Jumat, Januari 15, 2021

Diskusi Green Millenials GeoInstitute dan FKIP Uhamka

Antara Yakin dan Ragu

Salah seorang ustadz yang beredar viral di media sosial terekam mengatakan “Kami akan menang, jika tidak menang maka pemilu ada kecurangan”. Pernyataan itu diteriakan...

Rumah Sakit Umum Harus Ramah Anak!

Rumah sakit yang layak anak masih jarang. Di beberapa daerah fasilitas di rumah sakit yang ramah anak masih jauh dari harapan. Padahal optimalisasi pelayanan...

Trump dan Prediksi Geopolitik Timur Tengah

Seorang raja properti yang juga Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump telah membuat gaduh dunia dengan pernyataannya yang kontroversial. Ia mendukung negara Israel...

Altruisme yang Terbatas

Orang sering terheran-heran, kadang setengah tak percaya sehingga kemudian memilih meyakini teori konspirasi, ketika seseorang yang mereka lihat sebagai manusia yang baik, yang santun,...
Redaksi
Redaksi

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) gelar diskusi lingkungan hidup bertema Gaya Hidup Go Green, Green Millenials, di Aula Ahmad Dahlan, Kampus FKIP Pasar Rebo, Jaktim, Selasa (2/4/2019). Diskusi yang digelar hasil kerjasama dengan Geotimes- Geoinstitute tersebut diikuti ratusan mahasiswa dan dosen UHAMKA.

Dekan FKIP UHAMKA Desvian Bandarsyah saat membuka resmi forum diskusi tersebut mengatakan bahwa isu lingkungan hidup menjadi hal penting yang harus dibawa ke forum yang melibatkan generasi milenial. Sebab generasi milenial terutama mahasiswa, kelak akan menjadi lokomotif penggerak pembangunan nasional.

“Isu lingkungan hidup adalah hal yang amat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ini realitas yang ada dihadapan kita,” kata Desvian.

Menurut Desvian, kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat membawa konsekuensi perubahan gaya hidup generasi milenial. Dengan teknologi informasi, banyak hal bisa dilakukan dengan mudah. Mulai dari persoalan makan, belanja, transportasi dan lainnya.

“Makan misalnya, dulu orang perlu waktu untuk memasak makanan yang diinginkan. Sekarang, orang tinggal memesan melalui aplikasi. Makanan akan datang jauh lebih cepat dibanding waktu yang kita butuhkan untuk memasaknya,” lanjut Desvian.

Berbagai kemudahan tersebut disisi lain membawa konsekuensi bagi kehidupan masyarakat. Kecenderungan masyarakat untuk melakukan hal-hal yang praktis, tidak mau repot termasuk dalam hal gaya hidup dan pola makan terus meningkat. Muncullah junk food, makanan siap saji, makanan yang sebenarnya merupakan ‘sampah’ bagi tubuh.

Muncul pula penggunaan pestisida untuk berbagai kebutuhan. Polusi, racun dan lingkungan yang rusak terus mengelilingi manusia. Dunia mengalami degradasi baik moral manusia maupun moral lingkungan.

“Kita lihat gaya hidup anak-anak jaman sekarang yang tidak mau repot bawa botol minum isi ulang dan memilih minuman kemasan saat harus bepergian. Atau memilih makanan siap saji dibanding makanan sehat lainnya,” jelas Desvian.

Ia mengingatkan isu lingkungan hidup sebenarnya sudah bergulir lama tepatnya awal tahun 1990-an bersamaan dengan isu demokratisasi, transparansi, clean government dan feminism. Isu tersebut terus bergulir bagaikan bola salju yang kemudian menyadarkan dunia terkait kondisi lingkungan hidup.

“Artinya para ahli sudah mengingatkan soal isu lingkungan hidup ini dengan berbagai konsekuensinya jauh hari sebelumnya, sudah sangat lama,” lanjut Desvian.

Ia mengambil contoh Thomas Mathus yang pada abada 18 sudah mengingatkan adanya ancaman kelangkaan pangan yang bakal melanda dunia. Kelangkaan pangan yang dipicu oleh makin berkurangnya sumber pangan dunia, disisi lain berhadapan dengan pertumbuhan populasi penduduk dunia yang terjadi dengan sangat cepat.

Lebih lanjut Desvian mengatakan bahwa isu lingkungan hidup sejatinya tidak sekedar pemanasan global tetapi juga merambah pada ancaman kelangkaan pangan, berkurangnya lahan pertanian, berkembangnya jenis-jenis penyakit baru, meningkatnya permukaan laut hingga hilangnya sejumlah pulau. Isu ini akan berkembang seiring makin bertambahnya jumlah atau populasi penduduk bumi.

Karena itu, melalui diskusi ini, Desvian berharap generasi milenial menyadari akan pentingnya isu lingkungan hidup. Sehingga pada akhirnya, generasi milenial mau memutuskan untuk berperan aktif untuk ikut mengatasi persoalan lingkungan hidup melalui perubahan gaya hidup yang ramah lingkungan dan aksi-aksi positif lainnya.

Ia juga mengingatkan sejatinya bumi adalah titipan anak cucu, titipan generasi yang akan lahir tahun-tahun mendatang. Karena itu jargon Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ‘alam bukan warisan nenek moyang kita tetapi titipan anak cucu kita’ perlu dipraktikkan oleh generasi milenial. Dengan demikian, generasi milenial akan lebuh arif dalam memperlakukan lingkungan dan alam.

Sementara itu, Ibrahim Ali Fauzi, dari Geotimes mengatakan masa depan bumi bergantung banyak pada kaum milenial. Apakah kaum milenial mau berperilaku ramah lingkungan atau justeru sebaliknya.

“Membawa botol minuman isi ulang, tidak memakai sedotan plastik, belanja membawa tas sendiri, adalah hal-hal sederhana yang bisa dilakukan generasi milenial untuk menjaga kelestarian lingkungan,” kata Ibrahim.

Upaya mengajak kaum milenial peduli pada lingkungan, Geotimes diakui Ibrahim terus melakukan roadshow ke kampus-kampus dan sekolah untuk melakukan kampanye dan edukasi terkait lingkungan hidup. Tahun ini Geotimes sudah mengunjungi 3 kampus terkait kampanye lingkungan yakni kampus Universitas Paramadina, Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Ahmad Dahlan, serta Uhamka.

Diskusi lingkungan hidup tersebut menampilkan pembicara Oke Fifi Abriany, aktivis LTK Lestari, Mubarak Ahmad, M.Pd, Dosen FKIP UHAMKA dan Jalal, dari Thamrin School.

Redaksi
Redaksi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.