Minggu, Januari 17, 2021

Mantan Jenderal: Reformasi TNI Kebablasan

Perombakan Kabinet Jilid II Tersandera Partai Politik

Desakan publik kepada Presiden Joko Widodo untuk merombak kembali Kabinet Kerja kembali mencuat. Itu karena publik menilai masih ada pembantu presiden yang tidak bekerja...

Bubarkan Saja KPK jika Kewenangan Dipangkas

Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat akan merevisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Dalam Pasal 5 dan 51 Rancangan Undang-Undang KPK...

Pemerintah Akan Sesuaikan Regulasi Pajak Mobil Sedan

Jakarta, 21/7 - Pemerintah akan menyesuaikan regulasi mobil jenis sedan dengan type SUV dan MPV sehingga sedan tidak lagi termasuk barang mewah. "Jadi ini sudah...

APBN 2016 Rawan Diselewengkan

Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016 dinilai rawan terjadi konflik kepentingan antara pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasalnya, pembahasan RAPBN 2016 yang dijadwalkan...
Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.

Prajurit Korps Marinir TNI AL berbaris saat upacara peringatan HUT ke-70 Korps Marinir TNI AL di Lapangan Mako Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (15/11). Peringatan hari jadi ke-70 Korps Marinir TNI AL digelar dengan mengusung tema "Kuat Bersama Rakyat Berkarakter Maritim." ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/kye/15
Prajurit Korps Marinir TNI AL berbaris saat upacara peringatan HUT ke-70 Korps Marinir TNI AL di Lapangan Mako Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (15/11). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/kye/15

Reformasi yang dilakukan di tubuh Tentara Nasional Indonesia dinilai sudah kebablasan. Pasalnya, peran TNI saat ini yang tunduk pada otoritas sipil kerap disalahgunakan. Akibatnya, reformasi yang terjadi di tubuh TNI saat ini telah menganulir fungsi utama TNI yang sesungguhnya, yakni menjaga kedaulatan negara dan mempertahankan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mantan Kepala Staf Umum Letnan Jenderal TNI (Purn) Johannes Suryo Prabowo mengatakan, langkah TNI di awal tahun ini yang telah menyepakati 30 nota kesepahaman (MoU) dengan lembaga negara lainnya membuat para menteri dan kepala lembaga negara lainnya memiliki kewenangan dalam menggunakan TNI secara spontanitas.

“Hal ini jelas keliru. Sebab, pengoperasian kekuatan TNI untuk melaksanakan tugas-tugas selain perang, hanya boleh dilakukan atas kebijakan politik negara. Bukan atas keputusan kepala lembaga negara,” kata Suryo ketika ditemui di Jakarta, Rabu (18/11).

Dia mencontohkan, salah satu nota kesepahaman yang telah disepakati TNI dengan lembaga negara yaitu adanya kesepakatan dengan Kementerian Perhubungan. Hal ini tentu tindakan gegabah. Maka, tak heran adanya nota kesepahaman tersebut mengakibatkan banyak anggota TNI yang akhirnya tunduk pada otoritas bandara dan pelabuhan.

“MoU yang dibuat TNI dan Kementerian Perhubungan memberi peluang bagi prajurit TNI untuk menjadi satpam-satpam stasiun, pelabuhan, bandara, dan kantor-kantor kementerian lainnya,” tuturnya.

Bahkan celakanya, lanjut dia, adanya upaya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang ingin memberikan uang saku kepada TNI bisa mengubah tentara nasional menjadi tentara daerah yang lingkupnya lebih kecil. Akibat adanya pemberian uang saku tersebut, TNI nanti mesti tunduk pada Gubernur.

Karena itu, Suryo menegaskan, sebenarnya yang lebih mendesak untuk direformasi saat ini adalah pihak otoritas sipil. Hal tersebut perlu dilakukan agar seorang pemimpin kepala pemerintahan, baik pusat maupun daerah, tidak menjadi penguasa yang otoriter dan militeristik. Memanfaatkan kekuatan militer untuk melindungi kekuasaannya.

“Pemerintah pusat dan daerah seharusnya mematuhi undang-undang yang mengatur pembinaan dan penggunaan kekuatan TNI. Mereka tidak bisa menyalahgunakan kekuatan TNI untuk menyelesaikan tugas-tugas kementerian dan tugas pemerintah daerah,” ujarnya. “Bagaimanapun TNI adalah alat negara, bukan alat pemerintah dan sama sekali bukan alat kementerian.”

Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.