Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

NU Usulkan Bentuk Kurikulum Anti Korupsi

Gunung Raung Siaga, Warga Tak Terganggu

Status siaga Gunung Raung yang berketinggian 3.332 meter dari permukaan laut tidak mempengaruhi aktivitas warga di lereng gunung yang berada di Kabupaten Jember, Jawa...

Denmark Akan Pangkas Bantuan Bagi Pencari Suaka

Pemerintah sayap kanan baru Denmark akan memangkas bantuan bagi pencari suaka untuk menurunkan jumlah pengungsi yang datang ke negara itu. "Efeknya mudah-mudahan akan menurunkan jumlah...

Menkominfo Resmikan Layanan 4G LTE

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, hari ini meresmikan komersialisasi layanan 4G LTE pada frekuensi yang dimiliki lima operator telekomunikasi yaitu PT XL Axita Tbk,...

Riset Sawit Mengenang Jopi

  Antara korupsi dan perusakan lahan. Investasi perkebunan sawit skala besar yang mulai digalakkan pemerintah pada 1980-an kini menunjukkan wajahnya yang buruk. Dengan pendekatan pembangunan, infrastruktur...

Ilustrasi pelanggaran tindak pidana korupsi/ANTARA FOTO
Ilustrasi pelanggaran tindak pidana korupsi/ANTARA FOTO

Kurikulum anti korupsi diusulkan masuk dalam mata pelajaran di lingkup pesantren. Kurikulum tersebut sangat penting sebagai penjaga moral melalui penguatan perilaku anti korupsi secara lebih dini.

“Terlebih pesantren diisi alim ulama. Karenanya, pondok pesantren wajib menjadi teladan pendidikan nilai-nilai dan perilaku antikorupsi bagi murid-muridnya. Kami akan usulkan kurikulum antikorupsi untuk disampaikan di Muktamar nanti,” kata Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Ahmad Ishomuddin, Rabu (29/7).

Dia mengatakan, selama ini tidak banyak kalangan alim ulama yang menyadari, adanya pemberian atau sumbangan seseorang yang berkunjung ke pesantren dihasilkan dari pencucian uang, risywah atau suap.

“Namun demikian dalam kasus tertentu ada yang masih menganggap pemberian seseorang tersebut hadiah bukan risywah,” katanya.

Ishomuddin mencontohkan, dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah misalnya, kerap seorang calon berdatangan mengunjungi pesantren dengan maksud meminta restu. Dalam kesempatan itu, tidak jarang disertai dengan pemberian sesuatu yang memiliki kemungkinan risywah atau suap.

Oleh sebab itu, dia mengingatkan kepada para kiai untuk tidak mudah menerima suatu pemberian dari orang lain. Sebelum menerimanya, pemberian itu perlu dipertanyakan terlebih dahulu apa tujuan dan dari mana barang pemebrian itu berasal.

Menurut dosen ilmu hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Hifzil Alim, pengetahuan khusus mengenai korupsi serta pencucian uang perlu diterapkan di kalangan pesantren dengan mengacu hukum agama dan hukum positif. Sebab, masih banyak para kiai yang belum memahami korupsi serta pencucian uang dari sisi hukum positif.

“Pokoknya asal nyumbang ke pesantren masuk surga. Padahal kalau sumbangannya ternyata tidak bersih, penegak hukum bisa masuk,” kata Hifdzil.

Sementara itu, Koordinator Seknas Jaringan Gusdurian Alisa Wahid mengatakan selama ini kegiatan “bahtsul masail” atau majelis yang membahas berbagai masalah tentang berbagai hukum keagamaan di kalangan pesantren masih belum mendalam soal korupsi.

“Pembahasan mengenai korupsi, rata-rata umumnya hanya menyangkut ghulul (penggelapan), risywah (penyuapan), serta sariqah (pencurian). Belum secara khusus membahas money laundering (pencucian uang),” kata Alisa. [*]

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.