Ahok, Tionghoa, dan Masjid-Masjid Cheng Hoo

960

Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta menjadikan masjid-masjid di Jakarta sebagai ruang kontestasi politik. Ceramah-ceramah di mimbar-mimbar salat Jum’at sering terdengar pedih dan penuh ancaman. Inilah wajah masjid-masjid Ibu Kota yang terbakar amarah. Masjid-masjid yang seharusnya menjadi oase yang menyejukkan, menjadi tempat untuk mencari kedamaian, bergeser sebagai mimbar politik.

Meski masih banyak masjid yang menghadirkan ceramah santun, harus diakui kontestasi politik meningkatkan tensi emosional di mimbar-mimbar masjid Ibu Kota. Apalagi politik identitas menjadi strategi dalam arena kontestasi ini. Memilih “siapa” akan membawa konsekuensi dalam relasi antar-agama.

Identitas agama menjadi senjata yang meresahkan, hingga mengakibatkan debat berkepanjangan dan merenggut korban. Apa yang terjadi pada jenazah nenek Hindun binti Raisman, warga di Karet Setiabudi, Jakarta Selatan, yang ditolak (sebagian) warga untuk disalatkan, patut menjadi renungan.

Sementara itu, ada gerakan massif untuk menciptakan stigma betapa etnisitas terkoneksi dengan agama. Ketionghoaan diasosiasikan dengan kafir, bukan Islam. Inilah politik penyesatan publik, yang hari-hari ini menghantui nalar publik warga negeri ini. Tidak hanya warga Jakarta yang menjadi ajang kontestasi politik, tapi merembet ke beberapa kawasan di sekitarnya.

Masjid-Masjid Cheng Hoo
Baiklah, kita mungkin perlu rehat sejenak, jalan-jalan menyusuri penjuru negeri ini untuk melihat betapa silang-budaya menjadi bagian dari identitas keindonesiaan kita. Betapa beragamnya kebudayaan warga Indonesia, betapa berwarnanya tradisi di pelosok negeri.

Kebhinekaan hadir dalam keseharian warga, menjadi nafas bagi kehidupan warga lintas etnis. Untuk itu, tidak sepatutnya menggunakan isu-isu etnis sebagai peluru tajam di lingkar kekuasaan.

Dalam tradisi Tionghoa Nusantara, nama Laksamana Cheng Hoo menjadi penanda silang budaya ini. Laksamana Cheng Hoo menjadi simbol betapa pengaruh Tionghoa melekat dalam tradisi dan ritus keagamaan di negeri ini. Cheng Hoo merupakan penyebar Islam dari Dinasti Ming. Tan Ta Sen, dalam karya risetnya, Cheng Ho and Islam in Southeast Asia (2009) menganalisa jejak persebaran agama dan kebudayaan dalam misi muhibah Cheng Hoo. Jejak Cheng Hoo dapat dilacak lewat peninggalan arkeologis di Pasai, Kukang (Palembang), Cirebon, Semarang, Lasem, Tuban, Gresik, dan Surabaya.

Cheng Hoo lahir pada 1371 di Distrik Kunyang, Yunnan, Tiongkok. Ia merupakan putra dari Ma Hazhi (Haji Ma) yang beragama Islam. Pada 1405-1433, Cheng Hoo melakukan kunjungan diplomatik ke lintas kawasan, yang singgah di beberapa kota pesisir di wilayah Nusantara. Orang-orang Tionghoa Muslim di negeri ini mengenang Cheng Hoo dengan mendirikan masjid-masjid.

Jika mengunjungi masjid-masjid ini kita akan tersadar betapa identitas Tionghoa tidaklah tunggal, sebagaimana yang selama ini menjadi framing dalam kontestasi politik. Masjid-masjid Cheng Hoo didirikan oleh komunitas-komunitas Tionghoa Muslim di beberapa kawasan. Di antaranya di Surabaya (diresmikan 28 Mei 2003), Pandaan Pasuruan (27 Juni 2008), Kaliwates Jember (13 September 2015), Banyuwangi (26 Desember 2016), Mrebet Purbalingga (5 Juli 2011), Palembang (2006).

Arsitektur masjid Cheng Hoo di Purbalingga, misalnya, diilhami oleh arsitektur masjid Niu Jie (Ox Street) di Bejing, yang dibangun pada 966 masehi. Gaya arsitektur ini tampak pada bagian puncak, atap utama, dan mahkota masjid. Selain itu, ada perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya lokal Jawa.

Masjid Cheng Hoo Purbalingga tak lepas dari kisah Thio Hwa Kong (Heri Susanto), muallaf yang peduli pada perkembangan agama. Mulai 2014, Heri bersama warga menginisiasi masjid ini, yang diresmikan pada 5 Juli 2011.

Masjid Cheng Hoo di Surabaya menjadi ruang interaksi antar-kelompok lintas etnis dan agama. Masjid ini, oleh pengurusnya, disulap menjadi ruang publik yang mengakomodasi kepentingan ibadah sekaligus interaksi antar-warga. Inilah masjid yang menjadi oase, bukan masjid yang menjadi ruang kontestasi politik.

Pada 9 Desember 2016 lalu, Masjid Cheng Hoo di Surabaya menjadi tempat penyelenggaraan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hadir pada acara tersebut pengasuh pesantren Tebu Ireng Kiai Shalahuddin Wahid, Inayah Wahid (putri Gus Dur), pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), pengurus Yayasan Mohammad Cheng Hoo, tamu kehormatan dari Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Konsulat Jenderal Amerika Serikat, dan komunitas-komunitas santri.

Masjid Muhammad Cheng Hoo di Surabaya, Jawa Timur.

Dalam orasinya, Inayah Wahid mengungkap betapa Gus Dur menjadi teladan, dengan nilai-nilai humanisme dan pluralisme yang melekat pada tindakan. Keberpihakan Gus Dur bermuara pada kesejahteraan masyarakat di sekitarnya (mashlahah ‘ammah). “Selama ini kita gagal fokus terhadap ide utama Gus Dur,” kata Inayah. Ia menambahkan, nilai-nilai utama Gus Dur harus menjadi referensi keteladanan kita bersama.

Sembilan nilai-nilai utama Gus Dur—sebagaimana dirumuskan Jaringan Gus Durian—yakni: ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, dan kearifan lokal.

Haul Gus Dur di Masjid Muhamamad Cheng Hoo itu menjadi refleksi betapa komunitas lintas etnis dan agama bisa saling berinteraksi, tanpa terjebak pada kecurigaan-kecurigaan sektarian. “Ini malam yang luar biasa, karena berkumpul ratusan orang dari berbagai suku dan agama,” ungkap pendiri Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo, Yusuf Bambang Sujanto, sebagaimana dilansir Antara (10/12/2016).

Menjadikan isu etnis sebagai amunisi untuk kampanye negatif akan berdampak negatif bagi integrasi sosial dan kebudayaan negeri ini. Persaudaraan lintas etnis-agama yang sebelumnya menjadi wajah kebhinekaan bisa memudar.

Inilah harga mahal dari kontestasi politik yang menghalalkan segala cara. Ketionghoaan dipersepsi sebagai bukan bagian dari “keislaman dan keindonesiaan”. Persepsi inilah yang harus direvisi dengan menghadirkan segenap kisah-kisah interaksi lintas etnis.

Jika Anda memiliki waktu luang, berkunjunglah ke masjid-masjid Cheng Hoo di seantero negeri ini. Anda akan menemukan betapa ketionghoaan bukanlah ancaman, melainkan ikatan persaudaraan.

Baca juga:

Cina yang (Bukan) Kafir

Komentar anda