OUR NETWORK

Indef: Negara Harus Menguasai Blok Masela

Petugas PT Pertamina Gas memeriksa tekanan fasilitas penyaring kotoran debu dan air pada gas yang mengalir di pipa gas ruas Arun - Belawan, di lokasi metering Sicanang Wilayah PLN Belawan, Medan, Sumatera Utara, Rabu (3/2). Metering Pertagas tersebut, titik terima gas PLN dari pipa transmisi gas Arun - Belawan, yang sebelumnya merupakan liquid natural gas (LNG) yang telah diregasifikasi di Arun Regas Aceh. ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi
Petugas PT Pertamina Gas memeriksa tekanan fasilitas penyaring kotoran debu dan air pada gas yang mengalir di pipa gas ruas Arun - Belawan, di lokasi metering Sicanang Wilayah PLN Belawan, Medan, Sumatera Utara, Rabu (3/2). Metering Pertagas tersebut, titik terima gas PLN dari pipa transmisi gas Arun - Belawan, yang sebelumnya merupakan liquid natural gas (LNG) yang telah diregasifikasi di Arun Regas Aceh. ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi
Petugas PT Pertamina Gas memeriksa tekanan fasilitas penyaring kotoran debu dan air pada gas yang mengalir di pipa gas ruas Arun – Belawan, di lokasi metering Sicanang Wilayah PLN Belawan, Medan, Sumatera Utara, Rabu (3/2). ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

Institute for Development of Economic and Finance menyatakan kisruh pengembangan Blok Masela antara Menko Maritim dan Kementerian ESDM tak memiliki pengaruh apa pun terhadap masyarakat. Justru yang paling krusial adalah siapa yang menguasai blok tersebut.

“Ini bukan persoalan onshore atau offshore, akan tetapi soal siapa yang menguasai sumber daya alam kita. Pasal 33 sudah jelas, cabang-cabang produksi dan kekayaan sumber daya alam yang terkait hajat orang banyak semestinya dikuasai oleh negara. Jadi, perpanjangan tangan negara adalah BUMN yang bergerak di sektor migas, yakni Pertamina,” kata Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati di Jakarta, Rabu (2/3).

Menurut Enny, pengelolaan Blok Masela ini hendaknya dikelola oleh Pertamina. Bahkan perlu dilakukan kajian oleh pemerintah untuk menghentikan kesalahan masa lalu yang membiarkan pengelolaan blok-blok migas dikuasai kontraktor asing tanpa partisipasi BUMN.

Indonesia selama ini telah memiliki proyek minyak dan gas (migas), contohnya di Arun (Aceh), Papua, dan Bontang. Namun, masyarakat selama ini tetap saja tidak merasakan manfaatnya. Bahkan masyarakat di sekitar wilayah blok migas itu tetap miskin, kata Enny

Karena itu, pihaknya meminta agar pemerintah mengikutsertakan PT Pertamina (Persero) dalam pengelolaan Blok Masela. Seperti diketahui, saat ini operator (existing operator) di blok tersebut, yakni Inpex Corporation dan Royal Dutch Shell.

Enny juga mempertanyakan, pengelolaan gas di Blok Masela ini nantinya akan diperuntukkan kepada siapa. Sebab, sampai hari ini belum ada pembahasan terkait hasil produksi blok tersebut.

“Industri dalam negeri kita membutuhkan gas. Sebab, defisit gas kita hampir 50% karena banyak yang diekspor. Kalaupun tersedia bayarnya lebih mahal dibandingkan dengan harga yang diekspor,” kata Enny.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi mengatakan, pihak Inpex membuka peluang kepada Pertamina untuk ikut dalam pengelolaan Blok Masela. “Kalau Pertamina masuk, maka bayar kompensasi dulu kepada Inpex,” kata Amien.

Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…