Yang Hilang dari Pendidikan Kita

1166

Siswa sekolah dasar (SD) melakukan penghormatan kepada pahlawan saat memperingati Hari Pahlawan di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (10/11). Peringatan hari Pahlawan 10 November itu untuk mengenang jasa pahlawan sekaligus memotivasi pelajar melalui 14 kata bijak/nasehat para pejuang pahlawan nasional kepada generasi anak Indonesia. ANTARA FOTO/Rahmad/pd/16
[ANTARA FOTO/Rahmad]
Menjejaki awal tahun 2017, banyak dari kita yang membuat catatan penting akan hal-hal yang perlu diubah, diperbaiki, atau ditinggalkan. Saya ingin ikut menyumbangkan catatan perubahan, secara khusus untuk pendidikan.

Pernahkah Anda bertanya pada seorang siswa di sekolah bagaimana dia menjawab pertanyaan-pertanyaan di ujian? Kerap jawabannya seperti ini: Mengikuti apa yang diajarkan Ibu/Bapak Guru atau Menyesuaikan cara yang dikatakan benar di sekolah. Tentu, jawaban seperti itu juga tidak salah.

Tapi, pernahkah Anda mendapati seorang siswa menemukan sebuah jawaban dari soal, namun berbeda caranya dari yang diajarkan di sekolah? Kemungkinan besar sangatlah jarang–jika bukan tidak pernah sama sekali. Gejala ini saya pandang sebagai tanda bahwa sistem pendidikan kita kehilangan satu variabel penting dalam aspek pembelajaran, yaitu pendidikan metakognisi.

Tentang Metakognisi

Arkturk (2011) menulis dalam tesisnya bahwa lebih dari 30 tahun terakhir, metakognisi menjadi topik yang cukup baru dan kontroversial bagi para akademisi psikologi. Secara etimologi, metakognisi dibangun dari kata meta dan cognition. Meta dalam bahasa latin bermakna lebih jauh atau beyond. Dengan demikian, metakognisi dapat dipahami sebagai kognisi yang lebih jauh.

Sejauh pembacaan saya, metakognisi pertama kali di definisikan oleh John Flavel pada 1976 sebagai pengetahuan seseorang akan kemampuan dan struktur kognitif mereka. Demikianlah metakognisi dapat pula didefinisikan sebagai kognisi (keadaan mengetahui) atas kognisi kita sendiri; seberapa jauh kita mampu mengetahui (mengenali secara menyeluruh) kemampuan kita sendiri.

Sebagai contoh, seorang pelajar dihadapkan dengan ujian tahunan dalam lima subjek pelajaran oleh penguji kompetensi sekolah yang akan dilaksanakan bulan depan. Di sini, kemampuan metakognisi berperan dalam mengidentifikasi masalah yang ada dan menemukan penyelesaian yang mungkin dilakukan.

Kata mungkin di sini berupa peluang yang ditentukan oleh ukuran kognisi pelajar tersebut. Pelajar dengan metakognisi yang baik akan mampu menakar berbagai macam opsi dan cara agar ia dapat mencakup seluruh materi yang mungkin akan diujikan dan menentukan sendiri target akhir yang ingin (atau dapat) ia capai.

Metakognisi, di sisi lain, menjadi strategi dalam menjalankan tujuan tersebut. Strategi metakognisi sendiri mempunyai tiga aspek dalam memahami dan menguasai kemampuan kognisi, yaitu planning (perencanaan), monitoring (pemantauan), dan evaluation (evaluasi) pada aspek-aspek kognitif.

Secara sederhana, kita dapat memahami strategi kognitif sebagai buah hasil dari strategi metakognitif. Saat metakognisi pelajar tersebut menyimpulkan bahwa ia tidak mampu memahami sebuah materi secara menyeluruh, dia akan tahu strategi kognitif apa yang bisa ia pakai untuk setidaknya mencapai standar lulus dalam ujian (misalnya cukup menghafal rumus dengan sungguh).

Hubungan strategi kognitif dan metakognitif dapat dipahami dengan figur di bawah.

Sumber: Olahan penulis
Sumber: Olahan penulis

Kembali ke kasus pelajar tadi. Kalkulasi akan kemampuan diri bertujuan memastikan ia mendapat skor bagus dalam ujian mendatang. Sebagai contoh hasil proses metakognisi, apabila pelajar tersebut kurang mahir dalam matematika dan soal hitungan, maka ia mengetahui bahwa menghitung bukanlah keunggulannya dan menghafal semua rumus dalam satu subjek adalah apa yang mudah baginya. Maka dari itu, ia akan memilih untuk menghafal saja cara menyelesaikan sebuah ekuasi dalam subjek yang ia kurang paham.

Metakognisi dan Pendidikan Kita

Melihat demikian pentingnya metakognisi, sebagai bagian dari paradigma dasar yang perlu ditransmisikan dalam proses belajar di sekolah, sangatlah disayangkan ketika kurikulum pendidikan kita tidak memasukkannya ke dalam silabus pendidikan dasar.

Lev Vygotsky, salah satu tokoh psikologi pendidikan, mengatakan bahwa dalam proses pembelajaran siswa seharusnya tidak hanya diberikan solusi akan sebuah masalah, tetapi diarahkan untuk mengeluarkan ekspresi logika dan intuisinya dalam menghadapi masalah.

Sejauh pengamatan saya, sistem pendidikan kita masih didominasi guru sebagai instruktur dibandingkan fasilitator. Pelajar terbiasa bersandar pada senioritas ilmu; menelan ilmu bulat-bulat dari yang lebih senior. Prinsip copy paste apa kata guru menjadi jalan tol menuju nilai terbaik. Pendidikan kita masih sangat berorientasi pada hasil, bukan proses.

Pengasahan metakognisi membutuhkan sistem pendidikan yang berorientasi pada proses yang memberikan ruang pada penyelesaian masalah yang fleksibel. Sistem yang sekarang ini kita pakai membelenggu perkembangan metakognisi siswa dengan kepastian cara dan simplifikasi penyelesaian masalah–mungkin juga akibat kejar tayang berbagai macam jenis ujian dengan bentuk soal pilihan ganda.

Tentu saja banyak faktor yang membuat penerapan variabel metakognisi dalam kurikulum di Indonesia menjadi sulit, baik secara internal dan eksternal ataupun secara diversif dan stata. Mungkin untuk sekarang ini usulan saya masih terlalu ideal untuk dapat diterapkan.

Namun, tentu tidak terlalu muluk apabila saya berharap ide ini dapat diserap dan dimunculkan dalam perencanaan dan konseptualisasi kurukulum kita, entah satu atau sepuluh tahun lagi.

Melalui tulisan ini, saya berharap lebih banyak pihak yang sadar bahwa kompetensi individu seharusnya tidak diukur dari seberapa tinggi nilai hasil pengujiannya, tetapi pada seberapa jauh ia mengenali dan mampu mengelola kemampuan dan kekurangan kognisinya.

Komentar anda