Jumat, Desember 4, 2020

Kampanye Politik lewat Media Sosial Dinilai Lebih Efektif

Pemerintah Diminta Tegakkan Kebebasan Beragama

Masyarakat minoritas sering mendapat perlakuan diskriminatif dari pemerintah terkait  keyakinan agamanya. Padahal, konsep negara kita adalah Pancasila yang memberikan kebebasan masyarakat dalam beragama. Sekretaris Jenderal...

Kebijakan Jokowi soal Penaikan Tarif Listrik Blunder

Pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla bersikukuh akan mencabut subsidi energi bagi masyarakat di sektor ketanagalistrikan. Pada 1 Januari 2016, pemerintah akan mencabut subsidi listrik untuk...

Utamakan UU Nelayan Ketimbang Revisi UU KPK

Rencana pemerintah Joko Widodo dan Dewan Perwakilan Rakyat memangkas kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan...

Bekraf Komitmen Jadikan Habibie Festival Ajang Tolak Ukur Teknologi

Jakarta, 7/8 - BEKRAF Habibie Festival yang resmi dibuka untuk umum secara gratis pada 7-13 Agustus 2017 memamerkan karya inovasi dan teknologi yang diproduksi...
Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.

Petugas Saatpol PP melepaskan Alat Peraga Kampanye (APK) calon Bupati dan Wakil bupati di Indramayu, Jawa Barat, Minggu (6/12). Memasuki masa tenang Pilkada Panwaslu bersama KPUD Indramayu dibantu Satpol PP, TNI dan Polri melakukan penertiban APK ilegal yang tidak sesuai dengan ketentuan. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/pd/15.
(Ilustrasi) Petugas Satpol PP melepaskan alat peraga kampanye (APK) calon bupati dan wakil bupati di Indramayu, Jawa Barat, Minggu (6/12). ANTARA FOTO.

Menyampaikan ide dan gagasan politik kepada masyarakat kerap dilakukan partai politik melalui berbagai macam jenis media. Tidak melulu melalui media konvensional seperti televisi, radio, majalah atau koran. Kini, sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan politik tersebut lebih variatif. Salah satunya melalui media sosial. Cara ini terbukti nyata lebih mudah, murah, dan efektiif.

Direktur Eksekutif Institute for Transformation Studies (Intrans), Andi Saiful Haq, mengatakan di era sekarang ini penggunaan media sosial sebagai sarana aktivitas politik sepertinya sudah menjadi kewajiban. Terutama bagi organisasi partai politik maupun aktor politik.

Tidak hanya di Indonesia, bahkan di seluruh belahan dunia. Meski bukan lagi hal baru, partai politik dituntut untuk mampu menjawab tantangan ini. Sekaligus sebagai upaya untuk bertransformasi menjadi partai politik yang berbeda dari sebelumnya.

“Pemanfaatan media sosial sebagai sarana kampanye partai politik ternyata lebih efektif. Sebab, ketika ide dan gagasan yang disampaikan oleh sebuah partai politik melalui media sosial, itu bisa langsung segera direspons. Masyarakat yang mengakses media sosial dan mengetahui gagasan tersebut dapat langsung menanggapinya,” kata Saiful ketika ditemui di Jakarta, Rabu (30/3).

Dia mengungkapkan, Intrans telah melakukan penelitian pada Februari hingga Maret 2016 terkait kinerja partai politik di media sosial. Hasilnya, seluruh partai politik di Indonesia memang sudah melakukan kegiatan kampanye melalui media sosial. Namun, dari data tersebut, hanya Partai Gerindra dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang melakukan kampanye sistematis dan memiliki program yang terencana dengan baik lantaran mengedepankan peran organisasi partai.

“Berbeda dengan partai politik seperti PDIP dan PKS, yang selama ini kinerjanya  cenderung lebih besar mengandalkan kekuatan organik atau kader dan simpatisan untuk berkampanye di media sosial,” tuturnya.

Saiful menjelaskan, dalam berkampanye di media sosial, cara yang dilakukan PSI sangat terarah. Partai yang dimotori oleh Grace Natalie itu konsisten dengan sikapnya terkait isu kebangkitan generasi muda dan peran perempuan. Konten yang disajikan juga cukup menarik dan relevan, sehingga mengundang banyak masyarakat atau netizen, khususnya anak muda, untuk turut berpartisipasi.

Hal serupa juga dilakukan Partai Gerindra. Partai yang baru berusia 8 tahun itu mampu memanfaatkan peranannya sebagai partai oposisi. Kekonsistenan sikapnya inilah yang kemudian membuat Partai Gerindra terus menanjak kinerjanya di media sosial. Itu terlihat dari jumlah audiens, Gerindra merupakan pemilik audiens terbanyak.

“Kalau kinerja Partai Gerindra dan PSI diperhatikan, keduanya menempati posisi teratas dalam segi kinerja partai di media sosial. Itu terlihat dari engagement-nya yang cukup tinggi,” kata Saiful. “Sementara partai lain belum menunjukkan ke arah sana.”

Seperti yang terjadi pada Partai Persatuan Indonesia (Perindo), misalnya. Meski jumlah konten yang diunggah cukup banyak, yakni mencapai 2.590, toh aktivitasnya itu tidak menjamin engagement yang tinggi dari publik media sosial. Artinya, sangat sedikit publik yang merespons konten tersebut. Ini terjadi karena kualitas konten (pesan, aktual, dan relevansi) yang disampaikan belum maksimal.

Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.