Senin, Oktober 26, 2020

Analis Pajak: Perlu Gotong Royong untuk Keberhasilan Pembangunan

HUT Bhayangkara: 3 Hal yang Polisi Patut Diapresiasi

Hari ini, Bhayangkara merayakan ulang tahunnya yang ke-71. Banyak pihak menyampaikan pesan dan harapan kepada Kepolisian Republik Indonesia (POLRI), tidak terkecuali Presiden Republik Indonesia...

Menteri Yohana Larang Sekolah Keluarkan Siswa Bermasalah

Jakarta, 26/7 - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mengatakan sekolah tidak boleh mengeluarkan siswa yang bermasalah, karena hal tersebut melanggar hak...

Menteri Enggartiasto Imbau Pusat Perbelanjaan untuk Berinovasi

Jakarta, 17/7 - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan pusat perbelanjaan seperti mal dan supermarket perlu berinovasi agar tetap bertahan di tengah meningkatnya penjualan secara...

Fahri Hamzah Bicara Soal Apartemen DPR

Jakarta, 14/8 - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengklarifikasi pernyataannya bahwa rencana pembangunan apartemen untuk anggota DPR di lahan bekas Taman Ria, bisa menggunakan...
Avatar
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.

Sejumlah pekerja memasang besi cor tiang pada proyek pembangunan jalan layang Tendean-Ciledug di kawasan Santa, Jakarta Selatan. ANTARA FOTO/Paramayuda
Sejumlah pekerja memasang besi cor tiang pada proyek pembangunan jalan layang Tendean-Ciledug di kawasan Santa, Jakarta Selatan. ANTARA FOTO/Paramayuda

Peran pajak dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2015 semakin penting sebagai sumber pendapatan negara. Sebab, anggaran itu akan digunakan untuk menyelenggarakan pembangunan, pemerintahan, termasuk mewujudkan program-program kesejahteraan.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengatakan, realisasi penerimaan pajak hingga akhir November 2015 baru mencapai 65% atau Rp 850 triliun dari target Rp 1.294 triliun. Realisasi yang masih jauh dari target ini berpotensi mengganggu daya tahan fiskal dan menghambat program pembangunan.

“Untuk mencapai penerimaan pajak ke depan, kita mendukung upaya Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang gencar mengimbau para pengusaha besar untuk berpartisipasi meningkatkan setoran pajak sesuai prinsip gotong royong demi kelangsungan pembangunan dan kehidupan bernegara,” kata Prastowo dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (14/12). “Apalagi imbauan ini didasarkan pada informasi, data, dan keterangan yang akurat.”

Dia menambahkan, keberhasilan pemungutan pajak merupakan buah sinergi dan proses dialektis antara otoritas perpajakan yang melakukan pembinaan, pengawasan, dan penegakan hukum yang adil, serta partisipasi aktif warganegara yang bertanggung jawab.

Karena itu, pihaknya mendorong para pemangku kepentingan (pemerintah pusat, Dewan Perwakilan Rakyat, otoritas moneter, institusi penegak hukum, pemerintah daerah, asosiasi usaha, komunitas perpajakan, partai politik) agar bahu-membahu, bergotong-royong, dan bersinergi membantu DJP dan ikut mendorong partisipasi masyarakat wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai ketentuan perundang-undangan.

Kemudian, lanjut Prastowo, pihaknya mengingatkan jajaran DJP agar dalam melakukan pengawasan dan penegakan hukum senantiasa dilandaskan pada keadilan, kepastian hukum, dan penghormatan terhadap hak-hak wajib pajak. Selain itu, pemerintah dan DPR juga harus berkomitmen meningkatkan kualitas redistribusi uang pajak bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tanpa komitmen itu, mustahil bisa mencapai target pajak.

Seperti diketahui, belum optimalnya pemungutan pajak dikarenakan target pajak 2015 yang naik signifikan. Bahkan di saat target pajak meningkat, pemerintah menghadapi ekonomi global dan nasional yang melambat sehingga turut mempengaruhi pencapaian target pajak.

Tak hanya itu, lanjut Prastowo, dari sisi internal, koordinasi dan konsolidasi yang belum efektif juga mempengaruhi target pajak serta tingkat kesadaran dan kepatuhan wajib pajak secara umum masih rendah. “Ini tercermin belum efektifnya program reinventing policy dan bongkar pasang regulasi,” ujar Prasowo.

Avatar
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.