Rabu, Oktober 21, 2020

Adhiet, Tiga Lebaran Mudik dengan Sepeda Bandung-Solo

Penyidik Polri Ajukan 20 Pertanyaan ke Novel Baswedan

Jakarta, 14/8 (Antara) - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah menginformasikan bahwa penyidik Polri mengajukan 20 pertanyaan saat memeriksa Novel Baswedan di...

Indonesia Kekurangan Tenaga Ahli Kelautan

Jakarta, 24/7 - Indonesia hingga kini masih kekurangan tenaga kelautan. Padahal, selama ini kualitas pelaut Indonesia tidak kalah dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. "Pelaut kita...

Djamal Aziz Akui Tak Pernah Tekan Miryam Cabut BAP

Jakarta, 22/8 - Mantan anggota DPR RI Djamal Aziz mengaku tidak pernah menekan Miryam S Haryani dalam kasus KTP elektronik (KTP-e) seperti yang disebutkan...

Polri Tegaskan Tak Campuri Penyelidikan Johannes Marlim

Jakarta, 14/8 - Polri menegaskan tidak berwenang untuk turut menyelidiki kasus kematian saksi kasus korupsi e-KTP, Johannes Marliem di Amerika Serikat. "TKP-nya di Amerika Serikat....

Melenggang santai melalui jalur kiri, menanjak tinggi tetap dikayuh, sepeda Federal merah akhirnya berhenti sejenak di senja sore jalan Semarang-Boyolali sembari berfoto pada tugu Selamat Jalan Semarang, Selamat Datang Boyolali.

Tak disangka sepeda itu telah menempuh jarak 549,7 km. Meilana Dukut Elisdiarto si penunggang Federal merah tersebut. Dari peraduan mengayuh untuk bertemu keluarga di hari yang fitri.

“Saya dari Bandung mas, ini sebentar lagi mau sampai tujuan, Solo,” kata Adhiet, sapaan akrabnya, dengan senyum merekah.

Ia rogoh gawai miliknya dengan sarung tangan sporti khas pebalap sepeda.

“Saya kabari keluarga dulu, karena sebentar lagi sampai Solo, barusan saya mau ‘goes’ lagi,” sapanya kepada Antara, sebelum Antara minta waktu sejenak untuk wawancara.

Menghela nafas tanda lelah terpancar, namun semangat dekat dengan keluarga tergambar dari senyum Adhiet. Pria berumur 44 tahun tersebut mudik dengan mengayuh sepeda dari Bandung menuju Solo.

“Saya berangkat Kamis (22/6) pagi dari Bandung, lewat Brebes, Losari, Pantura, dan istirahat malam di Alas Roban,” jawabnya. Total perjalanan yang ditempuh ayah empat anak ini adalah tiga hari, dan menurutnya itu adalah waktu yang wajar.

Adhiet juga tergabung dalam klub sepeda yang ia sebut FBI (Federal Bandung Indonesia) selalu aktif dalam berbagai “event”.

Persiapan Selama seminggu ia siapkan Federal merah tersebut menjelang mudik Lebaran 2017. Tiga hari pertama ia alami kendala, sepedanya bermasalah, hampir saja ia kehilangan semangat. Namun berhubung Adhiet juga seorang mekanik sepeda, ia mampu mengatasi hal tersebut.

“Bersepeda jangan pernah dipaksakan, sekuatnya, kalau ‘capek’ ya harus istirahat,” katanya. Dua jalur di pulau Jawa telah ia lalui untuk mudik, yaitu jalur selatan Jawa dan Pantai Utara (Pantura).

Selama mudik bersepeda kali ini, ia bermalam dua kali. Pertama di Brebes dan kedua di Alas Roban. Kendala yang ia hadapi bermacam-macam, dari mulai cuaca hingga macet.

“Kalau macet ya saya turun, saya tuntun dengan jalan kaki, dinikmati saja,” katanya.

Motivasi Motivasi melakukan mudik dengan bersepeda sejauh hampir 550 km tiap tahun adalah ingin mengampanyekan manfaat bersepeda.
Ia mengaku setiap hari “bike to work”. Pekerja “frelancer” instalasi listrik ini selalu giat mengampanyekan manfaat sepeda.

“Saya dulu menderita rematik parah, Alhamdulillah dengan bersepeda sembuh. Dan dengan bersepeda bisa mengurangi risiko sakit jantung,” jelasnya.

Ia juga ingin memelihara lingkungan dengan sebaik-baiknya, sebab sepeda tidak menghasilkan polusi.

Lebaran 2017 adalah tahun ketiga ia mudik dengan “goes”. Setiap “goes” selalu dari Bandung menuju Solo. Dan hal tersebut juga berlaku untuk arus balik, tetap mengayuh sepeda dengan bendera tinggi di belakangnya, yang ia sebut pemberi semangat.

Dua tas ransel di belakang kanan dan kiri, satu tas beserta matras tidur terlipat di stang depan. Keselamatan menjadi hal utama. Ia buktikan dengan menggunakan helm sepeda, lengkap dengan dua buah lampu di depan sepeda.

Tahun terberatnya dalam musik bersepeda adalah pada Lebaran 2016. Sebab pada tahun itu, ia “meng-goes” secara konvoi.

“Kalau berombongan itu tambah repot, saya harus mengawal mereka, mau cepat nanti juga banyak yang ketinggalan, kalau pelan nanti juga tidak sampai-sampai kan,” jelasnya sembari tertawa.

Biasanya, waktu tempuhnya adalah tiga hari. Namun, 2016 karena berkelompok akhirnya memakan waktu empat hari. Ia mengingatkan kepada semua orang agar rajin berolahraga, karena semangat itu akan menjadi modal masa depan.

“Pokoknya olahraga, kalaupun bersepeda jangan dipaksakan, kalau sampai berkunang-kunang, wah itu bahaya, bisa kolaps, ‘capek’ ya istirahat dulu, udah lalu lanjut lagi,” katanya.
Ia mengaku selalu taat berpuasa, namun ketika mudik dengan sepeda, ia memilih untuk tidak berpuasa dulu dengan mengganti di lain hari, sebab bisa berbahaya bagi tubuh jika dipaksakan berpuasa.

Keluarga menurut pengakuannya sangat mendukung dengan kegiatannya. Tidak ada keluhan atas hobinya bersepeda yang cukup ekstrem itu.

“Tidak ada keluhan, asalkan saya rutin mengirimkan kabar lewat foto, mereka akan memahami kok, toh ini hobi baik,” tegasnya.

Selain dukungan keluarga, ia selalu membekali diri dengan pengetahuan sepeda, baik secara teknis maupun kesehatan diri. Dua tas depan hitam di dekat roda depan merupakan perlengkapan mekanik yang berisi perbengkelan sepeda.

“Saya menyukai sepeda sejak dari kecil, waktu itu ayah saya memberikan sepeda satu-satu kepada semua anaknya. Entah sejak saat itu saya hobi dengan sepeda, baik mengutak-atik ataupun bersepeda jarak jauh,” katanya.

Ketika arus balik Lebaran, ia mengaku tetap ingin mengayuh dengan sepeda, walau biasanya memakan waktu lebih lama daripada berangkat. Kenapa lebih lama? sebab menurutnya ketika dari Solo ke Bandung, jalannya lebih didominasi tanjakan, sebab arahnya menuju ke dataran lebih tinggi.

Selain itu, dengan tidak adanya target waktu sampai, ia mengaku lebih santai ketika pulang.

Dengan semangatnya tersebut, pria ramah dengan murah senyum ini berharap kampanye yang ia lakukan, mampu menggerakkan masyarakat untuk hidup sehat dan lebih mencintai lingkungan.

Tips terakhir yang ia berikan adalah, “Satu lagi, jangan lupa power bank, buat foto-foto di jalan, karena saya juga punya Facebook dan Instagram,” tambahnya dengan tawa yang lebar dan siap menyambut kembali aspal yang akan digilasnya sembari mengucapkan salam perpisahan.
Sementara itu, terdapat komunitas sepeda lain yang mendukung langkah Adhiet. Komunitas tersebut adalah Rombongan Bekasi (Robek). Iman Achwan salah satu anggota Robek pada awalnya akan melakukan kampanye serupa, yaitu bersepeda mudik dari Jakarta menuju Pekalongan. Namun rencana tersebut urung terlaksana.

“Saya sudah mempersiapkan semua, dari mulai fisik dan sepedanya untuk kampanye ‘bike to work’, namun urung terlaksana karena dilarang sama keluarga,” kata Iman ketika dihubungi Antara.

Iman mengapresiasi langkah Adhiet yang bersepeda dari Bandung ke Solo, setidaknya untuk mengampanyekan hal besar memang membutuhkan langkah yang besar.

p
“Saya juga akan melakukan hal sama seperti yang dilakukan Adhiet, namun mungkin dalam bentuk yang berbeda, cukup dari Bogor sampai Jakarta kalau berangkat kerja. Semoga nanti juga dapat dukungan dari keluarga,” tambah Iman. (Antara)***

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.