Yang Ngepop yang (Mungkin) Berkuasa

415
Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri (tengah) didampingi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (kedua kiri)-Djarot Saiful Hidayat (kedua kanan) melakukan simulasi pencoblosan saat konser "Gue 2" di Lapangan Ex Driving Range, Senayan, Jakarta, Sabtu (4/2). Konser yang diikuti sejumlah seniman dan budayawan itu sekaligus menjadi kampanye akbar Basuki-Djarot. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc/17.
Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri (tengah) didampingi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (kedua kiri)-Djarot Saiful Hidayat (kedua kanan) melakukan simulasi pencoblosan saat konser “Gue 2” di Senayan, Jakarta, Sabtu (4/2). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc/17.

Medan budaya pop adalah ruang pertempuran yang harus diambil dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Melalui produk-produk budaya pop ini setiap pasangan calon akan menunjukkan dan merepresentasikan diri mereka untuk berpihak kepada siapa, kelas apa, dan visi apa yang ingin digambarkan. Selain masyarakat Indonesia tumbuh dengan tradisi oral, budaya menonton juga jauh lebih mengakar ketimbang membaca buku.

Jika menelisik ke belakang, kekalahan pasangan Foke-Nahrawi dari Jokowi-Ahok dalam Pilkada 2013 adalah tidak merepresentasikan kebaruan dan energi segar dalam memandang pelbagai persoalan yang terjadi di Jakarta. Ini terlihat dari video musik sebagai media propaganda di Youtube; miskin kreativitas dan tidak mengandung estetika filmis yang membuat orang yang menonton merasakan apa yang dibayangkan dari nyanyian video tersebut.

Meskipun diakui video musik bukanlah satu-satunya referensi orang untuk memilih, ia menjadi preferensi kecenderungan mengenai siapa yang lebih siap dan menarik hati masyarakat urban Jakarta di tengah keranjingan Android yang selalu berada di dalam genggaman tangan ke mana pun mereka pergi.

Dengan 40 lagu dan 5 album yang diluncurkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjadi orang nomor satu di Indonesia selama 2 periode, kata kreatif dan daya seni menjadi perihal yang harus dilekatkan. Kreativitas dan daya seni inilah yang saya pikir akan juga muncul saat Agus berdampingan dengan Sylvi dicalonkan maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Saya menduga bahwa tim sukses dan relawannya akan mengisi dunia maya dengan video-video musik yang kreatif, di mana lagu-lagu SBY menjadi pengiring utama untuk mendongkrak popularitas Agus-Sylvi.

Asumsi saya ternyata salah. Selain tidak ada lagu-lagu SBY dalam kampanye Agus-Sylvi, tim suksesnya dan juga relawan yang secara sukarela membuatkan lagu di Youtube ternyata hanya berjumlah 11 lagu. Sementara 15 lagu yang lain itu hanya lomba lipsync, “senangnya tuh di sini” gubahan dari Sakitnya Tuh Di sini-nya Cita Citata. Sementara Anies-Sandi di bawahnya, yaitu hanya memiliki 10 lagu di Youtube, di mana penyumbang terbanyak yang diciptakan sendiri datang dari relawannya yang bernama Kamaludin Rahmat dengan menyumbang 4 lagu gubahan.

Dibandingkan kedua paslon tersebut, mengikuti trend pilkada Jakarta sebelumnya, Ahok-Jarot, tim sukses, dan para relawannya benar-benar menyiapkan produk budaya populer tersebut untuk merebut hati urban Jakarta. Saya mencatat video dukungan yang berbentuk lagu ada 26 lagu di Youtube.

Di sini gubahan menjadi konsumsi utama yang digunakan tim pemenangan Pilkada DKI. Selain memudahkan untuk mengingat dan tidak susah untuk membuatnya, menggubah juga memungkinkan orang untuk menautkan atas lagu yang sebelumnya sudah dikenal. Perihal ini yang disadari oleh tiga pasangan calon tersebut. Dengan mengandalkan “Senangnya Tuh di Sini”, gubahan lagu dari penyanyi dangdut terkenal Cita Citatata (Sakitnya Tuh Di sini), tim sukses Agus-Sylvi mencoba memenangkan hati masyarakat Jakarta.

Ini terlihat dengan adanya “Lomba Lipsync” yang kemudian diunggah oleh Aegis Warrior, berisi sekitar 18 video dengan lagu yang sama dan partisipasi anggota masyarakat yang terlibat dalam lomba tersebut. Selain bernuansa riang, lagu tersebut sekadar mengajak orang untuk memilih Agus-Sylvi, tanpa ada muatan ideologis ataupun visi yang coba diusung.

Calon Gubernur nomor urut 1 Agus Yudhoyono memberi arahan dalam acara Apel Siaga Relawan Jaga Agus-Sylvi di lapangan eks Golf Driving Range Senayan, Kompleks GBK, Jakarta, Sabtu (21/1). Agus meminta kepada relawannya untuk mengawal jalannya Pilkada DKI sampai pemungutan suara pada 15 Februari 2017. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/foc/17.
ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/foc/17.

Di sisi lain, dengan memadukan rapp dan musik disko, kelompok musik Algaris Voices, menggubah lagu Nyok Kita Nonton Ondel-Ondel menjadi Lagu Agus-Sylvi versi Betawi mencoba lebih maju dengan menawarkan visi-misi Agus-Sylvi, yaitu ingin membawa kejayaan warga Jakarta. Selain itu, lagu tersebut juga mencoba memberikan kontribusi apa yang akan diberikan oleh Agus-Sylvi melalui posisi mereka sebelum mencalonkan.

Secara musikal melalui lagu Satu Rasa Satu Hati, grup musik Algaris ini, yang kemudian menggubahnya untuk dukungan kepada Agus-Sylvi, bisa merepresentasikan anak-anak muda, yang selama ini dianggap kekuatan yang bisa ditampilkan Agus. Sayangnya, sekali lagi, tidak ada kelebihan yang digambarkan mengapa harus satu suara untuk mendukung Agus-Sylvi, yang secara imajinatif orang kemudian akan memilihnya. Lagu tersebut berhenti menjadi sebuah lagu yang enak didengar tetapi secara pesan tidak kuat untuk disampaikan.

Selain menipis stigma yang selama ini muncul, Tim Pemenangan Ahok-Jarot dan para relawannya, melalui gubahan lagu yang dibagikan di Youtube, berisi mengenai dukungan dan prestasi atas sejumlah kebijakan yang sudah dihasilkan selama Ahok memimpin. Ini bisa dilihat dengan lagu gubahan seperti Hip Hip Hura-hura Coplos Nomor 2, lagunya Adjie Soetama diubah oleh Syns NS, Gue Sih Nyantai Aja, dinyanyikan oleh Lilin Kecil (Cover Lagu Uptown Funk dari Mark Ronson dan Bruno Mars), Ahok Sakti oleh Sendal Jepit Project (Cover Lagu Kera Sakti).

Meskipun lagu gubahan, produk video itu tidak terlalu banyak mendapatkan komentar dan orang yang melihat (views). Kalaupun ada, ini bisa dilihat dengan Gue Sih Nyantai Aja-nya Lilin Kecil. Di sini, Lilin Kecil mencoba menangkap realitas mengenai stigma yang menimpa Ahok dan bagaimana kemudian Lilin Kecil melihat Ahok melalui kebijakannya yang justru berpihak kepada masyarakat ketimbang birokrasi yang sebelumnya menyusahkan.

Sementara tim pemenangan Anies-Sandi, ada 5 lagu gubahan yang dibuat, yaitu Korbankan Semangat, dimuat oleh PKS TV, diambil dari lagu C’Est La Vie-nya Khaled, lagu Pen-Pineapple-Apple-Pen, dinyanyikan oleh Piko Taro, diubah menjadi PPAP Anies-Sandi, dibuat dan dinyanyikan oleh Relawan Anies-Sandi (2 lagu dengan versi berbeda). Seorang diri Kamaludin Rahmat memberikan kontribusi lagu dan video untuk Anies-Sandi sebanyak 4 lagu; Nyok Pilih Anies-Sandi (gubahan Nyok Kita Nonton Ondel-Ondel), Salam Alaikum Jakarta (Cover Salam Alaikum – Harris J), Penantian Berharga (Cover Penantian Berharga – Rizky Febian), dan Gubahan Cucok Rowo Versi Anies Sandi, karya Didi Kempot.

Di antara lagu gubahan tersebut, Korbankan Semangat mendapatkan komentar dan dilihat lebih banyak. Selain lagu pop ini menunjukkan kegembiraan juga menunjukkan rasa semangat agar memilih Anies-Sandi agar warga Jakarta mendapatkan rasa adil dan sejahtera. Lagu gubahan tersebut persis mencerminkan ghirah PKS terhadap semangat Islam yang tampaknya akan maju ke medan perang.

Alih-alih kritik, dalam lagu gubahan tersebut sekadar memberikan dukungan kepada mereka tanpa mencoba menglorifikasikan keunggulan diri mereka berdua. Padahal, produk budaya populer melalui gubahan tersebut justru menjadi media yang ampuh untuk meningkatkan citra diri sambil mengkritisi pihak lawan.

Perihal ini bisa kita lihat melalui lagu-lagu orisinil yang diciptakan sendiri sebagai bentuk mendukung dan menaikkan citra diri ataupun, secara tidak langsung, mengkritisi pihak lawan. Ini terlihat dari tim relawan Ahok-Jarot dengan kehadiran musisi terkenal dengan menyanyikan lagu ciptaan mereka. Misalnya, Pemimpin Sejati, diyanyikan oleh Komunitas Seniman Relawan untuk Ahok dan Jarot, Elo Gue Cinta Jakarta oleh Oppie Andaresta, Gue 2 oleh Slank, Ello, Gleb Fredly, Oppie Andaresta, Yuni Sarah, and All Artis, Om Ahok Telolet Om oleh Le Moesiek Revolve, Gara-gara Ahok diyanyikan oleh Tompi, Iwa K, Bertha, Lala karmela, Deviana Daudsjah, Kenapa Ahok, dinyanyikan oleh Saykoji, dan Gila Ahok oleh Hizrah Bacan.

Sementara itu, lagu yang secara kuat untuk mengkritik bahwa Ahok sebagai anti-Islam ini justru diperlihatkan dengan kehadiran lagu Ahok, yang dinyanyikan oleh Siska Salman dan diunggah oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menjadi penyokong utama Ahok-Jarot. Selain menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan Ahok dan juga sosok keberanian yang dilakukan itu sebagai bagian dari bukti janjinya untuk membangun Jakarta, kehadiran Siska dengan menggunakan jilbab dengan berpaduan busana modern mencoba memperlihatkan bahwa anak muda Jakarta, Muslim, berjilbab, juga adalah dukung Ahok.

Upaya untuk membedakan diri dengan petahana ini sebenarnya ditunjukkan oleh tim pemenangan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi. Dalam tim pemenangan Agus-Sylvi, misalnya, mereka merepresentasikan sebagai kelompok muda. Ini tercermin dengan video lagu yang ditunjukkan dalam “A.. H.. YEAH, Agus-Sylvi Number One”, yang bercorak Hip Hop. Lagu ini dipasang oleh tim pemenangan AHY untuk menunjukkan kebaruan dan kemudaan yang mereka tawarkan, terlihat dengan pakaian yang dikenakan dan gaya muda yang diperlihatkan melalui hentakan lagu dan gerakan Agus-Sylvi dalam video tersebut.

Sayangnya, sekali lagi, lagu ini tidak menawarkan gambaran, visi, ataupun ide yang coba ditawarkan mengenai sosok Agus-Sylvi. Satu-satunya lagu yang dijadikan amunisi justru yang dibuat dan dinyanyikan oleh Bona Paputungan dengan judul Agus-Sylvi DKI. Dengan mengkritik mulutnya Ahok, kemacetan yang masih melanda, dan kebijakannya yang menggusur, ia menawarkan Agus-Sylvi sebagai calon yang bisa menyelesaikan hal tersebut. Lagu ini juga yang dinyanyikan dalam beberapa kesempatan untuk kampanye kemenangan Agus-Sylvi.

Calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) dan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (kedua kiri) bernyanyi bersama Ketua Umum Partai Idaman (Islam Damai Aman) Rhoma Irama (ketiga kanan) saat kampanye terbatas di Cibubur, Jakarta, Kamis (2/2). Dalam kampanye tersebut Rhoma Irama memberikan dukungan untuk pasangan Cagub dan Cawagub DKI Jakarta nomor urut tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama/17
Pasangan Anies Baswedan-Sandiaga bernyanyi bersama Ketua Umum Partai Idaman (Islam Damai Aman) Rhoma Irama (ketiga kanan) saat kampanye terbatas di Cibubur, Jakarta, Kamis (2/2). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama/17

Sementara kubu Anies-Sandi menunjukkan kebaruan dan merepresentasikan jiwa muda yang justru lebih baik dari Agus-Sylvi. Ini tampak visi-misi kuat yang ditunjukkan melalui lagu Hip Hop yang menjadi andalan di Youtube, dengan judul Salam Bersama, Maju Bersama diunggah secara resmi oleh Partai Gerindra.

Salah satu liriknya, “Dengan Hati Suci Kita Maju/Dengan Hati Bersih kita Maju/Dedikasi Anak Bangsa, Numero Uno/Sama Dengan Visi Misi Sandiaga Uno/Bersosialisasi Setiap Hari Kita Tahu/Dan Pasti Tahu Apa Yang Warga Udah Mau/Yes Yo, Anies Sandi Tetap Yang Pertama Visi Misi Realita Di Depan Mata”.

Tidak seperti kedua pasangan calon sebelumnya, Anies-Sandi justru tampil berani untuk menarik dukungan masyarakat Muslim Jakarta dengan bernyanyi lagu Bimbo yang terkenal, Rindu Rasul. Lagu ini dibuat saat ada perayaan Maulid Nabi Muhammad dan seolah menunjukkan bahwa mereka mewakili masyarakat Muslim. Dengan menyanyikan lagu ini, pasangan ini jelas memposisikan diri sebagai Muslim sejati yang membedakan dengan kedua pasangan lainnya dan khususnya anti-tesis kepada pasangan Ahok-Jarot. Melalui lagu ini, mereka juga menegaskan bahwa pilihan bagi komunitas Muslim itu Anies-Sandi.

Melalui produksi video yang ditampilkan oleh ketiga pasangan calon tersebut, baik diproduksi sendiri, sukarela, ataupun kontribusi dari anggota masyarakat jelas menunjukkan bahwa praktik budaya populer melalui Youtube menjadi bagian yang penting untuk merepresentasikan masing-masing pasangan calon. Di sini, perebutan ruang maya yang coba ditunjukkan mencoba merebut hati masyarakat untuk memilihnya.

Secara kreativitas dan kuantitas, tim Ahok-Jarot jauh lebih siap dalam merepresentasikan atas apa yang sudah dan sedang dikerjakan dan juga menawarkan visi mengenai Jakarta ke depan. Sementara itu, meskipun tidak banyak, dua lagu tim Anies-Sandi yang saya sebutkan tersebut bisa merebut hati anak-anak muda, kelompok Muslim yang modern dan kelas menengah, yang selama ini juga jadi basis PKS.

Saya tidak bisa membantah bahwa lagu Rindu Rasul benar-benar membuat orang tertarik dan merasa nyaman mendengarkan. Bayangan ini kemudian menjadi harapan apabila mereka berdua memimpin di mana masyarakat Jakarta menjadi lebih santun dan Islami.

Sementara itu, meskipun secara umur jauh lebih muda, Agus-Sylvi, sebenarnya, bisa jauh lebih potensial ketimbang pasangan calon lainnya. Sayangnya, ini tidak digarap secara serius. Kebaruan dan kemudaan justru hanya diperlihatkan oleh penampilan dan gaya berpakaian Agus-Sylvi serta gaya moshing saat lepas manggung kampanye, tapi tidak ditunjukkan melalui produksi video lagu-lagu yang ditawarkan. Bahkan gaya moshing Agus, yang menjadi perbincangan anak-anak grup band Metal, tidak pernah dibuatkan videonya secara khusus.

Bagi saya, di tengah tenggat pencoblosan Pilkada Jakarta yang semakin dekat berharap kepada figur Bona Paputungan dengan lagunya yang ngepop dengan penuh kritik kepada Ahok dan kebijakannya menjadi perihal wajib untuk terus dikumandangkan tim Agus-Sylvi di tengah ceruk suara yang mulai diambil oleh pasangan calon Anies-Agus sebagai anti-tesis terhadap Ahok-Jarot.

Komentar anda