Senin, Januari 25, 2021

Moratorium Gaya Susi Dinilai Berdampak Positif

PUKAT UGM: Pemberantasan Korupsi Hancur Lebur

Setahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla memimpin, cita-cita untuk mengupayakan penegakan dan pemberantasan korupsi di Indonesia hancur lebur. Sebab, faktanya janji yang disampaikan Jokowi-JK pada...

Trump Larang Transgender Gabung Militer AS

Washington, 26/7 - Presiden Donald Trump mengatakan, Rabu, ia tidak akan mengizinkan kaum 'transgender' bergabung dengan militer Amerika Serikat. Trump beralasan bahwa kalangan transgender (yang...

Kiara: Gubernur Kaltara Harus Batalkan Penggunaan Pukat Hela

Gubernur Kalimantan Utara Triyono Budi Sasongko memutuskan untuk melegalkan penggunaan alat tangkap ikan pukat hela (trawl) di wilayah perairan Kalimantan Utara. Kebijakan itu diambil...

KPK Periksa Laksamana Sukardi Sebagai Saksi Kasus BLBI

Jakarta, 26/7 - Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksa Menteri BUMN 1999-2000 Laksamana Sukardi dalam penyidikan tindak pidana korupsi pemberian Surat Keterangan Lunas (SKL) pemegang saham...

Asap membumbung dari kapal nelayan asing yang diledakan di perairan Belawan Medan, Sumatera Utara, Kamis (31/12). KKP bersama TNI AL yang tergabung dalam Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal atau Satgas 115 secara serentak meledakan 10 buah kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia, yaitu satu kapal di Medan, satu kapal di Batam, dua kapal di Tarakan, Kalimantan Utara dan enam kapal di Tahuna, Sulawesi Utara. ANTARA FOTO/Septianda Perdan
Asap membumbung dari kapal nelayan asing yang diledakkan di perairan Belawan Medan, Sumatera Utara, Kamis (31/12). ANTARA FOTO/Septianda Perdan

Selama tahun 2015 perikanan nasional kembali menggeliat.

Langkah tegas Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melarang kapal-kapal asing menangkap ikan di Indonesia berdampak positif terhadap produktivitas perikanan dalam negeri. Selama tahun 2015 perikanan nasional kembali bangkit karena kebijakan tersebut.

Moratorium kapal asing tersebut memberi angin segar bagi nelayan Indonesia, namun memukul pengusaha besar, khusunya industri pengolahan ikan luar negeri.

Bedasarakan survei dari Center for Policy Analysis and Reform (CPAR) di Teluk Ambon pada November 2015, hasil tangkapan nelayan kecil meningkat secara signifikan. Nelayan saat ini bisa menangkap ikan-ikan baby tuna dan cakalang yang sebelumnya sangat langka karena ditangkapi oleh kapan asing. Jika dulu satu keranjang ikan cakalang dihargai Rp 1 juta, kini cuma dibanderol Rp 100.000. Sebab, seiring pelarangan operasi kapal-kapal eks asing, industri pengolahan ikan di Indonesia Timur tutup.

Dari pemantauan di Bitung, Sulawesi Utara, pasca kebijakan moratorium dan pelarangan transhipment di tengah laut, kapal-kapal ukuran besar banyak yang terparkir di dermaga. Dampaknya, hasil tangkapan nelayan kecil cenderung meningkat dan jarak tangkap menjadi lebih dekat. Namun, hasil tangkapan nelayan tersebut masih belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan ikan.

“Nelayan Indonesia bisa sejahtera tanpa kapal asing. Itu adalah salah satu dampak moratorium yang memberi angin segar bagi nelayan,” kata Suhana, peneliti CPAR di Jakarta, Senin (11/1/2016).

Dalam Konsultasi Publik Rancangan Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan 2015-2019,  Menteri Susi Pudjiastuti menyatakan bahwa moratorium kapal asing menyebabkan kekosongan ikan di pasar dunia karena terhentinya pasokan ikan asal Indonesia.

Hal tersebut terlihat data laporan Market Reports Globefish edisi Oktober 2015. Data tersebut mencatat volume ekspor tuna olahan dari Thailand ke pasar internasional periode Januari – Maret 2015 rata-rata turun 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014. Bahkan volume ekspor Thailand ke Amerika Serikat dalam periode Januari – Maret 2015 turun 23% dan ekspor ke pasar Uni Eropa turun 31% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014.

Kebijakan moratorium tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan ekspor ikan dalam negeri. Negara-negara Eropa, Malaysia, dan Singapura menjadi negara tetangga yang paling banyak mengimpor ikan dari Indonesia. Dengan peningkatan permintaan ekspor, ikan Indonesia ditargetkan menyumbang devisa hingga US$ 5 miliar pada 2015 yang pada 2013 mencapai US$ 77 juta.

Sinyal positif juga dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) pada perdagangan Indonesia dengan Malaysia yang surplus US$ 154,7 pada semester pertama 2015. Surplus tersebut disumbang dari sektor ekspor ikan ke Malaysia.

Susi Pudjiastuti juga menyebutkan bahwa harga ikan turun berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram. Menurut menteri yang beberapa kali menenggelamkan kapal asing ilegal ini, ikan kakap yang semula Rp 60 ribu turun menjadi Rp 40 ribu per kg.  Penurunan harga diharapkan dapat meningkatkan konsumsi ikan masyarakat Indonesia.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.