahaan pembakar lahan. Setidaknya memberhentikan izin usahanya sementara sambil menunggu proses hukum berjalan.

“Jika langkah ini ditempuh, pemerintah telah menjalankan program Nawa Cita seperti yang dijanjikannya, yaitu memberhentikan izin usaha perusahaan yang melanggar tanpa takut investasi akan lari,” tuturnya.

Pius mengungkapkan, pihak kepolisian yang telah menganulir PT BMH, salah satu anak usaha grup Sinar Mas sebagai tersangka pembakar lahan, merupakan upaya yang bertentangan dengan Undang-Undang Perkebunan. Dalam undang-undang tersebut, perusahaan wajib memiliki sarana dan prasarana saat terjadi kebakaran lahan. Dan ini merupakan tanggung jawabnya yang harus dipenuhi.

“Namun hal tersebut nyatanya tidak diindahkan oleh perusahaan tersebut. Karena itu, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak menghukumnya.”

Selain itu, Pius mengkritisi sikap pemerintah yang melulu hanya fokus mengejar pertumbuhan ekonomi semata, sehingga melupakan pelestarian lingkungan. Pemerintah tidak memperhatikan undang-undang tata ruang. Hal tersebut menyebabkan banyak lahan gambut yang beralih fungsi secara masif untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Padahal, telah diatur pemanfaatan lahan gambut hanya boleh dilakukan secara terbatas.

“Walau kelapa sawit potensinya besar sebagai komoditas ekspor, kerugian yang ditimbulkan juga sangat luas. Selain kerusakan lingkungan tentunya, juga menciptakan kematian bagi masyarakat, terutama anak-anak akibat kabut asap yang ditimbulkan,” kata Pius.

Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.
Berita sebelumnyaMenilai Kinerja Basuki
Berita berikutnyaSaat Tiran Bersekongkol
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.