OUR NETWORK

Stok Batubara Tak Cukup, Program Listrik 35 GW Terancam

Aktivitas bongkar muat batubara di Kawasan Marunda, Jakarta, Kamis (5/11).
Aktivitas bongkar muat batubara di Kawasan Marunda, Jakarta, Kamis (5/11).
Aktivitas bongkar muat batubara di Kawasan Marunda, Jakarta, Kamis (5/11).

Program listrik nasional 35 Gigawatt (GW) yang dicanangkan Presiden Joko Widodo akan terancam jika harga batubara terus menurun. Pasalnya, ongkos produksi lebih mahal dibandingkan harga jual, sehingga perusahaan tambang urung melakukan eksplorasi.

President Director Advisory PricewaterhouseCoopers Mirza Diran mengatakan, dengan mengacu pada harga komoditas saat ini, cadangan batubara tidak cukup untuk memasok kebutuhan 20 GW Pembangkit Listrik tenaga Uap (PLTU) pada periode 25-30 tahun ke depan.

“Cadangan batubara yang dikeluarkan Kementerian ESDM sekitar 32,3 miliar ton pada 2014. Namun, hasil survei mengemukakan bahwa cadangan batubara pada akhir 2015 tinggal 7,3-8,3 miliar ton. Perbedaan itu sangat mencolok sehingga menimbulkan pertanyaan,” kata Mirza di Menara Kuningan Jakarta, Senin (7/3).

Dia menjelaskan, cadangan batubara yang tidak cukup, bukan berarti tidak ada cadangan di perut bumi. Tapi, dengan harga komoditas yang turun, perusahaan tambang mengurangi produksinya. Alhasil, cadangan tambang akan habis pada 2033-2036. Hal ini, kurang dari 20 tahun umur manfaat PLTU yang umumnya 25-30 tahun sejak beroperasi.

Masalah itu, lanjut Mirza, karena Earnings Before Interest, Tax, Deprection & Amortization (EBITDA) emiten batubara turun 60%, dari 6,5 miliar dolar AS pada 2011 menjadi 2,6 miliar dolar pada 2014. Dan berlanjut menurun pada 2015 sebesar 16%. Kemudian, dalam belanja modal juga turun 79% dari 1,9 miliar dolar menjadi 400 juta dolar pada 2015. Dan berlanjut penurunan sekitar 20% pada 2016. Akibatnya, kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru relatif terhenti.

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Pandu P. Sjahrir mengatakan, kelebihan pasokan batubara yang terjadi sejak 2012, akibat stagnasi permintaan telah menyebabkan harga batubara anjlok. Dengan demikian, perusahaan tambang batubara mengurangi produksinya.

Seperti diketahui, hasil survei yang dilakukan lembaga konsultan PricewaterhouseCoopers terhadap 25 perusahaan batubara menunjukkan adanya keterkaitan antara penurunan harga batubara dengan proyek listrik 35 GW. Terutama, jaminan pasokan.

Pandu menjelaskan, penurunan cadangan batubara bukan berarti tidak adanya batubara lagi. Akan tetapi, dikarenakan harga yang tidak ekonomis untuk ditambang. “Menambang itu perlu biaya. Kalau harga batubara 50 dolar, sementara biaya menambang 60 dolar, otomatis batubara tidak ditambang,” kata Pandu.[*]

Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…