Sabtu, Januari 16, 2021

23% Warga Tak Percaya Vaksin Covid-19 Aman

KPK Tetapkan Dirut PT Aquamarine Tersangka Suap Panitera

Jakarta, 22/8 - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Direktur Utama PT Aquamarine Divindo Inspection (ADI) Yunus Nafik sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap terkait...

KPK Periksa Farhat Abbas Sebagai Saksi Markus Nari

Jakarta, 18/8 - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memeriksa pengacara Farhat Abbas dalam penyidikan merintangi proses penyidikan, persidangan, dan memberikan keterangan tidak benar pada...

Prabowo Anggap Presidential Threshold Sebagai Lelucon Politik

Jakarta, 27/7 - Seusai bertemu dengan SBY di pendopo Puri Cikeas, Bogor, Kamis malam, Prabowo Subianto mengatakan pertemuan dirinya dengan SBY dalam suasana yang...

Dirut PT IBU Tersangka Kasus Beras Maknyus

Jakarta, 2/8 - Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri menetapkan Direktur Utama PT Indo Beras Unggul (IBU) berinisial TW sebagai tersangka pidana...
Redaksi
Redaksi

Survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan 23% warga tidak percaya bahwa vaksin Covid-19 yang akan disediakan pemerintah aman bagi kesehatan penggunanya. Yang percaya bahwa vaksin tersebut aman mencapai 56%, sementara yang tidak bersikap 20%.

Hal ini disampaikan Manajer Kebijakan Publik SMRC, Tati Wardi, pada rilis daring survei nasional SMRC bertajuk “Kepercayaan Publik Nasional pada Vaksin dan Vaksinasi Covid-19” pada 22 Desember 2020 di Jakarta. Survei nasional SMRC dilakukan pada 16–19 Desember 2020 melalui wawancara per telepon kepada 1202 responden yang dipilih secara acak (random). Margin of error survei diperkirakan +/-2.9%.

Menurut Tati, walau terlihat bahwa persentase mereka yang percaya bahwa vaksin aman jauh lebih besar daripada yang berpandangan sebaliknya, tapi ada tanda-tanda penurunan tingkat kepercayaan. “Survei nasional kami pada awal Desember 2020 menunjukkan tingkat kepercayaan bahwa vaksin dari pemerintah aman mencapai 66%,” ujar Tati. “Jadi kalau sekarang hanya 56% yang menganggap aman, itu menunjukkan adanya penurunan.”

Sejalan dengan itu, survei SMRC juga menunjukkan bahwa dibandingkan dua minggu sebelumnya, persentase warga yang percaya/sangat percaya bahwa vaksin dari pemerintah mampu membuat imun penggunanya mengalami penurunan. “Tingkat kepercayaan bahwa vaksin dari pemerintah efektif membuat imun penggunanya menurun dari 65% pada survei awal Desember 2020 menjadi 55% dalam survei terbaru ini,” ujar Tati.

Menurut Tati lagi, kepercayaan pada tingkat keamanan vaksin mempengaruhi kesediaan warga untuk divaksin. Survei SMRC ini menunjukkan bahwa 57% warga yang percaya vaksin Covid-19 aman menyatakan bersedia mengikuti vaksinasi, sementara 11% warga yang tidak percaya vaksin Covid 19 aman menyatakan bersedia.

“Jadi semakin tinggi kepercayaan bahwa vaksin ini aman,” ujar Tati, “akan semakin tinggi pula kesediaan untuk mengikuti vaksinasi.”

Begitu juga kepercayaan pada kemampuan vaksin membuat imun mempengaruhi kesediaan warga untuk divaksin. Survei SMRC ini menunjukkan bahwa 58% warga yang percaya vaksin Covid-19 membuat imun menyatakan bersedia mengikuti vaksinasi, sementara hanya 8% warga yang tidak percaya vaksin Covid 19 membuat imun menyatakan bersedia.

“Jadi semakin tinggi kepercayaan bahwa vaksi ini bisa membuat imun,” ujar Tati, “akan semakin tinggi pula kesediaan untuk mengikuti vaksinasi.”

Survei juga menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan warga pada efektivitas vaksin untuk melindungi diri penggunanya tidak terpengaruh oleh negara asal vaksin.

Mayoritas warga nampak menaruh harapan pada kedatangan vaksin Covid-19. Survei SMRC menunjukkan bahwa 61% warga tahu kedatangan vaksin COVID-19 buatan Sinovac sebanyak 1,2 juta dosis pada hari Minggu, 6 Desember 2020. Dari yang tahu, 79% suka dengan berita tersebut dan 12% tidak suka.

Namun warga terbelah dalam menilai vaksin Covid-19 yang diimpor dari Inggris, AS, RRC, dan Jerman. Sekitar sepertiga percaya bahwa vaksin itu aman dan membuat imun, sepertiga tidak percaya, dan sepertiga lainnya tidak dapat dapat memberi penilaian. “Tingkat kepercayaan publik terhadap vaksin dari keempat negara tersebut tidak berbeda signfikan,” ujar tati.

Tati menekankan hasil survei yang menunjukkan bahwa mayoritas warga belum mantap mau divaksin, nampaknya terkait dengan persepsi warga tentang keamanan dan efektivitas vaksin.

“Keamanan dan efektivitas vaksin adalah faktor penting yang dipertimbangkan warga untuk melakukan vaksinasi,” ujar Tati. “Karena itu, sosialisasi bahwa vaksin itu aman dan efektif, bersama sosialisasi bahwa Covid-19 makin mengancam, harus terus ditingkatkan pemerintah.”

“Utamakan otoritas kesehatan, seperti dokter, untuk melakukan penerangan ini,” ujar Tati. “Survei SMRC menunjukkan 71.5% warga menganggap dokter adalah sosok yang paling bisa dipercaya untuk menjelaskan pencegahan Covid-19.”

Redaksi
Redaksi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.