Rabu, Oktober 21, 2020

Akar Masalah Asap di Indonesia adalah Perusahaan

Fraksi Gerindra Keluar dari Pansus Hak Angket KPK

Jakarta, 24/7 - Wakil Fraksi Partai Gerindra DPR RI Desmond J Mahesa mengatakan fraksinya menarik diri dari Panitia Khusus Hak Angket DPR tentang Tugas...

Jusuf Kalla Minta Golkar Satu Suara di Pilgub Jabar

Jakarta, 22/8 - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, Partai Golkar harus satu suara soal Pilkada Jawa Barat 2018, mengingat yang saat ini terdapat dua...

Saudi Aramco Berpotensi Kuasai Minyak Dalam Negeri

Saudi Arabian Oil (Saudi Aramco), perusahaan minyak asal Arab Saudi, berencana menanamkan investasi di Indonesia. Perusahaan minyak terbesar di dunia itu akan membangun kilang...

Zulkifli Hasan Yakin Pertemuan SBY – Prabowo Tentramkan Hati Rakyat

Malang, 28/7 - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat RI Zulkifli Hasan menilai pertemuan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Gerindra...
Avatar
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.

Kabut asap yang menyelimuti kota Batam, Kepulauan Riau semakin tebal, Kamis (10/9). Menurut keterangan Badan Pengendali Dampak Lingkungan (Bapedalda) Batam, Kualitas udara di Kota Batam dan sekitarnya sudah masuk kriteria tidak sehat akibat kabut asap dari Sumatera. ANTARA FOTO/M N Kanwa
Kabut asap yang menyelimuti Kota Batam, Kepulauan Riau, semakin tebal, Kamis (10/9). Menurut keterangan Badan Pengendali Dampak Lingkungan (Bapedalda) Batam, kualitas udara di Kota Batam dan sekitarnya sudah masuk kriteria tidak sehat akibat kabut asap dari Sumatera. ANTARA FOTO/M N Kanwa

Kabut asap yang melanda beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan sudah dalam fase membahayakan dan bahkan menelan korban jiwa. Muhanum Anggriwati (12 tahun), warga Perum Griya Sepakat Asri, Pekanbaru, Riau, pada Kamis (10/9) meninggal akibat gagal pernafasan. Mukhlis, ayah Muhanum, mengatakan, putri sulungnya mengalami gagal pernafasan akibat paru-parunya disesaki lendir dan dahak. Padahal, selama ini putrinya tidak pernah mengeluh.

Sekretaris Jenderal Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Rahmat Ajiguna mengatakan, polutan asap yang menjadi bencana tahunan telah menimbulkan berbagai kerugian bagi masyarakat. Salah satunya meningkatnya jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Di Riau, penderita ISPA meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2013 jumlah penderita sebanyak 19.862 jiwa, pada tahun 2014 menjadi 27.200 jiwa. Selain itu, akibat asap masyarakat tidak dapat beraktivitas dengan nyaman dan aman sehingga banyak masyarakat tak bekerja dan anak-anak tidak sekolah.

Pada pekan keempat Juni 2015, di Riau tercatat ada 184 titik api di daerah konsesi 36 perusahaan serta 72 titik di daerah konservasi. Titik api terbesar di daerah konsesi perusahaan berasal dari area Sinar Mas Group, yakni PT Arara Abadi sebanyak 19 titik, PT Satria Perkasa Agung sebanyak 17 titik, dan April Group yakni PT Riau Andalan Pulp and Paper sebanyak 22 titik.

“Kebakaran lahan itu tidak terjadi secara alamiah, tapi sengaja dibakar oleh perusahaan untuk pembukaan lahan baru,” kata Rahmat di Jakarta, Jumat (11/9).

Dia menambahkan, akar masalah asap yang terjadi sejak tahun 1980 adalah adanya monopoli tanah oleh perusahaan perkebunan kayu dan perkebunan sawit. Data dan fakta yanga ada pembakaran lahan terjadi di konsesi perkabunan dan Sinar Mas Group, perusahaan perkebunan yang terbanyak membakar lahan.

Menurut Rahmat, pemerintah tidak serius mengatasi masalah asap di dua provinsi itu. Upaya pemerintah hanya menjadi rutinitas pemadaman pembakaran lahan. Tapi tidak ada upaya pencegahan dan penindakan terhadap pelaku pembakaran hutan. “Penindakan yang selama ini dilakukan hanyalah upaya kriminalisasi terhadap petani dan mereka dikorbankan. Pemerintah juga mengabaikan rakyat yang menjadi korban akibat kabut asap,” ungkap Rahmat.

Karena itu, AGRA menutut kepada pemerintah agar serius menangani masalah asap akibat pembakaran hutan dengan empat tuntutan. Pertama, pemerintah harus menetapkan masalah asap ini sebagai bencana nasional. Kedua, pemerintah harus melakukan tanggap darurat, selain pemadaman api. Juga menangani secara serius para korban asap dengan menyediakan tempat pengungsian yang aman, memberikan pelayanan kesehatan geratis, obat-obatan, makanan dan minuman serta psikolog.

Ketiga, pemerintah harus memberikan kompensasi terhadap rakyat yang sakit, yang tidak bisa bekerja karena asap, yang tidak dapat sekolah dan juga korban meninggal seperti dialami Muhanum. Keempat, pemerintah harus mencabut izin perkebunan lama dan tidak mengeluarkan izin baru untuk perkebunan, serta menangkap pemilik perkebunan pelaku pembakaran lahan. Kalau perlu, masukkan bank investornya dalam daftar hitam.

“Jika pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla tidak melakukan empat langkah ini, itu berarti pemerintah tidak serius menangani masalah asap,” kata Rahmat. Selain itu, untuk memastikan pemerintahan Jokowi melaksanakan langkah tersebut, masyarakat akan mengawasi melalui gerakan rakyat. “Gerakan ini akan terus meningkat dan meluas serta memaksa pemerintah agar benar-benar serius mengatasi masalah asap.”

 

Avatar
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.