Senin, April 12, 2021

Harga Minyak Dunia Turun, Asumsi APBN Harus Disesuaikan

Pemerintah Bakal Hilangkan Garam Industri dan Konsumsi

Jakarta, 14/8 (Antara) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah berencana untuk menghilangkan perbedaan garam konsumsi dan garam industri sehingga produksi...

Kementerian Sosial Kucurkan Dana E-Warong di Kupang

Kupang, 18/7 - Kementerian Sosial mengucurkan anggaran Rp 30 juta bagi kelompok masyarakat pemilik warung gotong royong elektronik (e-warong) di Kota Kupang yang akan...

Hukuman Tak Manusiawi Terus Berulang, Pemerintah Dinilai Abai

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyesalkan tindakan penelanjangan atas seorang remaja putri oleh massa di Sragen, Jawa Tengah. Remaja putri tersebut...

KPU: Revisi UU Pilkada Harus Diprioritaskan

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengungkapkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2017 masih banyak kendala akibat aturan yang kurang lengkap. Karena itu, perlu revisi Undang-Undang...

Kilang untuk penyimpanan dan pengolahan minyak/ANTARA FOTO
Kilang untuk penyimpanan dan pengolahan minyak/ANTARA FOTO

Harga minyak dunia terjun bebas di kisaran US$30 per barel. Bahkan beberapa hari lalu mencapai angka US$27 per barel. Harga minyak mentah yang jatuh  25% sepanjang tahun ini dikarenakan melimpahnya pasokan. Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan Desember 2015 memperkirakan penurunan harga minyak masih akan terjadi hingga kuartal III tahun ini.

Analis ekonomi Ichsanudin Noorsy melihat penurunan harga minyak dunia akibat adanya perang ideologi ekonomi. Perang ideologi ini, kata Noorsy, menggunakan komponen ekonomi, yaitu nilai tukar, komoditas, suku bunga serta inflasi dan dimaksudkan untuk mempertahankan dominasi kekuatan Amerika di dunia dari segi ekonomi.

“Dampaknya bagi Indonesia, pemerintah tidak lagi dapat menggunakan asumsi harga minyak sesuai APBN 2016. Asumsi yang ada di APBN 2016 harus disesuaikan dengan kondisi global seperti harga minyak dunia,” katanya di Jakarta, Kamis (28/1). Dalam APBN 2016, harga minyak mentah Indonesia ditetapkan sebesar US$50 per barel. Penurunan harga minyak ini akan membuat pendapatan menurun sehingga pertumbuhan ekonomi pun diperkirakan hanya sekitar 5 persen.

Menurut Wakil Ketua Bidang Distribusi dan Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Kyatmaja Lookman, meskipun komponen terbesar untuk pengiriman barang adalah bahan bakar minyak (sekitar 30 hingga 40 persen), penurunan harga BBM tidak berdampak signifian. Kyatmaja beralasan hal ini akibat penurunan BBM tidak membuat harga produk-produk lain seperti produk minyak pelumas dan ban mengalami penurunan.

Kyatmaja menambahkan, bila ingin meningkatkan daya beli masyarakat, yang harus dilakukan adalah mengatur tata kelola logistik. Salah satunya, membuat barang yang akan diangkut itu adalah barang jadi.

Direktur Pembinaan Program Migas Kementrian ESDM Agus Cahyono Adi menyebutkan over supply minyak  yang terjadi saat ini akibat dampak dari tingginya produksi minyak di Amerika sejak beberapa tahun lalu. Juga faktor geopolitik lainnya seperti masuknya minyak Irak ke pasar. Selain itu, melemahnya perekonomian di beberapa negara juga memicu menurunnya harga minyak.

Agus Cahyono menjelaskan saat ini pihak ESDM dan Kementerian Keuangan sedang menghitung ulang harga minyak untuk pengajuan APBNP. Meski demikian, dia optimistis target produksi minyak dapat terpenuhi.

 

 

 

 

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.