Kamis, Januari 21, 2021

Menteri Natsir Jelaskan Tujuan dan Cara Merger Kampus Swasta

KPK Pelajari Perkembangan Kasus Novel Baswedan

Jakarta, 1/8 - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mempelajari lebih lanjut hasil pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian terkait...

Magelang Bisa Menjadi Model Experience Tourism

Magelang sesungguhnya adalah destinasi wisata yang sangat kaya di Indonesia. Ia menyimpan kekayaan warisan budaya yang luhur dan anggun, sekaligus aneka keindahan alam yang...

Bos First Travel Ajukan Penangguhan Penahanan

Jakarta, 15/8 - Pasangan suami istri yang menjadi tersangka dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana pembayaran puluhan ribu calon jamaah umrah, Andika Surachman...

Nihi Sumba Island, Tagar #PariwisataJuara Menjadi Trending

Tagar #PariwisataJuara menjadi trending pertama dari pagi hingga siang hari ini (12/7). Foto-foto indah tempat wisata dari penjuru Indonesia tampak menghiasi linimasa pada hastag...

Menkominfo Rudiantara (kiri), Menristek Muhammad Nasir (tengah) dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (kanan) mengikuti acara deklarasi antiradikalisme yang diselenggarakan di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, Jumat (14/7). ANTARA FOTO/Agus Bebeng

Jakarta, 17/7 – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Natsir menegaskan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) harus segera melakukan merger agar efisien dan mampu meningkatkan kualitas mutu pendidikanya.

“Karena jumlah perguruan tinggi di Indonesia begitu besar, maka perlu direvitalisasi. Dengan cara apa? Salah satunya merger,” kata Mohamad Natsir si Jakarta, Senin, usai mendampingi Wapres M Jusuf Kalla membuka Munas ke IV Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia.

Sebelumnya dalam pidatonya, Wapres M Jusuf Kalla juga telah mengusulkan adanya merger bagi PTS yang ada di Indonesia.

Lebih lanjut Mohamad Natsir menjelaskan perlunya penguatan perguruan tinggi dengan manajemen yang lebih ramping, program studi yang lebih besar dan cakupan mahasiswa yang lebih banyak. Saat ini, karena jumlah perguruan tinggi sangat besar sedangkan jumlah mahasiswa kecil, mengakibatkan biaya pengelolaannya menjadi cukup mahal, katanya menambahkan.

Mohamad Natsir mengusulkan ada tiga tahapan agar PT bisa merger. Pertama, diutamakan terlebih dahulu bagi PT atau yayasan yang memiliki berbagai perguruan tinggi di berbagai daerah. “Ini dulu sebab akan lebih mudah karena satu yayasan,” kata Mohammad Natsir.

Kedua, yayasan yang mempunyai kesamaan visi antara yayasan satu dengan yang lainnya.

Ketiga, yang mungkin terjadi adalah antara perguruan tinggi besar dan kecil supaya terjadi penguatan, jumlah mahasiswa makin banyak, kualitas pendidikan makin baik, dan dosennya makin banyak juga.

“Kami keluarkan peraturan, dulu aturannya yang tinggi-tinggi saja akreditasinya. Padahal justru yang menjadi masalah itu yang di perguruan tinggi kecil yang akreditasinya C, ini yang perlu kita merger dulu,” kata Mohamad Natsir.

Natsir menegaskan usulan yang disampaikannya sejauh ini tidak ada penolakan. Yang terjadi, tambahnya, justru sangat besar peluangnya, dan responsnya sangat positif.

“Mereka (PTS) sangat menerima, meskipun kami tidak memaksakan. Saya arahkan ke sana,” kata Mohammad Natsir. “Yang lebih menggembirakan, PT besar menerima dan maunya ke arah merger itu sehingga asetnya makin banyak, nilainya makin besar, dan sebagainya.”

Saat ini jumlah PTS dan PTN di Indonesia ada 4.529 buah. Dari jumlah itu, yang memiliki akreditasi A hanya 50 PT (PTN dan PTS).

Mohamad Natsir menjelaskan saat dirinya menjabat sebagai menteri baru ada 16 yang akreditasi A. “Apa yang masalah. Tidak adanya pembinaan, karena itu saya lakukan pembinaan. Tahun 2015 meningkat menjadi sekitar 26 PT, tapi nggak ini masih kurang,” katanya.

“Target saya ke depan bisa mencapai 75 atau 80 PT dengan akreditasi A.”

(Sumber: Antara)

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.