Raja Salman, Takhta Saudi, dan Kontestasi Para Pangeran

4058
salman-dkk
Raja Salman (tengah) dan para pangeran.

Rencana kunjungan Raja Salman (1-9 Maret) ke Indonesia memperoleh pemberitaan luas di tanah air. Bukan saja karena kunjungan itu historik, tapi juga besarnya rombongan dan lamanya kunjungan itu. Menurut Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Raja Salman akan disertai sekitar 1.500 orang, termasuk 25 pangeran dan 10 menteri. Pangeran siapa saja akan datang, belum ada informasi detail hingga kolom ini ditulis.

Apakah Muhammad bin Salman bin Abdul Aziz, Putra Sang Raja, yang sekarang sebagai waliyyu waliyyil ahdi (Deputi Putra Mahkota) akan datang? Secara de facto, urusan-urusan strategis Saudi sebenarnya ada di tangan anak muda ini.

Apa Putra Mahkota Muhammad bin Nayif juga datang? Tokoh ini secara formal merupakan orang kedua di Kerajaan Arab Saudi, tapi perannya kalah menonjol dari anak sang raja. Ia adalah generasi cucu pertama yang masuk dalam daftar sebagai calon pemangku takhta.

Atau pangeran siapa yang datang? Dari klan Sulthon bin Abdul Aziz atau klan Abdullah, atau lainnya, kita belum ada kabar detail.

Namun, yang menarik adalah hubungan antar para pangeran kerajaan kaya raya itu. Sejak lama, persaingan antarpangeran (baca putra raja pendiri) untuk menduduki takhta dan mendominasi pemerintahan di Arab Saudi berlangsung cukup keras. Dua episode terakhir dalam suksesi kerajaan itu mencerminkan sengitnya persaingan itu.

Persaingan itu minimal terjadi antara klan Sudairi dan non-Sudairi. Klan Sudairi memiliki tujuh anak laki-laki. Mereka memiliki kecenderungan kuat untuk terjun ke dunia politik, berbeda dengan kebanyakan pangeran Saudi yang lebih banyak terjun ke dunia bisnis.

Dua di antara klan Sudairi telah menjadi raja di Arab Saudi, yaitu Raja Fahd bin Abdul Aziz yang memerintah pada tahun 1982-2005 dan Raja Salman bin Abdul Aziz yang memerintah sejak tahun 2015 hingga sekarang.

Fahd adalah anak pertama Sudairi, sedangkan Salman adalah anak keenam. Sementara dari lima anak lainnya ada dua di antaranya pernah menjadi putra mahkota (waliyyul ‘ahdi), yaitu Sulthan bin Abdul Aziz dan Nayif bin Abdul Aziz.

Pada awal pemerintahan Raja Salman (2015), penyingkiran terhadap pangeran-pangeran non-Sudairi demikian mencolok. Dalam dekrit Raja di masa-masa awal pemerintahannya, Raja Salman mencoret Muqrin bin Abdul Aziz dari jabatan putra mahkota. Muqrin seharusnya menjadi raja Saudi setelah masa Raja Salman nanti. Posisi ini kemudian diduduki oleh Muhammad bin Nayif yang sebelumnya menduduki posisi Deputi Putra Mahkota. Deputi Putra Mahkota kemudian diduduki Muhammad bin Salman, anak sang raja seperti diulas di atas.

Jabatan deputri putra mahkota yang diperkenalkan pada masa pemerintahan Raja Abdullah ini dimaksudkan untuk menjamin suksesi dan keberlangsungan pemerintahan bani Saud. Jadi, jika raja mangkat, maka putra mahkota menjadi raja, dan deputi putra mahkota naik menjadi putra mahkota. Atau jika raja dan putra mahkota meninggal bersamaan atau hampir bersamaan, maka penggantinya juga sudah dipersiapkan. Ini mungkin saja terjadi, sebab sebelumnya baik raja maupun putra mahkota sudah berusia sekitar 80 tahun.

Anak-anak Raja Abdullah juga disingkirkan, termasuk yang selama ini menjadi gubernur Mekah dan Riyadh, posisi yang sangat strategis. Demikian pula dari klan Faishal yang memiliki tradisi memimpin kementerian luar negeri Saudi. Juga klan Suthan yang memiliki tradisi memimpin badan intelijen negara. Bandar bin Sulthan dan Khalid bin Sulthan dipecat dari posisi ketua badan intelejen.

Penyingkiran Putra Mahkota Muqrin bin Abdul Aziz dan pangeran dari klan lain tampaknya adalah balasan terhadap kebijakan Raja Abdullah yang menyingkirkan anak-anak Sudairi dari jabatan strategis. Maksud Raja Abdullah memasang Muqrin sebagai Deputi Putra Mahkota dahulu tentu untuk membatasi kekuasaan Sudairi yang terlalu dominan di mana-mana. Dan ia memilih Raja Salman sebagai Putra Mahkota yang dikenal kalem, bukan anak-anak Sudairi yang lain. Tapi Raja Salman ternyata mengambil langkah berani.

Takhta Saudi tentu hanya bisa diduduki oleh satu orang saja. Ketika yang berhak untuk mendudukinya hanya sekitar 37 anak laki-laki, situasi sudah demikian mencolok persaingannya.

Bagaimana ketika suksesi kemudian sebentar lagi jatuh ke generasi cucu. Jumlah pangeran generasi cucu telah mencapai beberapa ratus pangeran. Semuanya berhak menduduki takhta Saudi. Mereka semua memiliki hak untuk menduduki takhta negeri kaya raya itu. Oleh karena itu, persaingan antarpangeran di level cucu bisa sangat liar dan keras.

Saat ini calon pengganti Raja Salman memang sudah diputuskan raja dan menurut klaimnya sudah disetujui “keluarga Saud”. Penggantinya adalah pangeran Muhammad bin Nayif (Putra Mahkota), lalu kemudian Muhammad bin Salman. Akan tetapi, peralihan ke cucu ini sepertinya akan menemui persoalan yang tak mudah.

Pertama, generasi anak itu masih ada beberapa orang. Tentu mereka berupaya untuk mengembalikan hak-haknya yang “dikudeta” oleh Raja Salman melalui dekrit Raja. Selain Muqrin, masih ada sekitar 10 orang yang lain, termasuk klan Sudairi generasi anak, yang dipandang memiliki karakter kepemimpinan yang kuat.

Di samping itu, penunjukan Raja Salman terhadap putranya sebagai Deputi Putra Mahkota jelas menimbulkan persoalan serius. Muhammad bin Salman saat ditunjuk baru berusia 30 tahun, sementara putra-putra mahkota Saudi biasanya berusia di atas 70 tahun. Jika usianya tak terpaut jauh dengan Muhammad bin Nayif (sekitar 56 tahun) mungkin resistensinya akan lebih kecil.

Anak ini bukan saja dianggap kencur dari sisi usia. Dari sisi pengalaman dan pendidikan, ia dianggap belum memiliki kapasitas yang memadai untuk memegang jabatan sebagai Deputi Putra Mahkota. Faktanya, ia saat ini secara de facto adalah pemegang keputusan untuk hampir seluruh bidang-bidang strategis seperti pertahanan, luar negeri, ekonomi, dan sebagainya.

Situasi psikologis di kalangan para generasi cucu tentu sangat tidak nyaman meihat perkembangan ini. Mereka tentu saling mengenal satu dengan lainnya, termasuk dalam kapasitas kepemimpinannya. Jika ia gagal menjalankan berbagai tugas penting seperti memimpin perang Yaman, maka kemungkinan anak ini akan jadi bulan-bulanan dan akan dicoret dari putra mahkota setelah ayahnya (80 tahun) meninggal.

Apalagi anak-anak Abdul Aziz berasal dari istri yang jumlahnya (konon) sekitar 22 orang. Para istri itu berasal dari anak-anak tetua kabilah yang paling menonjol di seantero jazirah Arab. Anak-anak yang lahir itu dan banyak tumbuh bersama ibu itu tentu berkembang dengan mental dan kultur yang dekat dengan ibu yang berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan kultur di kalangan generasi ketiga (cucu) diyakini semakin kuat. Ini merupakan hambatan yang tak mudah bagi upaya mencapai konsensus antarpangeran Saudi yang berjumlah ratusan itu.

Komentar anda