Bangkit Bersama Kristus Menuju Keadaban Bangsa [Renungan Paskah]

529
Umat Katolik memerankan drama penyaliban Yesus (tablo) saat ibadah Jumat Agung di Gereja Katedral, Jakarta, Jumat (14/4) dengan tema “Amalkan Pancasila: Makin Adil, Makin Beradab”. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.

Salah satu alasan mendasar manusia beragama adalah adanya perasaan damai, tenang, tenteram, dan rukun selalu. Namun, kini semua elemen mendasar itu kian terurai oleh perilaku budaya modern yang semakin mengkristal.

Umat Kristiani akan segera merayakan Paskah. Setiap tahun sejarah perjalanan hidup keagamaan selalu diwarnai dengan upacara dan ritual keagamaan. Namun, ritual tersebut tak ayal hanya menjadi formalitas semata, tanpa ada pemaknaan mendalam dari esensi hidup menuju keadaban bersama. Paskah dirayakan sebagai pesta kebangkitan Yesus, namun bagaimana kita memaknai pesan-pesan kemanusiaannya?

Mengawali dengan Puasa

Umat Kristiani mengawali perayaan Paskah dengan masa pra-Paskah. Pra-Paskah adalah hari raya mendahului masa Paskah empat puluh hari menuju perayaan Paskah dengan memulainya Rabu Abu. Masa di mana umat Kristiani memaknai perjalanan hidup menuju semangat pertobatan. Keheningan untuk mengajak segenap umat manusia kembali pada permenungan mendalam mengenai hakikat kemanusiaan yang mulia dan luhur.

Secara kodrati manusia diyakini sebagai ciptaan yang paling sempurna. Ia sebagai individu tidak berdiri sendiri. Manusia punya jiwa, naluri, serta empati untuk hidup bersama dengan sesamanya. Dengan itu pula manusia sebagai pemeran utama di bumi justru terjebak dalam hal mendasar di hidupnya. Dalam evolusi kemanusiaannya, ia terus menciptakan segala situasi dan kondisi dengan pembaharuan-pembaharuan.

Era digital, era di mana peradaban modern dituntut dalam segala hal menggunakan rasionalitas nalar manusia. Segala penemuan teknologi yang berkembang akhir-akhir ini mengindikasikan tragedi modernitas yang kian mengurung entitas nilai kemanusiaan yang sangat kodrat. Ideal-ideal kemanusiaan ditandai dengan rasionalitas sarana sebagai pintu gerbang kapitalisme modern.

Teknologi kini semakin mengalienasi manusia dari cita rasa budayanya yang perlahan tergerus oleh arus globalisasi. Manusia mencitrakan diri terjebak dalam pencarian jati dirinya. Teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Begitu menumpuknya manusia-manusia virtual di ruang peradaban modern. Di saat yang sama, kita kehilangan individualitas sebagai pribadi yang utuh.

Perjalanan puasa sebelum memasuki Paskah adalah lorong waktu mengajak kita untuk kembali merenungkan nilai-nilai yang mulai terurai. Puasa mengawali Paskah untuk mengajak manusia pada permenungan mendalam menuju semangat pertobatan sejati. Kita diajak untuk menahan hawa nafsu dari keinginan duniawi, untuk menjaga sikap dan perbuatan yang mulai terbawa dalam arus globalisasi.

Puasa adalah jalan keheningan menuju laku tobat dan tapa. Di saat yang sama umat Kristiani diharapkan memberikan perhatian pada karya amal dan olah tobat.

Memaknai Paskah

Paskah adalah pesta kebangkitan. Setiap tahun umat Kristiani merayakannya, namun kini apa yang perlu direfleksikan dalam pesta Paskah ini? Kata bangkit adalah kata yang menggugah orang untuk segera bersemangat keluar dari situasi tertentu.

Paskah identik dengan salib. Pemaknaan mengenai salib membawa manusia pada sejarah masa lalu tentang simbol salib tersebut. Sebagai tanda kesengsaraan menuju kemenangan. Kemenangan memperjuangkan sisi kemanusiaan yang sangat kodrati sebagai citra Allah.

Beranjak dari konteks ruang dan waktu, situasi politik nasional kita dipenuhi oleh aura primordial yang kian mengkristal. Kepemimpinan populis berada dalam kurungan kaum oligarki. Berpaling ke Lasswell, “politik tidak lain adalah milik kaum pemodal, berduit, dan kaum borjuasi.” Dalam sistem kepemimpinan nasional kita saat ini, semua diliputi oleh kerakusan akan jabatan dan tarik menarik kepentingan kelompok dan golongan.

Sistem ekonomi mulai mengabaikan tatanan sosial warga bangsa. Di saat yang sama ketika banyak warga yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, korupsi justru kian menggurita tak terbendung. Logika sosial dilepaskan dari logika pasar. Ekonomi lebih berpedoman pada mekanisme pasar untuk mengakumulasi modal asing.

Dunia hukum sama halnya dengan ekonomi. Semua seolah adil, tetapi di belakang layar ada permainan kaum-kaum pemenang dengan senangnya mengatur keputusan pengadilan yang seharusnya menganut prinsip keadilan sebagai yang mulia, wakil Sang Khalik di bumi.

Panggilan mulia yang disematkan pada hakim digeneralisir untuk memanipulasi putusannya mengenai apa itu adil. Dengan segala model penafsirannya malah melewati jalur putusannya untuk mengelabui kasus yang sedang ditanganinya. Semua adalah pertarungan kekuatan dan kepentingan.

Dalam bidang agama dan budaya, semakin terurainya rasa pluralitas nilai akan perbedaan. Padahal, negeri ini lahir dari rahim keberagaman. Konon, agama lahir untuk mendamaikan, namun kini tampak hanya sebagai wacana. Wujud nyata dari iman keagamaan dikelabui untuk kebohongan publik. Sebagai contoh, para koruptor justru tampil lebih religius dari biasanya di depan kamera. Biar tampak agamis dan beriman dalam kebohongannya.

Negeri ini kini dipenuhi oleh manusia-manusia tunabudaya. Orang melupakan nilai dasar dari para pendiri negeri ini, yang memberikan pesan kemanusiaan yang turun temurun penuh kedalaman nilai dan maknanya. Semangat individualistis semakin menumpuk di ruang publik. Orang hidup hanya untuk dirinya, tanpa ada rasa peduli untuk sesamanya. Semakin hilangnya sikap kerelawanan dan semangat gotong royong sebagai budaya bangsa ini.

Perayaan Paskah adalah perayaan “kebangkitan”. “Bangkit” berarti mengajak kita untuk keluar dari situasi tertentu menuju “keadaban bersama”. Bangkit dari “rasa ketidakadilan”. Bangkit dari tatanan ekonomi untuk lebih mementingkan “kepentingan warga bangsa”.

Bangkit untuk menciptakan misi dan visi dalam mengarahkan “tatanan politik kebangsaan” agar semakin terarah pada nilai-nilai luhur bersama. Paskah mengingatkan kita untuk segera menegakkan “hakikat hidup bersama sebagai bangsa”, sebagaimana yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa ini.

Semua itu tentu perlu waktu, namun kita tidak boleh terus menerus bertahan dalam keadaan tersebut. Perubahan menuntut sesegera mungkin memulai, paling tidak, untuk diri kita masing-masing sebelum beranjak ke ruang dan waktu yang lebih luas.

Itulah Paskah sebagai lorong waktu untuk merefleksikan segalanya menuju keadaban kebangsaan-kenegaraan, sebelum menatap yang belum jelas.

Komentar anda