Membangun Politik Beradab, Bukan Biadab

403
Dua pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno usai Debat Publik Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (12/4). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Pertarungan Pemilihan Presiden Amerika Serikat sekitar satu windu lalu (2008) menorehkan satu catatan politik penting yang patut dikenang. Kala itu tengah terjadi pertarungan besar para bintang (star wars) antara Barrack Hussain Obama dengan John McCain. Konon, bahkan beberapa kalangan menyebutkan inilah pertarungan antara figur politisi berkarakter dewa-dewa Yunani.

Obama politisi muda, berlatar belakang akademik mumpuni dan memiliki jejak langkah panjang sebagai pejuang hak-hak kewargaan, adalah representasi dari suara perubahan bagi kaum demokrat dan suara-suara kaum marjinal di AS. Kemunculan Obama kali itu ibarat Hercules yang menantang kaum mapan para dewa di Istana Gedung Putih.

Sementara John McCain, politisi senior, veteran Perang Vietnam yang dalam tugasnya pernah ditangkap oleh gerilyawan Vietcong, dan muncul sebagai politisi yang menegakkan nilai-nilai konservatisme AS. Dalam epos para dewa Yunani mungkin tepat apabila digambarkan bahwa McCain kala itu adalah sosok Zeus di kalangan Partai Republik.

Bukan soal adu strategi kampanye yang menarik untuk diperbincangkan di sini. Satu pelajaran politik penting dari situ itu adalah ketika John McCain menyadari bahwa pertarungan politik dalam pilpres yang berlangsung sudah berjalan tidak sehat dan melibatkan sentimen kebencian berbalut ras dan agama (Arab dan Muslim), karena provokasi dan kampanye agresif dari pasangannya sendiri, yakni Sarah Palin (kandidat Wakil Presiden). Ketika itu McCain sejenak mengambil jarak dan memikirkan ulang strategi yang telah ia lakukan.

Apakah McCain melanjutkan langgam kampanye yang menebarkan kebencian untuk meraih kemenangan? Tidak! McCain memutuskan menghentikan kampanye bernuansa kebencian dengan menegur konstituennya ketika pendukungnya itu mengutarakan bahwa ia membenci Obama karena Obama sebenarnya adalah orang Arab; karena dia Arab, maka dia Islam, dan karena dia Islam, maka ia mendukung terorisme (Demikian persepsi para konstituen kelompok ultra kanan di AS mendefinisikan kalangan Arab dan Islam).

Tanpa diduga, mendengar respons pendukungnya seorang ibu tua berkulit putih, McCain menjawab, “Tidak ibu, Obama bukan Arab, bukan pula teroris. Kita tidak perlu menebarkan kebencian seperti itu. Dia adalah warga negara Amerika Serikat yang baik dan memiliki perbedaan konsepsi dengan saya. Dan itulah mengapa kami berkompetisi dalam pilpres kali ini.”

Banyak kemungkinan motif di balik mengapa John McCain mengambil langkah politik yang tidak lazim seperti itu. Dari sudut pandang realisme politik, bisa jadi langkah itu dilakukan untuk mengambil hati para pemilih moderat AS yang menolak stigmatisasi ras dan agama. Demikian pula tidak tertutup kemungkinan bahwa pilihan itu diambil untuk menjaga keadaban politik AS dari ancaman semakin meruncingnya benturan antar-identitas.

Apa pun motif politiknya, dengan menegur konstituennya untuk tidak terjebak dalam arus benturan politik kebencian berbalut sentimen ras maupun agama, McCain saat itu telah menyelamatkan negerinya dari pendalaman sentimen rasisme maupun kebencian terhadap kaum imigran sebagai buah dari langkah politik yang ia jalankan.

Pada tahun 2008, figur Obama memiliki daya tarik luar biasa. Di tengah krisis AS yang menerpa masyarakat dan kebutuhan mengembalikan wibawa negara ketika pemerintah tidak mampu menyelesaikan persoalan sosial yang ada, Obama sebagai orator ulung hadir membawa jargon Change and Hope, Perubahan dan Harapan. Dalam kondisi demikian (baca: dalam pertarungan kampanye politik) sedikit alternatif yang bisa diambil untuk menggerus suara rival politik yang memiliki wibawa dan kapasitas yang bersinar adalah mencari kelemahannya atau memainkan sentimen-sentimen kultural.

Kebetulan banyak hal dalam diri Obama yang berpeluang untuk diserang. Masa kecil Obama yang tinggal di negara berpenduduk Muslim terbesar (Indonesia), memiliki kedekatan dengan aktivis dan mewarisi politik kaum progresif seperti Saul Alinsky yang rentan dengan stigma komunis, dan bernama kearab-araban [Husein], yang mirip dengan nama musuh politik negara AS, yakni Saddam Hussein. Apabila McCain memainkan kartu sentimen kebencian kultural secara piawai mungkin sejarah AS akan menorehkan kisah yang berbeda.

Politik Kebencian
Lain John McCain, lain pula Donald Trump. Sebagai saudagar kaya yang maju dalam Pilpres Amerika pada tahun 2016 dengan tantangan terhadap kaum elite mapan, Trump menjanjikan kembalinya kejayaan Amerika Serikat. Berbeda dengan tagline “Hope and Change” dari Obama, Trump membangun narasi kejayaan Amerika dengan menggeret kaum imigran Muslim, Arab, dan Timur Tengah serta kalangan Amerika Latin sebagai kambing hitam ke dalam altar pengorbanan untuk menyatukan kaum kulit putih AS di bawah retorika politiknya.

Dalam kondisi ketika AS masih dihantui oleh krisis global, Trump mengeksploitasi hoax (kabar bohong) dan memanfaatkan koalisi besar pengusung kebencian dari kelompok anti-Muslim seperti Stop Islamization of America (SIOA), kaum neofasis yang mengusung nasionalisme kulit putih seperti Alt-Right, dan kelompok populisme sayap kanan Tea Party untuk melawan Hillary Clinton yang menjadi lambang kemapanan.

Hasilnya, ia sukses terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat dengan efek sosial yang besar: modal sosial Amerika Serikat hancur dan beragam kelompok minoritas hidup di bawah ancaman keberpihakan negara terhadap kaum rasis dan intoleran.

Yang baru saja terjadi di AS tahun lalu semestinya menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita. Bahwa politisasi rumah ibadah dengan penebaran sentimen kebencian dan pembelahan Muslim dan kafir, pribumi dan non-pribumi bukanlah semata-mata manifestasi politik agama. Yang terjadi dan tengah kita saksikan saat ini adalah penyebaran politik kebencian dengan menggunakan sentimen agama dan rasialisme sebagai senjatanya.

Mari kita menengok pada turbulensi politik yang dihadapi di banyak negara di dunia. Bahwa penebaran kebencian dengan peluru agama, ras, maupun perseteruan golongan telah menghancurkan jangkar sosial di mana-mana. Tidak saja di negeri seperti Irak dan Syria, tapi juga di negeri dengan sejarah demokrasi yang panjang seperti AS maupun negara-negara Eropa.

Di atas semua itu sesungguhnya bukan kepentingan rakyat beserta atribut identitas-identitas kultural itulah yang tengah diperjuangkan dalam sirkuit politik yang penuh kebencian dan kebiadaban ini. Kaum elite predator oligarki yang memanipulasi kebencian kultural inilah yang tengah merenggut iman dan keyakinan dari kaum miskin dan papa untuk kemakmuran dan kekuasaan mereka sendiri.

Lalu, dari manakah jalan untuk membangun politik beradab di tengah bangkitnya politik kebencian? Jalan itu bukan terletak pada kehendak para elite politik maupun kelas dominan. Jalan itu terletak pada hikmah kebijaksanaan dari kita seluruh rakyat untuk mempertimbangkan setiap pilihan dan langkah politik bagi keutuhan negara dan tatanan politik kita.

Komentar anda