Senin, Januari 25, 2021

Pembuatan Kanal Bisa Memperparah Kebakaran Lahan

BPJS Watch Tolak Calon Incumbent Direksi BPJS

Koordinator Advokasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Watch Timboel Siregar menegaskan penolakan pencalonan incumbent direksi BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Penolakan itu dikarenakan tidak...

Prabowo dan Petinggi Gerindra Tiba di Kediaman SBY

  Cikeas, 27/7 - Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto memenuhi janjinya bertemu dengan Presiden RI keenam sekaligus Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo...

Pemerintah Bahas Dua Proyek Kereta Cepat

Jakarta, 25/7 - Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas dengan sejumlah menteri, membahas dua proyek kereta cepat yaitu untuk Jakarta-Bandung, dan Jakarta-Surabaya. Menteri Pekerjaan Umum...

RUU Pengampunan “Koruptor” Tak Masuk Akal

Dewan Perwakilan Rakyat mengusulkan tindak pidana korupsi dan pencucian uang masuk dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Pengampunan Nasional. Namun, berbagai kalangan menolak usulan tersebut karena...
Avatar
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.

Alat berat mengeruk tanah untuk membuat kanal (Sekat Bakar) di kawasan lahan gambut yang terbakar di Desa Rimbo Panjang, Kampar, Riau, Rabu (23/9). Pembuatan sekat bakar dilakukan dengan cara pembersihan rumput, semak dan pohon pada areal yang dianggap rawan yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran api. ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Alat berat mengeruk tanah untuk membuat kanal (Sekat Bakar) di kawasan lahan gambut yang terbakar di Desa Rimbo Panjang, Kampar, Riau, Rabu (23/9). Pembuatan sekat bakar dilakukan dengan cara pembersihan rumput, semak dan pohon pada areal yang dianggap rawan yang bertujuan menghentikan penyebaran api. ANTARA FOTO/Rony Muharrman

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menilai pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa solusi mengatasi kebakaran lahan adalah pembuatan kanal-kanal atau kanalisasi bisa kontraproduktif terhadap upaya penanganan kebakaran lahan dan hutan. Alih-alih mencegah terjadinya kebakaran di kemudian hari, justru kanal tersebut bisa memperparah situasi.

“Pembuatan kanal-kanal di lahan gambut justru menjadi penyebab keringnya lahan gambut sehingga sangat rentan terhadap kebakaran,” kata Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalimantan Tengah Arie Rompas, Jakarta, Jumat (25/9).

Dia menjelaskan ribuan kilometer kanal yang membelah-belah lahan gambut seluas 1,4 juta hektar pada Proyek Lahan Gambut (PLG) di Kalimantan Tengah pada rezim Soeharto menjadi penyebab kebakaran lahan dan hutan sampai saat ini. Karena itu, Presiden Jokowi jangan mengeluarkan pernyataan yang dapat mengulang kesalahan yang dilakukan mantan Presiden Soeharto

Selama 18 tahun bencana asap yang disebabkan oleh penghancuran hutan dan lahan secara sistematis karena ekspansi industri monokultur mengalami pembiaran oleh berbagai rezim pemerintahan di Indonesia. Pembiaran ini mengakibatkan berbagai kerugian yang dialami warga masyarakat. Terutama di wilayah-wilayah di mana proses ekspansi ini berjalan masif dan mayoritas terjadi di ekosistem gambut, seperti di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Selama bertahun-tahun pula titik-titik api dan kebakaran terjadi di konsesi-konsesi korporasi yang mengembangkan industri monokultur, seperti perkebunan kayu untuk industri pulp, serta perkebunan kelapa sawit. “Industri monokultur yang beroperasi di lahan-lahan gambut membelah-belah lahan gambut dan membangun kanal-kanal untuk mengeringkan lahan gambut sehingga cocok untuk ditanami komoditas seperti akasia dan kelapa sawit,” kata Arie.

Sementara itu, Manajer Kampanye Eksekutif Nasional Walhi Kurniawan Sabar mengatakan pemerintah harus melakukan penegakan hukum terhadap korporasi yang melakukan kejahatan lingkungan. Selain itu, pemerintah harus meninjau ulang perizinan dan luasan konsesi yang telah diberikan kepada korporasi, serta melakukan pemulihan dan perlindungan eksositem penting dan rentan seperti ekosistem gambut.

“Pemulihan ekosistem gambut dapat dilakukan dengan menyekat atau memblok kanal-kanal yang telah dibuat oleh industri monokultur untuk mengeringkan lahan gambut. Denagn demikian lahan-lahan gambut tersebut dapat terairi kembali,” kata Kurniawan. “Perintah Presiden untuk membangun kanal-kanal dan bukannya memblok kanal-kanal justru akan memperparah situasi yang ada.”

Seperti diketahui, pekan lalu Presiden Joko Widodo menginstruksikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk membangun kanal di Kalimantan Tengah. Pembangunan kanal ini dilakukan untuk mengatasi kebakaran lahan dan hutan yang semakin meluas.

“Tadi saya berdiam diri selama lima menit, tiba-tiba saja api membesar. Kuncinya ada di kanal. Segera lakukan kanalisasi dan harus besar-besaran,” kata Presiden Jokowi.[*]

Avatar
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.