OUR NETWORK

Pemerintah Merevisi Pertumbuhan Ekonomi 2015

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (kiri), didampingi  Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil (tengah), dan Menteri Pariwisata Arief Yahya (kanan), memberi keterangan pers seusai menghadiri rapat terbatas di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (16/03)/ANTARA FOTO/Ismar Patrizki
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (kiri), didampingi Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil (tengah), dan Menteri Pariwisata Arief Yahya (kanan), memberi keterangan pers seusai menghadiri rapat terbatas di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (16/03)/ANTARA FOTO/Ismar Patrizki

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyatakan merevisi target pertumbuhan ekonomi 2015. Sebelumnya pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,4% hingga 5,8%. Namun seiring berjalannya waktu, di tengah tahun pemerintah menurunkannya menjadi 5,2%.

Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, mengatakan diubahnya target pertumbuhan ekonomi tentu ada alasannya. Pemerintah merasa pesimis mengejar target pertumbuhan ekonomi yang sudah ditetapkan sebelumnya pada tahun ini. Mengingat kondisi perekonomian saat ini dirasa tidak memungkinkan untuk mencapai target tersebut.

“Keadaan demikian memaksa pemerintah harus bersikap realistis dengan memangkas target pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,2%. Itu berdasarkan kondisi terakhir,” kata Bambang dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat di Kompleks Parlemen Jakarta, kemarin.

Menurut dia, dipangkasnya target pertumbuhan ekonomi nasional menjadi hal yang wajar. Sebab, ini terjadi tidak hanya di Indonesia, melainkan juga dialami oleh negara-negara lainnya. Bahkan lembaga keuangan dunia seperti International Monetary Fund telah merevisi pertumbuhan ekonomi dunia.

“Wajar kiranya kalau kami (pemerintah) merevisi pertumbuhan ekonomi. Pemerintah memang mencari yang paling realistis untuk bisa dicapai,” katanya.

Meski demikian, kata Bambang, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% masih tinggi. Itu didasari karena kisaran belanja modal pada semester II akan lebih tinggi mencapai 87 hingga 90%. Dengan belanja modal pemerintah tersebut tentunya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, dia menambahkan, dari sektor inevestasi diperkirakan juga masih bisa diandalkan. Karena hingga saat ini kondisinya masih menarik, meski jika dilihat laju investasi di dunia global saat ini memang agak tersendat. Karena itu, hal inilah yang semestinya dimanfaatkan.

Lebih lanjut, Bambang mengatakan, sementara dari sektor perdagangan ekspor, pemerintah tidak bisa banyak berharap. Sebab, harga komoditas di pasar global saat ini masih terpuruk. Terlebih itu dialami oleh komoditas-komoditas yang menjadi andalan ekpor Indonesia seperti minyak kelapa sawit dan batu bara.

“Ekspor kita agak sulit diharapkan. Harga komoditas saat ini kondisinya terus anjlok. Dan tidak akan bisa naik kalau harga minyak tidak seperti sekarang ini,” ujarnya. [*]

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…