Senin, April 12, 2021

Rasio Utang Pemerintah Picu Krisis Ekonomi 

Masjid Istiqlal Buka Empat Gerbang Saat Lebaran

  Masjid Istiqlal buka empat gerbang, yang dibagi dua gerbang untuk masyarakat, satu gerbang untuk TNI dan Polri dan satu gerbang VIP yang digunakan presiden...

Perjanjian Ganti Rugi Lumpur Lapindo Belum Beres

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat Basuki Hadimuljo menyebut pencairan dana talangan Lumpur Lapindo sedang dalam tahap penyelesaian terutama untuk dokumen perjanjian antara pemerintah...

Bersitegang dengan Tiongkok, Jepang Jadi Sekutu AS

Amerika Serikat dan Australia, Minggu hari ini mengawali latihan militer skala besar dua tahunan dan Jepang turut ambil bagian untuk pertama kalinya saat ketegangan...

Hari Ini KPK Periksa Saksi Kunci Suap PTUN Medan

Hari ini, Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksa 12 saksi kunci kasus dugaan tindak pidana korupsi pemberian suap kepada majelis hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha...

Ilustrasi utang pemerintah Indonesia ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/Asf/nz/15.
Ilustrasi utang pemerintah Indonesia/ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/Asf/nz/15.

Dalam membangun perekonomian nasional pemerintah masih bersandar pada biaya yang bersumber dari utang. Namun, sayangnya utang tersebut ternyata masih terlalu condong digunakan untuk sektor jasa. Akibatnya, pinjaman utang itu justru tak banyak membantu mempengaruhi peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Pengamat Ekonomi dari Indonesia Institute for Development of Economics and Finance, Eko Listiyanto, mengatakan memang rasio utang Indonesia masih terbilang kecil. Hingga Mei 2015, jumlahnya mencapai Rp 2.843,25 triliun atau 25% dari Produk Domestik Bruto.

“Tapi, jika melihat komponen penyusun utang saat ini, peruntukannya masih condong dilarikan ke sektor jasa. Ini akan berbahaya, sebab memiliki risiko terjadi krisis ekonomi,” kata Eko di Jakarta, Jumat (10/7).

Dia menjelaskan, negara yang memiliki rasio utang seperti Indonesia dan pola penggunaan utang tersebut tidak tepat sasaran, maka ketika terjadi guncangan ekonomi global dampaknya akan begitu terasa. Bukan tidak mungkin negara tersebut akan menyusul mengalami krisis ekonomi serupa.

“Jika ada guncangan (krisis), maka perekonomian kita tidak akan sekuat utang yang berkontribusi dari sektor riil atau tradable seperti pertanian, industri dan lainnya,” tutur Eko.

Lebih lanjut, dia mengatakan, bila sampai terjadi krisis ekonomi, maka nantinya masyarakat kelas menengah dan kelas bawahlah yang akan semakin tertekan. Sebab, laju pendapatan masyarakat di kelas-kelas tersebut tidak secepat laju pendapatan masyarakat kelas atas.

“Laju pendapatan orang super kaya dan orang kaya di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan laju pendapatan masyarakat kelas menengah dan bawah. Kondisi ini membuat masyarakat kelas menengah ke bawah akan semakin tertekan jika terjadi guncangan ekonomi,” ujarnya.

Namun, kata Eko, rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto yang mencapai 25% bukan berarti kondisinya masih sehat. Pemerintah justru harus berhati-hati terhadap rasio utang ini, jika tidak maka jumlahnya bisa terus meningkat. Dan tentunya akan semakin memberatkan perekonomian nasional nantinya.

“Dengan kondisi seperti ini, utang 25 persen dari PDB bukan berarti sehat dan kita tenang saja. Seiring melemahnya ekonomi Cina dan krisis Yunani kita justru harus lebih waspada,” katanya.

Karena itu, menurutnya, agar rasio utang lebih bermanfaat bagi perekonomian nasional, pemerintah sebaiknya menggunakan pinjaman utang tersebut untuk memperkuat perekonomian domestik. Penggunaannya supaya dialihkan untuk pengembangan dan peningkatan di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pertanian.

“Hingga saat ini, masih banyak sektor UMKM dan pertanian yang belum tersentuh kebijakan pemerintah,” kata Eko. [*]

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.