Senin, April 12, 2021

Pemerintah Disarankan Bentuk Satgas 007 Atasi Kelangkaan Garam

Menteri Jonan Kunjungi AS untuk Percepat Perundingan Freeport

Jakarta, 31/7  - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan melawat ke Amerika Serikat (AS) untuk mempercepat proses perundingan dengan PT Freeport...

Lima Saksi Kasus Korupsi Pengadaan Helikopter AW-101 Diperiksa KPK

Jakarta, 15/8 - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa sejumlah anggota TNI AU dalam penyidikan dugaan tindak pidana korupsi pengadaan helikopter angkut AgustaWestland (AW)-101 di...

Indonesia Tawarkan Proyek KA dan Pelabuhan ke Investor Asing

Jakarta, 13/7 - Indonesia menawarkan proyek pengembangan kereta api dan pelabuhan pada Pertemuan ke-8 ASEAN-ROK Transport Cooperation Forum yang diselenggarakan di Seoul, Korea pada...

Bendera Indonesia Dicetak Terbalik, #ShameOnYouMalaysia Trending di Twitter

Kuala Lumpur, 19/8 - Bendera Indonesia yang tercetak dalam buku panduan pelaksanaan SEA Games (SEAG) 2017 di Malaysia, 19-30 Agustus, terlihat dalam posisi terbalik. Menpora...

Petani menjajakan garam di Penggaraman Talise, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (27/7). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/kye/17

Bogor 29/7 – Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB) Prof Indrajaya merekomendasikan agar pemerintah membentuk satuan tugas, dan menamainya Satgas 007 Garam sehingga bisa tuntas mengatasi persoalan kelangkaan garam nasional.

“Saran saya, pakai gaya Pemerintah Jokowi-JK saat ini, bentuk Satgas 007 Garam,” kata Indra kepada Antara di Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu.

Indra menjelaskan, pembentukan satuan tugas diperlukan karena melalui satgas ada upaya yang total untuk menuntaskan persoalan garam, dan personel satgas melibatkan lintas sektor.

Keberadaan Satgas 007 Garam juga tidak boleh dibatasi pada persoalan penindakan saja, tetapi juga pada persoalan bagaimana menggiring setiap pihak untuk patuh pada aturan atau sistem yang dianut.

“Jadi, kalau berantas pencurin ikan yang banyak mafianya itu sukses dengan Satgas 115-nya. Nah, untuk garam bentuk aja Satgas 007 Garam. Insya Allah dalam waktu singkat beres persoalan garam,” kata Indra.

Menurutnya, untuh mengatasi persoalan garam yang terjadi saat ini, dibutuhkan kemauan serius pemerintah dalam mengembangkan industri garam, karena persoalan teknis relatif mudah untuk diselesaikan.

Ia mengatakan, negara sekelas India mampu memproduksi garam lebih baik dan ekonomis daripada Indonesia. Sementara dalam penerapan teknologi produksi garam sama dengan yang dilakukan yakni tekni alami evaporasi.

Menurutnya, kesuksesan India memproduksi garam berkelanjutan dapat diadopsi oleh Indonesia, dengan memetakan secara keseluruhan dari hulu-hilir, dan dimulai dari sistem produksi.

“Atau bisa juga mulai dari hilir dan tarik ke belakang ke arah hulu. Yang penting kita harus serius dan sungguh-sungguh, berkomitmen penuh dan menyadari bahwa garam ini sudah ke harga diri bangsa. Masa bangsa yang berangan-angan menjadi poros martim dunia tidak bisa menuntaskan persoalan garam ini,” katanya.

Indra mengatakan, dirinya bersama mahasiswa pernah melakukan riset tentang bagaimana mendapatkan garam yang berkualitas dengan sistem evaporasi seefisien mungkin. Riset tersebut berskala kecil (laboratorium) bukan lapang. Mencoba sistem evaporasi dua tahap.

Menurutnya, untuk menghasilkan garam berkualitas perlu kebersihan air laut yang masuk dan dasar tambak diberi atas atau terpal yang bisa disebut dengan geomembrane.

“Jadi ini bukan teknologi tingkat tinggi,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, teknik evaporasi dengan cara sederhana, air laut yang ada dalam wadah dievaporasi dalam sistem semacam rumah kaca. Air laut akan lebih cepat menguap dan tinggal, air laut yang berkonsentrasi garam yang petak atau tinggi dipisahkan atau dialihkan ke wadah lain dan kemudian dievaporasi lagi hingga dapat endapan garam.

“Tentu dalam risenya kami ukur suhu di luar dan di dalam rumah kaca, serta kelembabannya,” katanya.

Selain membentuk Satgas 007 Garam, Indra juga merekomendasikan agar pemerintah melanjutnya dan membenahi program yang sudah dikembangkan dulu sejak 2011 yakni pemberdayana usaha garam rakyat (PUGAR) dan Non PUGAR (swadiaya masyarakta).

“Yang penting dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan,” kata Indra.

(Sumber: Antara)

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.