Janji Saya: Jika Ahok Menang, Jika Anies Menang

917
Ahok – Anies

Kalau saja Rabu hari ini suratan takdir menyatakan bahwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menang, maka dengan kemampuan yang saya miliki (baca: menulis) saya akan mendorong bukti dari permintaan maaf yang telah dia sampaikan terkait dengan kasus-kasus penggusuran yang tidak menimbang efek sosial.

Apabila Anies Baswedan yang menang, maka saya akan mengajak bicara dan menguatkan rekan-rekan non-Muslim ataupun Tionghoa yang berbulan-bulan mendengarkan umpatan kafir dan non-pribumi di hari-hari yang panjang dan melelahkan ini.

Sampai tiga bulan lalu, melalui tulisan-tulisan yang saya buat, saya menulis dan mengkritik Ahok dengan berbagai efek sosial dari program-program pembangunannnya. Dan selanjutnya saya sampai saat ini bersuara sekeras-kerasnya mengoreksi langkah politik Anies-Sandi yang diam dan mengambil keuntungan dari sentimen kebencian dan intoleransi.

Mengapa demikian? Apakah kemudian ini adalah pilihan yang inkonsisten dari pendekatan kritik struktural menuju analisis bernuansa liberal? Tidak!

Saya mencoba berpikir dalam-dalam dan mengingat-ingat segala pengalaman hidup yang telah saya lalui. Akhir tahun lalu saya mendapat rezeki untuk bertandang ke Amerika Serikat; diundang oleh pemerintah di sana untuk meninjau jalannya Pemilihan Presiden 2016. Pilpres AS 2016 antara kaum establishment oligarchy Hillary Clinton melawan kaum borjuasi bisnis Donald Trump.

Trump mengkonsolidasikan kaum ekstrem kanan anti-Muslim (SIOA), fasisme kulit putih (Alt-right), dan populisme konservatif (Tea-party) yang berujung pada kemenangan Trump. Kemenangan suara-suara yang mengusung diskriminasi, kemenangan kaum yang tidak bisa menerima kelompok Muslim, kelompok kulit berwarna, kaum imigran dan berbagai kelompok marjinal lainnya.

Pagi-pagi sekali setelah kemenangan kaum fasis Trump, rekan-rekan kami berbaju muslimah berjalan di luar hotel. Seorang warga AS menghampiri kami dan berkata dia sangat menyesal dengan hasil pilpres tadi malam. “Kalian jangan khawatir, kami akan membela hak-hak Anda di negeri Amerika, meskipun saat ini kami dikuasai oleh kaum ekstrem kanan seperti Donald Trump,” katanya.

Peristiwa-peristiwa tentang kecemasan warga ini berkali-kali saya temukan dalam kunjungan saya ke AS tahun lalu.

Renungan yang ingin saya bagikan dari pengalaman di atas adalah: perjuangan untuk mencapai keadilan sosial di negeri kita, untuk bertahan menantang arus besar kuasa oligarki bisnis-politik, dan untuk melawan penghancuran ruang sosial di hadapan kuasa kapital hanya bisa dibangun dalam gerakan sosial maupun gerakan politik yang inklusif dan memiliki respek terhadap kebhinnekaan.

Langkah politik yang akan kita tempuh tidak akan menjadi lebih maju, bahkan akan berjalan mundur ke belakang, ketika kita memperjuangkan hak-hak orang miskin, sementara di hadapan kita, kita menyaksikan saudara-saudara kita sesama bangsa Indonesia dicela dengan istilah kafir maupun non-pribumi.

Celaan tersebut datang dari mereka yang menjadi bagian dari mereka pendukung berkuasa. Kita tidak bisa memperjuangkan keadilan dalam suasana sosial yang penuh diskriminasi. Ibarat air dan minyak; keadilan tidak dapat bertemu dengan diskriminasi. Namun perjuangan mencapai keadilan sosial akan terbantu pengkondisiannya dalam lingkungan sosial yang terbuka dan menghormati kebhinnekaan!

Bagi mereka yang menyatakan hal ini biasa-biasa saja, setelah pilkada berlalu semua akan baik-baik saja. Saudaraku, realitas masyarakat bukan remote control yang mudah dibalik-balikkan. Sekali pintu pembelahan dan kebencian telah dibuka oleh langkah politik, maka membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkan luka-luka itu. Dan kita semua menyaksikan siapa-siapa saja yang saat ini bertanggung jawab membukanya!

Merdeka!!!

Komentar anda