Senin, Oktober 26, 2020

Praktik Jual Beli Sisa Kursi Kosong di Sekolah

Diberi 30 Persen, Total 'Nyengir'

Direktur Hulu PT Pertamina Syamsu Alam mengatakan perusahaan migas Perancis Total E&P Indonesie menyepakati penawaran 30 persen porsi saham Blok Mahakam bersama Inpex. "Total dan...

Penyebab Terjadinya Kecelakaan Transportasi

Kementerian Perhubungan meminta jajarannya dan aparat terkait di bidang perhubungan, baik darat, laut dan udara untuk melaksanakan penegakan aturan dan hukum secara serius. Menteri Perhubungan...

MPR Minta Presiden Bentuk Tim Independen Soal Tolikara

Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dari Papua, Mervin Komber, meminta Presiden Joko Widodo membentuk tim independen untuk menyelesaikan konflik di Karubaga Kabupaten Tolikara...

Masa Depan Buah Lokal

Oleh Alinda Rimaya, Luthfi Ramadhan, Nuran Wibisono, Reza Ramadhan Buah Indonesia berpotensi besar. Sayang, masih banyak kendala. Perlu perbaikan di sana-sini. Setiap 1 Juli, dunia memperingati Hari Buah. Tahun...

ilustrasi : Sejumlah siswa lulusan SMP mendaftar dan mengumpulkan berkas di SMA Negeri 1 Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Kamis (11/6). Dinas Pendidikan setempat menjamin tidak ada pungutan kepada siswa dalam pendaftaran yang berlangsung hingga Sabtu (13/6)/ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra.
ilustrasi : Sejumlah siswa lulusan SMP mendaftar dan mengumpulkan berkas di SMA Negeri 1 Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Kamis (11/6). Dinas Pendidikan setempat menjamin tidak ada pungutan kepada siswa dalam pendaftaran yang berlangsung hingga Sabtu (13/6)/ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Pungli dalam jual-beli kursi di sekolah serta bocoran soal dan jawaban ujian untuk masuk dalam sekolah pun terjadi karena orang tua murid yang menginginkan anaknya masuk di sekolah tersebut.

Pengamat pendidikan, Itje Chodijah mengatakan rendahnya kualitas sekolah di Indonesia juga disebabkan oleh sistem sekolah favorit. “Selama ini kerap kali pemerintah daerah hanya memperbaiki mutu sekolah yang menjadi etalase. Artinya, pemerintah hanya meningkatkan sekolah tertentu yang menjadi sekolah favorit,” ujarnya. Menurutnya, pemerataan kualitas pendidikan dapat menekan angka putus sekolah.

Berdasarkan data dari Lembaga Antikorupsi Intergritas yang didapat dari Ombudsman Republik Indonesia, pada Penyelenggaraan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2014, ditemukan sekitar 242 kasus maladministrasi di 33 provinsi di Indonesia.

Dari temuan tersebut, praktik pungli merupakan temuan yang paling banyak terjadi, yaitu 38,4%, kemudian praktik penyimpangan prosedur (28,5%) dan penyelenggara yang tidak kompeten (20,2%). Jumlah pungli selama pelaksanaan PPDB tahun 2014 di Seluruh Indonesia, mencapai Rp 28 miliar.

Pada 2015, sejumlah sekolah ditemukan melakukan pelanggaran, salah satu contoh kasus yang berada pada sekolah di daerah Bekasi. Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Jawa Barat, menemukan adanya dugaan praktik suap dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru Online 2015 di salah satu sekolah negeri setempat.

“Saya tidak perlu sebut sekolahnya, yang jelas praktik suap itu terjadi di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri di Kota Bekasi,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Rudi Sabarudin di Bekasi, Senin(6/7).

Praktik suap tersebut dilakukan dengan modus penjualan sisa kursi kosong yang tersedia pascaprogram PPDB Online jalur reguler maupun lokal yang berlangsung 26 Juli hingga 4 Juli 2015. Menurutnya, sisa kursi kosong itu didapat setelah adanya sejumlah siswa yang tidak melakukan daftar ulang meski lolos dalam verifikasi nilai secara online dengan alasan pindah sekolah.

Dikatakan Rudi, SMP negeri tersebut memperoleh lebih dari sepuluh sisa kursi kosong yang diketahui oleh salah satu oknum yang memanfaatkan situasi itu untuk kepentingan pribadinya.[*]

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.