Senin, Januari 25, 2021

Penanganan Kasus Tilang Perlu Dibenahi

Poros Maritim Dunia Masih Setengah Hati

Cita-cita Presiden Joko Widodo menjadikan Indonesia poros maritim dunia merupakan suatu keniscayaan yang bisa dilakukan. Namun demikian, pada praktiknya langkah pemerintah untuk menjadikan Indonesia...

Pemerintah Akan Bentuk Lembaga Tunggal Antikorupsi

Deputi II Kantor Kepresidenan RI Yanuar Nugroho mengatakan, perombakan birokrasi dalam pemerintahan Joko Widodo menjadi salah satu pemicu membaiknya peringkat Corruption Perception Index (CPI)...

Pemerintah DKI Kesulitan Bongkar Pagar Gedung untuk Pejalan Kaki

Akses pejalan kaki untuk mencapai ke satu lokasi membutuhkan waktu lama, bahkan membutuhkan waktu 30 menit dan energi yang besar untuk mencapai tujuan. Karena...

AS, Rusia dan Italia Kirim Astronot ke Luar Angkasa

Cape Canaveral, Florida, 28/7 - Trio astronot dari Amerika Serikat, Rusia dan Italia bertolak ke Stasiun Luar Angkasa Internasional pada Jumat. Keberangkatan itu merupakan suatu...
Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.

Ratusan pelanggar lalu-lintas antre untuk mengikuti sidang tilang operasi Zebra Tahun 2015 di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat (13/11). ANTARA FOTO/Reno Esnir/ama/15.
Ratusan pelanggar lalu-lintas antre untuk mengikuti sidang tilang operasi Zebra Tahun 2015 di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat (13/11). ANTARA FOTO/Reno Esnir/ama/15.

Pengelolaan penanganan perkara pelanggaran lalu lintas atau tilang didesak untuk segera dibenahi. Pasalnya, sekarang ini proses penyelesaian perkara pelanggaran lalu lintas kerap tidak efektif. Akibatnya, banyak kerugian yang ditimbulkan, baik oleh masyarakat atau pelaku yang terkena tilang maupun institusi penegak hukumnya sendiri.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Indonesia, M. Nur Sholikin, mengungkapkan setiap tahun perkara pelanggaran lalu lintas selalu menempati peringkat teratas. Dari keseluruhan perkara pidana yang mencapai 3 juta lebih yang ditangani pengadilan negeri, sebanyak 96% merupakan perkara pelanggaran lalu lintas.

“Artinya, setiap satu pengadilan menangani antara 10 sampai 16 ribu perkara tilang setiap minggunya. Akibatnya, kondisi tersebut membuat sumber daya pengadilan lebih banyak tersedot hanya untuk menangani perkara tilang yang sebenarnya tidak pasti dan cenderung hanya basa-basi,” ungkap Solikhin ketika ditemui di Jakarta Rabu (25/11).

Menurut dia, bertumpuknya perkara tersebut dan para pelaku pelanggaran di tempat persidangan pada hari sidang membuat pelayanan publik lainnya oleh pengadilan menjadi terbengkalai. Terlebih fasilitas pengadilan tidak cukup memadai menampung para pelaku pelanggaran, sehingga menimbulkan antrean cukup panjang. Hal tersebut pada akhirnya menyebabkan munculnya calo-calo penyedia jasa untuk penyelesaian sidang tilang.

Karena itu, kata Sholikin, perlu ada solusi untuk mengubah pengelolaan penyelesaian perkara pelanggaran lalu lintas, baik jangka pendek,  menengah maupun jangka panjang. Dalam jangka panjang, diperlukan adanya perubahan undang-undang guna mengurangi proses penyelesaian perkara pelanggaran lalu lintas dari domain pengadilan negeri. Khususnya bagi perkara di mana pelanggarnya telah mengakui kesalahannya.

“Jadi, ketika sudah menggunakan metode tersebut, pelanggar atau pelaku tidak perlu lagi mengikuti persidangan. Langkah ini bisa mengurangi beban pengadilan negeri dan secara tidak langsung bisa menghapus percaloan yang selama ini marak terjadi,” ujarnya.

Untuk jangka menengah, yang dapat ditempuh adalah dengan membentuk kesepakatan bersama antar lembaga terkait seperti Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, dan Kepolisian. Koordinasi ini penting dilakukan yang menekankan pada proses penindakan hingga pembayaran denda dan pengambilan barang bukti.

Adapun jangka pendek, Mahkamah Agung diharapkan dapat segera menerbitkan kebijakan yang menjadi standar nasional untuk membenahi pengelolaan perkara tilang di pengadilan. Kebijakan ini bisa diimplementasikan di setiap pengadilan negeri di mana pun berada, khusunya dalam menangani persoalan penyelesaian pelanggaran lalu lintas.

Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.