To Kill an Ahokbird

1119
Ratusan orang mengikuti aksi damai di Tugu Proklamasi, Jakarta, Rabu (10/5). Aksi tersebut sebagai bentuk dukungan serta simpati untuk Ahok yang ditahan karena dinilai terbukti melakukan penodaan agama. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Saya baru saja selesai membaca sebuah novel klasik karangan Harper Lee yang berjudul To Kill a Mockingbird. Saya harus mengakui, seperti kebanyakan pembaca lainnya, bahwa ceritanya memang bagus, heroik, dan gaya penceritaan Harper Lee sendiri yang sangat khas dan alami.

Sehari setelah saya selesai membacanya, saya masih sampai pada tahap “kagum-mendewakan” tadi, sampai akhirnya saya teringat kepada cerita negeri ini yang ternyata tidak jauh berbeda, bahkan bisa dikatakan sangat mirip. Saking miripnya saya jadi tertarik memberinya judul To Kill an Ahokbird.

Dalam buku Harper Lee ini, sang tokoh utama, Atticus Finch, digambarkan berani berjuang walaupun arahnya bergerak melawan mayoritas, melawan tetangga bahkan berseberangan dengan orang-orang terdekatnya sekalipun (adik perempuannya), membela seorang tertuduh kulit hitam, Tom Robinson.

Bisa dibilang sama dengan tokoh cerita To Kill an Ahokbird, Ahok juga mendayung perahu perjuangannya bergerak melawan mayoritas, terlepas apakah yang dilakukannya benar atau salah, bergerak mengikuti koridor yang dipagari nuraninya sendiri.

“The one thing that doesn’t abide by majority rule is a person’s conscience”

Layaknya Atticus Finch, satu kata yang mungkin paling melekat dengan sosok Ahok, dari kacamata subjektif saya, adalah “berani”. Saya tidak pernah bisa mendeskripsikan arti yang paling sesuai untuk kata tersebut dan saya juga tidak pernah punya cukup ketertarikan untuk mengeceknya di Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi melalui catatan perjalanannya, Ahok dapat menggambarkannya dengan definisi yang presisi

“I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand. It’s when you know you’re licked before you begin, but you begin anyway and see it through no matter what”

Saya selalu merasa bergetar ketika di dalam bukunya, sang tokoh utama, Ahok berkata, “Saya tidak pernah takut untuk tidak terpilih lagi, bagi saya itu hanya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bekerja lebih keras daripada saya.” Ucapan tersebut menggetarkan saya bukan karena indahnya frasa tersebut, tetapi oleh kesungguhan yang membara di belakangnya.

Ada satu bagian cerita To Kill a Mockingbird lagi yang mirip dengan cerita To Kill an Ahokbird, yaitu pada bagian Bob Ewell mengancam untuk membunuh Atticus Finch karena telah mempermalukannya di pengadilan, tetapi Atticus Finch tetap tenang dan dengan nada datar berkata, “Belum saatnya untuk khawatir.”

Pada cerita To Kill an Ahokbird sendiri, kejadian tersebut terjadi berkali-kali kepada tokoh utamanya, bahkan pernyataan pembunuhan dilontarkan oleh beberapa tokoh agama besar yang punya pengikut fanatik garis keras yang lumayan banyak di mimbar terbuka (https://m.tempo.co/read/news/2016/10/14/064812350/fpi-ancam-bunuh-ahok-ini-kata-kapolda-iriawan).

Berbicara dalam konteks probabilitas dan statistik, Ahok sangat mungkin dibunuh kapan saja dengan cara apa saja. Tetapi, nyatanya, Ahok tidak pernah memberikan reaksi yang berlebihan, melapor ke polisi saja kelihatannya tidak.

“It’s never an insult to be called what somebody thinks is a bad name. It just shows you how poor that person is, it doesn’t hurt you”

Tetapi masih ada satu bagian yang paling menarik dari buku ini, yang menjadikannya sebagai sebuah mahakarya sastra terkenal bahkan bisa dibilang terbaik di abad ke-20. Sebuah bagian yang mengantarkan pesan sekaligus ironi yang ternyata masih bertahan berpuluh-puluh tahun kemudian. Pada buku To Kill a Mockingbird, seorang kulit hitam, Tom Robinson, dituduh melakukan pemerkosaan terhadap seorang wanita kulit putih.

Tom Robinson pun akhirnya dibawa ke pengadilan untuk diadili. Tetapi apa yang disebut pengadilan saat itu, bukanlah pengadilan yang jelas mempunyai kata “adil” di dalamnya. Tom Robinson tidak pernah sedikit pun dipandang mempunyai kemungkinan tidak bersalah, yang ada hanyalah dia berkulit hitam yang secara default tidak punya hati, tidak beragama, bengis, tidak beradab, dan telah melecehkan jenis manusia yang berada di atas kodratinya, jenis manusia kulit putih.

Tanpa basa-basi, Tom Robinson akhirnya dituduh bersalah, dipenjarakan, dan akhirnya ditembak mati dengan tujuh belas lubang peluru di tubuhnya dengan alasan melarikan diri.

Tema cerita ini sendiri terinspirasi pada kejadian di sekitar tahun 1930-an di Alabama, Amerika Serikat. Tetapi, ternyata, tema tersebut diangkat kembali 80 tahun kemudian di Indonesia, melalui buku To Kill an Ahokbird.

Menarik melihat kenyataan bahwa kejadian di dunia ini ternyata tidak berlalu secara linear melainkan sirkuler. Saya sendiri selalu bingung, menggeleng-gelengkan kepala, layaknya Jem Finch, terhadap tokoh-tokoh antagonis di buku To Kill an Ahokbird ini. Sejak awal, mereka tidak pernah melihat Ahok melakukan sesuatu yang benar, yang ada hanyalah Ahok itu Cina, kafir, tidak punya nurani, menggusur orang-orang kecil dan miskin, dan telah melakukan penistaan terhadap agama yang paling benar dan berkuasa.

Untuk itu, Ahok bukan saja bersalah, tetapi pantas dibunuh atau disalibkan sekalipun. Nurani mereka yang menjadi penunjuk sekaligus hakim akhirnya buta. Pikiran mereka pun tertutup untuk melihat sesuatu dari bawah kulit Ahok sendiri.

“You never really understand a person until you consider things from his point of view… Until you climb inside of his skin and walk around in it”

Saya sendiri tidak pernah tertarik terhadap cerita dengan tema-tema politik. Itu sangat kotor, memuakkan, dan membosankan. Tetapi, jika boleh meggunakan istilah “dosa”, saya akhirnya merasa berdosa untuk membiarkan Atticus Finch berjuang di jalannya sendiri, walaupun sebenarnya tidak ada hal konkret yang bisa saya lakukan.

Merasa berdosa untuk melihat orang-orang mengepung, menembaki, melukai hingga membunuh seekor Mockingbird yang memberikan nyanyian kebahagiaan. Merasa berdosa membiarkan orang-orang mengadili hanya karena beda warna kulit dan beda agama. Merasa berdosa untuk mengamini frasa “kejahatan dan ketidakadlilan terjadi bukan karena kurangnya orang bernurani baik, tetapi karena orang baik tersebut memilih diam dan membisukan suara nuraninya.”

“Mockingbirds don’t do one thing but make music for us to enjoy. They don’t eat up people’s gardens, don’t nest in corncribs, they don’t do one thing but sing their hearts out for us. That’s why it’s a sin to kill a mockingbird”

Catatan: Semua quotes dalam tulisan ini diambil dari buku, To Kill a Mockingbird, Harper Lee.

Komentar anda