Kamis, Oktober 29, 2020

Kampanye Politik lewat Media Sosial Dinilai Lebih Efektif

BJ Habibie: Indonesia Perlu Menentukan GBHN

Jakarta, 22/8 - Presiden Ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie menegaskan Indonesia perlu memiliki Garis Besar Haluan Negara (GBHN) agar arah pembangunan nasional fokus...

Menteri Sri Mulyani: Suntik Dana untuk Dua BUMN

Jakarta, 14/7 - Pemerintah mengusulkan dua BUMN mendapat Penyertaan Modal Negara (PMN) pada RAPBN-P 2017 yaitu kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero sebesar...

Kontras: Kepolisian dan LPSK Gagal Lindungi Rakyat

Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) menyatakan Kepolisian telah gagal mengimplementasikan Perkappolri No 8 tahun 2009 tentang Implementasi HAM dalam Penyelenggaraan Tugas...

Menteri Susi Minta Perpres Perikanan Tangkap Tak Diubah

Jakarta, 14/8 - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menginginkan Peraturan Presiden No 44 Tahun 2016 terkait dengan sektor perikanan tangkap nasional jangan sampai...
Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.

Petugas Saatpol PP melepaskan Alat Peraga Kampanye (APK) calon Bupati dan Wakil bupati di Indramayu, Jawa Barat, Minggu (6/12). Memasuki masa tenang Pilkada Panwaslu bersama KPUD Indramayu dibantu Satpol PP, TNI dan Polri melakukan penertiban APK ilegal yang tidak sesuai dengan ketentuan. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/pd/15.
(Ilustrasi) Petugas Satpol PP melepaskan alat peraga kampanye (APK) calon bupati dan wakil bupati di Indramayu, Jawa Barat, Minggu (6/12). ANTARA FOTO.

Menyampaikan ide dan gagasan politik kepada masyarakat kerap dilakukan partai politik melalui berbagai macam jenis media. Tidak melulu melalui media konvensional seperti televisi, radio, majalah atau koran. Kini, sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan politik tersebut lebih variatif. Salah satunya melalui media sosial. Cara ini terbukti nyata lebih mudah, murah, dan efektiif.

Direktur Eksekutif Institute for Transformation Studies (Intrans), Andi Saiful Haq, mengatakan di era sekarang ini penggunaan media sosial sebagai sarana aktivitas politik sepertinya sudah menjadi kewajiban. Terutama bagi organisasi partai politik maupun aktor politik.

Tidak hanya di Indonesia, bahkan di seluruh belahan dunia. Meski bukan lagi hal baru, partai politik dituntut untuk mampu menjawab tantangan ini. Sekaligus sebagai upaya untuk bertransformasi menjadi partai politik yang berbeda dari sebelumnya.

“Pemanfaatan media sosial sebagai sarana kampanye partai politik ternyata lebih efektif. Sebab, ketika ide dan gagasan yang disampaikan oleh sebuah partai politik melalui media sosial, itu bisa langsung segera direspons. Masyarakat yang mengakses media sosial dan mengetahui gagasan tersebut dapat langsung menanggapinya,” kata Saiful ketika ditemui di Jakarta, Rabu (30/3).

Dia mengungkapkan, Intrans telah melakukan penelitian pada Februari hingga Maret 2016 terkait kinerja partai politik di media sosial. Hasilnya, seluruh partai politik di Indonesia memang sudah melakukan kegiatan kampanye melalui media sosial. Namun, dari data tersebut, hanya Partai Gerindra dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang melakukan kampanye sistematis dan memiliki program yang terencana dengan baik lantaran mengedepankan peran organisasi partai.

“Berbeda dengan partai politik seperti PDIP dan PKS, yang selama ini kinerjanya  cenderung lebih besar mengandalkan kekuatan organik atau kader dan simpatisan untuk berkampanye di media sosial,” tuturnya.

Saiful menjelaskan, dalam berkampanye di media sosial, cara yang dilakukan PSI sangat terarah. Partai yang dimotori oleh Grace Natalie itu konsisten dengan sikapnya terkait isu kebangkitan generasi muda dan peran perempuan. Konten yang disajikan juga cukup menarik dan relevan, sehingga mengundang banyak masyarakat atau netizen, khususnya anak muda, untuk turut berpartisipasi.

Hal serupa juga dilakukan Partai Gerindra. Partai yang baru berusia 8 tahun itu mampu memanfaatkan peranannya sebagai partai oposisi. Kekonsistenan sikapnya inilah yang kemudian membuat Partai Gerindra terus menanjak kinerjanya di media sosial. Itu terlihat dari jumlah audiens, Gerindra merupakan pemilik audiens terbanyak.

“Kalau kinerja Partai Gerindra dan PSI diperhatikan, keduanya menempati posisi teratas dalam segi kinerja partai di media sosial. Itu terlihat dari engagement-nya yang cukup tinggi,” kata Saiful. “Sementara partai lain belum menunjukkan ke arah sana.”

Seperti yang terjadi pada Partai Persatuan Indonesia (Perindo), misalnya. Meski jumlah konten yang diunggah cukup banyak, yakni mencapai 2.590, toh aktivitasnya itu tidak menjamin engagement yang tinggi dari publik media sosial. Artinya, sangat sedikit publik yang merespons konten tersebut. Ini terjadi karena kualitas konten (pesan, aktual, dan relevansi) yang disampaikan belum maksimal.

Avatar
Tito Dirhantoro
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.