Membangkitkan Minke di 11 Tahun Kematian Pram

955

Pramoedya Ananta Toer [tribunnews.com]
Karya jurnalistik kita, hampir semua, membosankan. Semua ceritanya jauh dari kisah tentang kehidupan bebas. Isinya hanya tentang manusia korup sudah sejak dunia pikirannya. Para pengabdi kegoblokan pemuja sentimen Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA) dibuatnya tenar. Kriminalitas dan pengingkaran pada nilai kemanusiaan direkanya menjadi hal biasa. Seakan tak ada hidup yang lebih cemerlang di atas bumi nusantara ini.

Apalagi jika mengingat bahwa hampir semua media itu dikuasai oleh pengusaha menyambi politisi. Jelas saja loyalitas jurnalisme pada masyarakat terkhianati. Mereka akhirnya memilih berzinah dengan kepentingan modal. Alih-alih sebagai pilar penjaga demokrasi, media punya pengusaha malah melubanginya seperti rayap kesetanan. Mereka secara konsisten menghina kenyataan dengan mengingkari realitas. Akhirnya, bumiku, bumi manusia ini, kehilangan segala kepastiannya.

Setiap penerbitan tentu mewakili suatu kekuatan tertentu. Bahkan, hampir tak ada koran netral di negeri mana pun. Keberpihakan jadi kata kunci isi pemberitaan. Apakah dia berseru-seru pada perikemanusiaan atau sekadar pemuasan ambisi pribadi dan oligarki belaka.

Si Minke, Anak Modernitas
“Aku tak menyukai patriark, siapa pun orangnya.” Kalimat ini meluncur dari mulut seorang pemuda bernama Minke. Padahal, orang yang dimaksud adalah ayahnya sendiri.

Minke adalah aktor utama dalam novel tetralogi “Buru” goresan tinta Pramoedya Ananta Toer. Sosoknya cerminan manusia modern zaman itu. Manusia yang memilih untuk mempercayai akal, ilmu pengetahuan, dan segala kepastian-kepastian yang bisa dipegang. Rahim revolusi Prancis membentuknya jadi pemuja kemerdekaan, kesetaraan, dan persaudaraan. “Setiap hak yang berlebihan adalah penindasan.” kira-kira begitulah kredonya seturut catatannya di Jejak Langkah.

Siapakah Minke? Dalam empat adikaryanya, Pram tak pernah menyebut nama aslinya. “Bukan karena gila misteri,” kata Pram dalam Bumi Manusia, “belum perlu benar tampilkan diri di hadapan orang lain.”

Satu hal yang pasti, dia datang dari keluarga ningrat. Gelar Raden Mas bertengger di depan namanya. Ayahnya mantri pengairan di kota T., sebelum akhirnya naik jabatan jadi Bupati di kota B. Bapaknya merupakan cerminan seorang protokoler feodal. Dia mengharuskan anaknya merangkak kalau bertemu dengannya.

Hatinya sering meraung memaki ayahnya. Dia mengatainya sebagai raja Jawa kecil yang tak tahu bagaimana ilmu pengetahuan telah membuka babak baru di bumi manusia. Priyayi dan seluruh jajarannya, bagi Minke, adalah manusia kerdil yang cuma haus derajat dan kedudukan. “Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dan segala persoalannya.” Suara nuraninya meronta di hadapan kepongahan ayahnya.

Minke adalah laki-laki yang selalu dibuntingi oleh ketegangan intensif. Sebuah konsekuensi ketika duniamu berkelindan di kisaran cinta dan keadilan. Annelies, cinta pertamanya, mengajarkan kepadanya betapa jahatnya hukum. Hukum kolonial yang memaksa mereka berpisah untuk selama-lamanya. Apalagi zaman ketika deretan protozoa yang bernama modal kolonial sebagai raja, keadilan jelas hanya fatamorgana.

Pejuang Bersenjata Pena
Nyai Ontosoroh, bisa dikata, adalah arsitektur dalam membangun fondasi kehidupan dan perjuangan Minke. Dia yang selalu memompa semangat Minke agar tetap menulis. “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis.” Begitulah Pram merekamnya dalam Anak Semua Bangsa. Menulis, bagi Nyai, kelak akan menjadi senjata yang bisa merontokkan kekuatan Belanda.

“Tulisanmu ini begitu lunak, seperti tulisan gadis pingitan.” Perempuan paruh baya ini sekali waktu tak segan mengkritik karya Minke.

Dari semua kritik dan dorongan Nyai Ontosoroh, ada satu pesan yang nantinya mengubah seluruh perjalanan hidupnya. “Tidak, engkau sudah berbentuk. Kekuranganmu hanya satu. Kau belum mengenal yang kolonial. Kau masih harus belajar mengenal,” begitu Nyai menasihati.

Minke yang tadinya sudah merasa besar sebagai penulis dari kamar, kini dipaksa keluar melihat kenyataan. Lebih-lebih setelah dia bertemu dengan Kommer. Orang yang berani mengatai dia tidak mengenal bangsanya sendiri. Sesuatu yang sulit diterima, sekaligus sukar dibantahnya. Minke yang merasa diri unggul karena lebih banyak membaca, tak berkutik di hadapan Kommer. Secara tak langsung, Minke mengakui kalau dia memang asing dengan bangsanya sendiri.

Minke dipaksanya agar mengenali kesulitan-kesulitan bangsanya. “Sekali tuan menggauli bangsa Tuan sendiri, Tuan akan menemukan sumber tulisan yang takkan kering-keringnya, sumber tulisan abadi,” Kommer menyarani.

Dua wejangan untuk mengenal kolonial dan bangsa sendiri menjadi faktor pembeda Minke dari pengarang di masanya. Sesuatu yang membuat dia akan dipuja sekaligus dihujat. Ciri khas itu, sekarang, kita kenal sebagai: analisis kelas.

Inilah amunisi yang membawa Minke berkenalan dengan Trunodongso. Petani kecil yang tak segan menghunus parangnya jikalau haknya dilanggar. Dia tak mau menyewakan tanahnya pada pabrik gula agar ditanami tebu. Uang sewa tanah yang murah dan tidak dibayar lunas membuat dia enggan menyerahkan tanah warisannya demi kepentingan industri. Akibatnya, saban hari dia diancam, disindir, dan dimaki.

Minke terbelalak melihat kenyataan. Ketidakadilan terjadi tepat di bawah hidungnya. Persoalan yang sama sekali tidak diketahuinya. Parahnya, itu tidak terjadi hanya pada Trunodongso, tapi pada semua petani desa.

“Aku menghargai Pak Trunodongso dan semua yang senasib. Dengan tulisanku aku akan berusaha memperingan penderitaan kalian. Lebih dari itu memang aku tak bisa.” Sebagai penulis, Minke menunjukkan solidaritasnya terhadap mereka yang tertindas. Dia ingin ikut melawan segala bentuk pemasungan terhadap hak manusia. Inilah kali pertama Minke melawan kebiadaban, kecurangan, dan fitnah dengan bersenjatakan pena.

“Kesulitan-kesulitan tidak selamanya bisa diselesaikan dengan parang dan kemarahan,” katanya. Dunia harus tahu bagaimana petani Jawa terusir dari sawahnya!

Semangat berkobar mengantarkan cerita Tronodongso ke meja redaktur surat kabar. Namun apa daya, Tn. Nijman, sang empunya penerbitan, menolak memuat tragedi itu.
Minke memang masih naif, lugu, dan polos. Dia tidak tahu jika investigasi itu diterbitkan akan mengganggu kepentingan pabrik gula. Harga akan jatuh. Itu sama saja mengusik kesenangan para pengusaha dan penguasa. Artinya, membangunkan singa lapar dari tidur nyenyaknya.

Tak puas dengan keadaan itu, dalam tahapan metamorfosa akhir, Minke bertekad mendirikan koran sendiri. Dia akan mengumumkan kejengkelan rakyat ke seluruh penjuru dunia. Dia akan memulai babak baru dimana koran akan memimpin pikiran masyarakat pembacanya. “Ketidaktahuan adalah aib. Membiarkan orang yang ingin tahu tetap dalam ketidaktahuan adalah khianat,” tekadnya mendaras keras. Singkat cerita, lahirlah Medan Prijaji!

Medan bukan koran biasa, ditulis dengan bahasa yang dimengerti rakyat jelata. Dia tidak hanya memberitakan peristiwa. Dalam penilaian, korannya tidak pernah netral. Kata-kata yang dirakitnya akan selalu memihak pada setiap korban kecurangan. Siapa saja pelanggar hak-hak manusia akan ditentangnya habis-habisan. Bingkai aksara berubah bak bedil yang menodong setiap penguasa licik untuk mengembalikan hak rakyat kecil.

Medan jadi tempat pengaduan bagi rakyat yang perasaan keadilannya tersinggung. Hanya kepadanya wong cilik berharap agar dibela. Pangemanann, dengan dua ‘n’, petugas kepolisian dalam Rumah Kaca, menyebut Minke dan korannya sebagai “juru bicara bangsanya”. Inilah surat kabar pertama di Indonesia yang disebut sebagai koran advokasi.

Harapan Jurnalisme Advokasi di Indonesia
Apa yang kurang dari media pemberitaan di Indonesia? Banyak! Kode Etik Jurnalistik sering dikangkangi. Itu disebabkan hampir semua media nasional kita dimiliki oleh pengusaha menyambi politisi. Akibatnya, pemberitaan sering tidak berimbang. Berita layak tayang jika itu menguntungkan boss pemilik media.

Bahkan, mereka tak segan merekayasa berita. Masih jelas di ingatan bagaimana hasil hitung cepat Pemilihan Presiden 2014 silam ditukangi demi kepentingan salah satu pasangan calon. Itu jadi dagelan jurnalistik paling hina dalam sejarah Indonesia.

Salah satu hal penting yang luput dari media kita adalah masalah perimbangan. Dalam kasus petani Kendeng dan konflik agraria lain, misalnya, hampir tidak ada media yang mencoba meliput dari perspektif korban. Suara-suara mereka malah hilang ditelan ingar-bingar suara cempreng buzzer bayaran. Sementara para wartawan sibuk mewawancarai para pejabat aparatus negara yang notabene pasti mewakili kepentingan pemodal.

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 450 konflik agraria sepanjang tahun 2016. Itu menyangkut luasan wilayah 1.265.027 hektare. Kemudian melibatkan 86.745 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Artinya, setiap hari ada orang yang terancam diusir dan digusur dari tanahnya sendiri. Mereka rakyat kecil yang berjuang berdarah-darah di hadapan dominasi kapital. Terdengarkah jeritan mereka di telinga kita?

Dari Minke, dunia jurnalistik kita harus belajar. Keberpihakan kelas dalam pemberitaan haruslah diutamakan. Para wartawan seharusnya lebih sering menemui “Trunodongso” daripada sibuk memeriksa lini masa media sosialnya. Adalah rahasia umum kalau cuitan populer media sosial menjadi sumber “primer” bagi kuli tinta zaman sekarang.

Minke memberi teladan bagaimana kata-kata ternyata bisa mengikis gunung penderitaan rakyat. Dia membuktikan bahwa tulisan bisa memukul dan mengebaskan mendung pikiran yang tertipu para pemilik modal. Dia menunjukkan bahwa pena pun bisa digunakan sebagai senjata dalam melawan ketidakadilan.

30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer berpulang ke pangkuan Tuhan. Kita beruntung karena dari dia kita bisa mengenal sosok Minke: sang pelopor dunia pers advokasi di Indonesia. Lewat tarian pena Pram, kita disuguhi sosok ideal seorang jurnalis. Juru berita, yang seperti kata Marco Kartodikromo, “yang tidak main komedi demi cari enak sendiri.”

Dalam era di mana nafsu-nafsu politik sudah dispiritualkan begitu brutal, tentu saja kita membutuhkan karya jurnalistik yang segar. Kita butuh sesuatu untuk menciptakan kenyataan baru. Seperti kata Pram di Rumah Kaca, “Kalau tak ada orang yang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka kemajuan sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”

Minke setidaknya bisa jadi inspirasi bahwa media jurnalistik mampu berperan sebagai perisai pelindung rakyat yang tertindih oleh rasa ketidakadilan. Betul, pilihan jurnalisme advokasi tentu akan mengundang banyak kesengsaraan pada wartawan. Risiko para juru warta yang berpihak pada korban tentu akan dirundung kuyu kehilangan kegembiraan. Teror dan intimidasi mungkin akan jadi kawan sarapan. Tapi, bukankah ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua?

Pada tahun 1973, Minke dikukuhkan sebagai Bapak Pers Nasional. Kemudian, di tahun 2006 dia mendapat gelar sebagai Pahlawan. Minke yang bernama asli Tirto Adhi Soerjo merupakan batu penjuru dunia jurnalisme Indonesia.

Di tengah percabulan dunia jurnalistik dengan kepentingan politik, figur Minke tampaknya menjadi idaman. Semoga dalam 11 tahun kematian Pram, cita-cita dan impian Minke bisa bangkit kembali. Koran menceritakan hidup yang penuh dengan kebebasan. Portal media daring berlomba menyuarakan jeritan kelas masyarakat tertindas. Karena hanya dengan cara inilah, maka menulis betul-betul sebuah pengabdian pada keabadian.

Baca juga:

92 Tahun Pramoedya: Yang Abadi dan Mengabadikan

Pram, Kata, dan Kuasa

Komentar anda