Perempuan dan Sepakbola

300

Timnas Putri Indonesia [Sumber: goal.com]
Semua orang bisa menonton sepakbola, tapi tak semua orang punya akses yang sama untuk bermain sepakbola. Mereka yang berada di daerah pinggiran kota, masih punya waktu sampai lima tahun ke depan sebelum lapangan bola mereka tergusur oleh pabrik-pabrik penyumbang polusi dan kemacetan. Sementara buat mereka yang di kota, bermain bola adalah kemewahan buat orang-orang berada.

Sepakbola kadung lekat sebagai olahraga kaum pria. Padahal, perempuan juga punya hak yang sama.

Di Indonesia, saat ini, sepakbola yang dimainkan oleh perempuan agaknya masih merupakan sesuatu yang asing. Jangankan bisa dengan rutin menyaksikannya di televisi, kompetisi rutin pun, seperti halnya sepakbola pria, tak ada.

Minimnya perhatian terhadap sepakbola perempuan memang bukan hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara di Eropa pun hampir sama. Ada beberapa kesebelasan besar seperti Manchester United dan Real Madrid yang tak punya tim sepakbola perempuan. Di sisi lain, kesebelasan macam Barcelona di Spanyol punya kesebelasan perempuan yang tangguh. Di Inggris sendiri rival sekota United, Manchester City, terbukti sukses dalam merintis kesebelasan perempuan. Belum lagi tim perempuan Arsenal dan Liverpool yang sama-sama bersaing.

Ada sejumlah hal yang ditengarai menjadi inti dari sulitnya sepakbola perempuan berkembang. Sejumlah hal tersebut bermuara pada satu hal: perhatian.

Meniti Karier sebagai Atlet
Hingga saat ini, memilih jalur karier sebagai atlet adalah perjudian besar. Apalagi kalau olahraga yang dipilih bukanlah yang populer dan memiliki nilai tinggi. Atlet hanya berjaya saat ada turnamen atau kompetisi. Selebihnya, mereka harus berjuang sendiri.

Banyak atlet sukses yang pendapatannya amat menggiurkan. Di era 2000-an ada nama David Beckham yang mengaburkan batas antara olahraga dan kultur pop. Malah, pendapatannya dari dunia hiburan setara, bahkan lebih tinggi ketimbang gajinya di klub. Beckham pun pernah menjadi idola dan simbol dari sepakbola itu sendiri.

Namun, berapa banyak orang yang bisa menjadi seorang Beckham? Satu di antara seribu? Sepuluh ribu? Atau sejuta? Belum lagi masa aktif atlet yang terbilang pendek; bahkan bisa lebih pendek kalau ia mengalami cedera kambuhan. Apalagi, setelah pensiun, segala prestasi yang pernah mereka dapatkan biasanya terlupakan.

“(Masalah utama dari sepakbola perempuan) Mungkin karena kurang dapat perhatian dari PSSI ya terutama. Plus, stigma banyak orang soal sepakbola perempuan terutama orang tua si pemain. Kadang si pemain tidak diberi izin oleh ortunya untuk main bola,” jelas pengurus akun @womensfootie_id, Retno Annisa Utami.

Menurut Retno, secara global sepakbola perempuan ini kurang mendapatkan cakupan pemberitaan yang luas dari media. Kurangnya promosi juga menjadi faktor lain. Sialnya, media malah kelewat memuja atlet perempuan dari fisiknya saja.

“Orang masih menganggap remeh atlet perempuan,” jelas Retno. “Tidak hanya di sepakbola, di olahraga lain juga.”

Memilih masa depan sebagai atlet mungkin tersimpan jauh di luar benak dari orang-orang. Hal ini juga yang dirasakan oleh Devi Mahardika (24) yang pernah bergabung bersama tim bola voli di Kota Bandung saat masih duduk di bangku SMP.

“Waktu itu statusnya bukan sebagai pemain utama sih, karena baru awal-awal berlatih. Tapi, itu tidak lama hanya sekitar delapan bulan. Setelahnya tak berlatih lagi karena pindah rumah,” jelas perempuan yang kini bekerja di I-Channel, televisi lokal Bandung.

Devi menjelaskan kalau ayahnya bahkan mendukung dirinya untuk menjadi atlet. Apalagi beberapa temannya juga ikut bergabung. Namun, seiring bertambahnya usia, keinginan Devi untuk menjadi atletpun kian memudar.

“Sebagai atlet saya dituntut untuk disiplin dan itu bukan masalah buat saya karena dari SMP saya sudah bergabung dengan Paskibra. Selain voli, saya juga sempat ditawari sebagai atlet lari. Namun, entah mengapa, makin ke sini jadi tidak tertarik,” ungkapnya.

Devi pun akhirnya memutuskan untuk menjalani kehidupan sebagaimana “pada umumnya” dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, untuk bekerja di tempat yang “pada umumnya” pula.

Seperti yang dijelaskan Retno, ada mereka yang ingin menjadi atlet, tapi tak mendapat restu dari orang tua. Di sisi lain, ada pula yang seperti Devi yang mendapatkan dukungan serta kebebasan, tapi lebih memilih untuk menjadi perempuan dengan “kehidupan normal”.

Mungkinkah karena Devi merasa kalau profesi atlet masih belum mendapatkan penghargaan yang layak? Bisa jadi.

Sepakbola sebagai Bisnis
Soal sepakbola yang bergerak ke arah industrialisasi memang menghadirkan pro dan kontra. Ada yang tak ingin kalau sepakbola dibawa kelewat modern dan menghilangkan ciri awal dari pertandingan itu sendiri. Di sisi lain, banyak pula yang menganggap kalau industrialisasi sepakbola diperlukan karena memiliki pengaruh yang luas di masyarakat.

Di Eropa, utamanya di Inggris, sepakbola tidak sekadar dijadikan media untuk alat politik atau mencari kekuasaan. Sepakbola juga digunakan untuk mencari uang. Ini yang membuat banyak kesebelasan di Inggris yang mengelola klub dengan amat rasional. Mereka tidak akan membeli pemain mahal kalau tak punya uang untuk mendatangkan dan menggajinya. Mereka tak akan menghamburkan uang kalau hasilnya tak setimpal.

Kesebelasan di Premier League Inggris beruntung karena pendapatan musiman mereka minimal mencapai 80 juta pound, hanya dari pendapatan hak siar. Angka ini amatlah mencukupi untuk sekadar membiayai operasional klub. Besarnya pendapatan ini umumnya dialihkan untuk menggerakkan bisnis yang lain, mulai dari investasi lewat akademi, pembangunan stadion, hingga melakukan ekspansi ke negara dunia ketiga.

“Kalau tidak salah pada 2012 atau 2013 lalu, Presiden Real Madrid Florentino Perez sempat memberi alasan mengapa El Real tidak memiliki kesebelasan perempuan. Perez menyatakan kalau sepakbola perempuan tidak menjual. Artinya, tidak bisa dijadikan sebagai alat marketing,” jelas penulis FourFourTwo, Zakky BM.

Untungnya, sistem kepemilikan klub di Madrid juga melibatkan suporter atau “socios”. Pada 2014 silam ada socis (anggota Socios) perempuan yang menuntut Perez untuk membentuk tim perempuan, meski saat ini belum jelas bagaimana kelanjutannya. Namun, pembentukan tim perempuan Real Madrid masih mungkin terjadi, meskipun–seperti yang diucapkan Perez–tidak akan menguntungkan klub.

Olahraga untuk Semua
Di Spanyol, umumnya kesebelasan memiliki tim olahraga lain. Madrid, misalnya, punya tim basket yang diakui di Eropa. Barcelona, punya tim hoki yang juga sama kuatnya dengan tim sepakbola.

“Di Barcelona itu ada slogan ‘Sports for all’. Niat awal dari pembentukan klub ini adalah menjadi media bagi masyarakat untuk berolahraga. Artinya, semua usia, laki-laki ataupun perempuan, berhak untuk berolahraga. Ini juga yang menjadi alasan kenapa Barcelona punya tim perempuan,” kata Zakky.

Di Inggris, kemauan masyarakat untuk berolahraga diperhatikan betul. Pemerintah memiliki indikator khusus di mana jangan sampai tingkat partisipasi olahraga masyarakat turun. Pasalnya, hal ini bisa berpengaruh pada dua hal: masyarakat yang tak berolahraga berpeluang didera penyakit dan prestasi Inggris mungkin saja menurun di Olimpiade.

Kualitas Permainan dan Siaran
Zakky mulai menyaksikan pertandingan sepakbola perempuan sejak 2012 akhir. Awalnya ia penasaran soal kesebelasan yang didukungnya, Barcelona. Sampai akhirnya, Zakky mulai menemukan gairahnya di sepakbola perempuan.

“Pertandingan sepakbola perempuan di Eropa itu menghapus stigma yang ada di benak saya. Banyak orang yang sekadar terkesan secara fisik. Padahal, kualitas permainan mereka pun menurut saya berkualitas dan layak untuk disaksikan,” tegas Zakky.
Pria yang baru menyelesaikan program magisternya di Universitas Pendidikan Indonesia ini mengaku beruntung karena Barcelona memberinya kemudahan dalam menyaksikan pertandingan.

Berbeda dengan sepakbola pria, sepakbola perempuan masih butuh promosi agar orang-orang mau menyaksikan. Salah satu caranya adalah dengan memudahkan penonton mengakses siaran pertandingan.

Salah satu contohnya adalah pertandingan Liga Champions Perempuan musim ini yang disiarkan langsung lewat Youtube. Tentu ini berbeda dengan pertandingan sepakbola pria di mana penonton harus membayar untuk berlangganan saluran yang menayangkan.

“Tentu saya harus streaming karena di tv lokal kan tidak ada. Jangankan siaran, beritanya pun kadang hilang dari berita-berita di media kita. Kalaupun ada, judulnya paling ’10 pesepakbola tercantik’ dan sebagainyalah,” ucap Zakky. “Untungnya Barcelona kerap memberikan link streaming baik via Youtube ataupun Facebook.”

Proses Meniru
Piala Eropa 2000 adalah mimpi buruk buat Jerman yang terlena dengan kehebatan mereka di 1980-an. Dalam kompetisi yang dihelat di Belanda-Belgia tersebut, Jerman terjerembap di dasar klasemen. Mereka hanya mengantongi satu poin dan satu gol.

Hal tersebut membuat Jerman berbenah. Belasan ribu pemain berusia 11-14 tahun dikumpulkan untuk mendapatkan pelatihan. Para pemain ini diproyeksikan untuk mengisi skuat tim Bundesliga yang terlalu nyaman dengan pemain impor. Waktu itu, kesebelasan di Bundesliga menganggap kalau para pemain muda belum siap untuk mengarungi kompetisi yang ketat. Padahal, klub sendiri yang tidak membina pemain mudanya dengan baik.

Di sepakbola perempuan, nama Jerman pun tak bisa dilepaskan dalam hal pembinaan. Sama seperti tim sepakbola prianya, pembinaan di Jerman juga terbilang baik. Apalagi Jerman mengemas liga sepakbola perempuan dengan tepat yang menjadikannya sebagai salah satu yang paling kompetitif di dunia.

Kesebelasan negara Jerman sendiri sudah dua kali merebut gelar juara di Piala Dunia. Sementara di Eropa, Jerman meraihnya sebanyak delapan kali dari 11 kali penyelenggaraan! Sejak 1995 tidak pernah ada juara baru di Eropa selain Jerman.
Selain Jerman, tentu tak afdal kalau tidak bicara soal Amerika Serikat yang telah tiga kali menjuarai Piala Dunia. Berbeda dengan Jerman, pembinaan di Amerika Serikat mengikuti kultur olahraga yang ada di sana.

“Pembinaan di Jerman itu berjenjang mulai dari U-11, U-13, U-15, U-17, U-21, sampai tim senior. Kalau di Amerika Serikat, pembinaanya lewat sistem draft, mirip dengan yang biasa digunakan di NBA atau NFL,” jelas Zakky.

Sepakbola Perempuan di Masa Depan
Federasi memegang peranan penting dalam keberhasilan sebuah kesebelasan negara. Prestasi jelas tak bisa diraih dengan instan, melainkan lewat pembinaan.

PSSI kini memulai reformasi. Di bawah komando Letnan Jenderal Edi Rahmayadi, harapan pun terkembang.

“Kalau dilihat sih sudah mulai ada perkembangan dengan hadirnya kompetisi-kompetisi kecil. Maret lalu ada Piala Putri Nusantara Jepara. Lalu, timnas putri U-15 sudah mulai mengikuti Piala AFF (Kompetisi antarnegara ASEAN). Mudah-mudahan awal dari perkembangan sepakbola bisa dimulai dari sini,” harap Retno.

Perhatian yang luas juga menjadi harapan Retno agar sepakbola perempuan bisa terekspose. Ia mencontohkan bagaimana Liga Sepakbola Perempuan di Spanyol sampai disiarkan di televisi setiap pekannya. Belum lagi pertandingan Liga Champions Perempuan yang juga disiarkan dan dipermudah aksesnya.

Memiliki cita-cita sebagai pesepakbola di masa lalu mungkin dianggap sebagai lelucon. Kini, menjadi pesepakbola pro bisa jadi memiliki prestise tersendiri di masyarakat ataupun di mata mertua. Bagi perempuan, menjadi pesepakbola profesional agaknya masih jauh dari harapan. Trennya saat ini pun para perempuan yang berkompetisi di Eropa masih berstatus semi-pro. Artinya, ia tidak mencurahkan sepenuhnya pekerjaannya sebagai pesepakbola. Retno mencontohkan Tabea Kemme, pemain serba bisa dari Turbine Postdam, yang juga berstatus sebagai anggota kepolisian.

Satu hal yang disorot oleh Retno adalah bagaimana klub ataupun federasi memberikan perhatian yang besar untuk tim sepakbola perempuan mereka. “Lyon, Paris Saint-Germain, Manchester City, Wolfsburg, dan Bayern Munich adalah contoh tim sepakbola perempuan yang jor-joran dalam belanja pemain. Kalau yang sejalan dengan tim prianya saya lihat Manchester City paling gila dalam urusan tersebut,” jelas Retno.

Secara federasi, Retno menyebut Jerman dan Amerika Serikat sebagai salah satu yang terbaik dalam hal pembinaan. Jerman bisa membina pemain muda pria dan perempuan sama hebatnya, sementara di Amerika, karena mengikuti sistem pembinaan olahraga lainnya, para pemain lebih banyak menghabiskan masa muda di sekolah dan universitas.

Di bawah PSSI yang baru, Retno berharap agar pembinaan juga bisa tetap jalan. Dalam hal ini tim semestinya tak hanya dipersiapkan hanya saat ada kompetisi. Saat jeda internasional pun mestinya bisa dijadwalkan untuk latih tanding dengan kesebelasan negara lain untuk mengukur kemampuan tim.

“Untuk masa depan sepakbola perempuan di Indonesia, saya ingin kita bisa segera punya kompetisi (rutin) atau liga lagi,” ucap Retno.

Zakky pun senada. Dia menginginkan agar pembinaan dilakukan secara berjenjang, meskipun kelihatannya akan sulit. Pasalnya, tim sepakbola prianya saja masih terkesan belum rapi dalam hal pembinaan.

“Inginnya, pembinaan itu mulai dari U-11, U-13, U-15, U-18, sampai U-21. Dibuat berjenjang agar tidak ada kekosongan di kelompok umur. Intinya kompetisi reguler saja dulu dijalankan, karena dari situ bakal memunculkan talenta baru dan pengalaman bertanding pula,” jelas Zakky.

“We are buliding a structure for the future, not just a team of all stars.” Kutipan ini diucapkan pemilik Manchester City, Sheikh Mansour, pada September 2008, yang dicetak dan ditempel besar-besar di dinding kantor baru Manchester City.

Dua tahun lalu, mungkin banyak yang berkerut melihat bagaimana City begitu bernafsu membuat sebuah kawasan untuk pembinaan tim. Mereka membangun di tanah seluas 80 hektare di mana ada 16 lapangan standar, satu lapangan indoor, dan satu stadion mini.

City sadar kalau uang mereka mungkin tak akan habis guna membeli pemain-pemain mahal. Namun, tetap saja akan ada satu hal yang mungkin hilang: kebanggaan.
Lantas, menjadi wajar kalau investasi terbaik itu ada di yang namanya “pembinaan”.

Komentar anda