Senin, April 12, 2021

Meski Jam Belajar Lama, HDI Indonesia Hanya Urutan ke-108

Akhir Tahun, 25 Pasar di DKI Bebas Zat Kimia

Dinas Kelautan Pertanian dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta akan meningkatkan frekuensi pemeriksaan zat kimia pada bahan makanan di pasar-pasar. Ini untuk memenuhi target 25...

PNS Wajib Mematuhi Kebijakan Masa Liburan

Seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia wajib untuk mematuhi kebijakan pemerintah mengenai  penetapan masa libur Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah yang diperkirakan...

Ada Kemungkinan UUD 1945 Diamandemen

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan mengatakan, wacana amendemen Undang-Undang Dasar 1945 yang saat ini sedang mengemuka antarpimpinan lembaga negara akan dibahas oleh Lembaga...

Penumpang KRL Naik 33 Persen

Jumlah penumpang KRL Commuter Line Jabodetabek selama tiga hari setelah Lebaran 2015 meningkat 33 persen atau sekitar 4,5 juta orang dibandingkan tahun lalu. "Hingga H+3...

Sejumlah mahasiswa berjalan melintas di depan gedung fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Tidar, Magelang, Jateng, Kamis  (3/4). Universitas Tidar Magelang (UTM) yang sebelumnya merupakan perguruan tinggi swasta mulai bulan April tahun ini telah resmi menjadi Perguruan Tinggi Negeri dengan nama Universitas Negeri Tidar yang disingkat Untidar. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/ed/mes/14
Sejumlah mahasiswa berjalan melintas di depan gedung fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Tidar, Magelang, Jateng, Kamis (3/4). Universitas Tidar Magelang (UTM) yang sebelumnya merupakan perguruan tinggi swasta mulai bulan April tahun ini telah resmi menjadi Perguruan Tinggi Negeri dengan nama Universitas Negeri Tidar yang disingkat Untidar/ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Pendidikan menjadi salah satu tolok ukur manusia. Di Indonesia, mahasiswa dapat meraih gelar sarjana dengan menyelesaikan minimal 144 satuan kredit semester (SKS). Jumlah ini lebih banyak bila dibandingkan dengan negara lain, seperti Amerika yang mengambil minimal 120 SKS. Namun, apakah jumlah SKS yang lebih banyak ini menunjukkan kualitas pendidikan yang lebih baik dan melahirkan manusia-manusia berkualitas?

Di Indonesia, seorang mahasiswa dapat mengikuti tujuh hingga delapan mata kuliah per semester. Bandingkan dengan negara lain yang hanya empat hingga enam mata kuliah dalam satu semester. Di Amerika Serikat, rata-rata mahasiswa hanya menempuh empat mata kuliah per semester. Di Eropa, lima mata kuliah per semester. Lalu di Australia, mahasiswa dibebani empat hingga enam mata kuliah per semester.

Menurut hasil penelitian tentang “Desain Kurikulum dan Penerapan SKS di Perguruan Tinggi” oleh Tim Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), berdasarkan jam belajar per minggu, jam belajar di Indonesia melebihi 40 jam, yaitu 48 hingga 54 jam per minggu. Sedangkan di AS sekitar 35 hingga 54 jam, 31,5 hingga 40 jam di Eropa, dan 32 hingga 50 jam di Australia.

Padahal, menurut Ketua Tim Peneliti dari LPEM FEUI Rangga Handika, hanya sebagian kecil perguruan tinggi di negara lain yang menuntut jam belajar melebihi 40 jam per minggu. Selain itu, menurutnya, untuk memperoleh gelar S-1 cukup dengan 120 sks. “Yang penting, proses belajar dilaksanakan dengan benar,”  katanya.

Dampak dari beban pendidikan tinggi Indonesia ini, calon mahasiswa asing menjadi kurang berminat melanjutkan studinya di Indonesia. Selain itu, pemahaman terkait mata kuliah tersebut malah semakin kurang karena terlampau berlebihan. Yang ada hanya sekadar memenuhi tatap muka saja.

Bukan hanya itu, melalui pendidikan ini dapat dilihat pula mutu manusia tersebut. Meskipun pendidikan Indonesia di sektor perguruan tinggi lebih berat, berdasarkan Human Development Index (HDI) 2013, Indonesia hanya masuk dalam medium human development menduduki urutan ke-108 dengan total 0,684. Jauh tertinggal dengan negara-negara very high human development, seperti Australia sebesar 0,933; Amerika 0,914;  Belanda 0,900; dan Jepang 0,890. HDI adalah salah satu indikator untuk mengukur kinerja pembangunan manusia. [*]

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.