Sabtu, Maret 6, 2021

Ini Tiga Pemicu Masalah di Pilkada Serentak

Besok, Gatot Nurmantyo Dilantik Sebagai Panglima TNI

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang saat ini menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) akan dilantik menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal Moeldoko yang akan...

Intel Lirik Prosesor Mobile

Perusahaan prosesor dunia, Intel, mulai melirik pasar prosesor yang terhubungkan dengan telekomunikasi. Dalam waktu dekat, mereka akan memperkenalkan prosesor terbarunya seri Intel Atom kepada...

Arab Saudi Satu Suara dengan Israel Kecam Iran

Saat Menteri Pertahanan Amerika Serikat Ashton Carter mengunjungi Arab Saudi, Rabu hari ini, pemimpin Arab Saudi meminta Amerika Serikat tegas manolak campur tangan Iran...

500 Ribu Masker Dibagikan

Kementerian Kesehatan membagikan masker sebanyak 500.000 buah untuk warga di Kota Ternate, Maluku Utara yang menjadi korban erupsi Gunung Gamalama. "Rencananya dikirim hari ini dan...

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Ilustrasi. Petugas menyiapkan surat suara dalam simulasi pemungutan dan penghitungan suara pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di halaman Kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta Pusat, Selasa (7/4). Simulasi tersebut untuk melihat sejauh mana penerapan Pilkada sesuai UU Nomor 8 Tahun 2015 sekaligus sebagai persiapan untuk Pilkada yang akan digelar pada Desember mendatang/ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Pemilihan Kepala Daerah dilaksanakan secara serentak dimulai pada tahun ini. Namun, ada beberapa factor yang menjadi pemicu masalah bagi pasangan calon. Masalah ini bahkan bisa berdampak pada penundaan pilkada serentak 2015.

“Ada tiga faktor yang bisa menjadi pemicu masalah dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak,” kata Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Kupang, Ahmad Atang, Jumat (31/7).

Dia memaparkan, faktor pertama adalah adanya kisruh partai politik yang hingga kini belum bisa terurai. Akibat hal ini dampaknya membuat calon kepala daerah tidak percaya diri, karena pencalonannya diusung partai bermasalah yang menjadi kendaraan politiknya.

“Hal itu berkaitan dengan masalah pendaftaran pasangan calon yang dapat berakibat pada penundaan pelaksanaan pilkada di sejumlah daerah di Tanah Air,” katanya.

Faktor kedua, partai politik lebih mementingkan kekuasaan ketimbang menumbuhkan demokrasi, sehingga sebagian besar partai politik ramai-ramai mendukung calon tertentu yang diyakini akan menang, dengan tidak membuka ruang bagi calon lain untuk menggunakan partainya menjadi kendaraan politik.

Faktor ketiga adalah adanya aturan Komisi Pemilihan Umum tentang penundaan pilkada bagi daerah yang memiliki calon tunggal. Namun, hal ini justru membuka peluang adanya pembusukan politik antara partai politik pendukung dan calon yang sengaja tidak mendaftar agar pilkada ditunda.

Menurut Atang, dengan penundaan pilkada maka secara otomatis calon petahana akan mengakhiri masa jabatan, sehingga yang muncul adalah pejabat. Dengan begitu, petahana tidak lagi mempunyai kekuatan dan kekuasaan sehingga relatif mudah untuk dikalahkan.

“Jadi ada semacam kegalauan dari calon lain untuk berhadapan dengan petahana,” katanya.

Skenario ini justru merusak tatanan demokrasi, kata Pembantu Rektor I UMK ini.
Pilkada serentak yang pendaftaran ditutup (28/7) telah menyisahkan soal.
Di beberapa daerah ternyata muncul calon tunggal sehingga KPU harus memperpanjang pendaftaran hingga 3 Agustus.

Jika pada masa perpanjangan juga tidak ada figur lain yang mendaftar maka pilkada di daerah tersebut ditunda sampai 2017. Artinya, fenomena ini menarik untuk ditelaah karena baru pertama terjadi yakni pilkada sepi pelamar atau peminat.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.